Get me outta here!

Kamis, 26 Juni 2014

Habibie, Tak Boleh Kenal Lelah dan Kalah!

"Habibie, Tak Boleh Kenal Lelah dan Kalah!", kalian-kalian juga yah

Saya adalah satu dari sekian banyak penggemar berat Pak Habibie. Kharismanya, kecerdasannya, kesetiaannya, dan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya bikin melting para wanita yang mengenal beliau. Termasuk kamu-kamu sekalian kan. Ngaku aja deh ;p
Sudah banyak buku yang mengulas tuntas seorang Bacharuddin Jusuf Habibie, baik mengenai kehidupannya maupun jejak pemikirannya. Salah satunya adalah buku yang berjudul “Habibie, Tak Boleh Kenal Lelah dan Kalah” karangan Fachmy Casofa. Awalnya saya berniat untuk membeli buku ini sendiri, tetapi berhubung ada seorang teman yang berbaik hati untuk meminjamkan, jadilah anggarannya dialihkan buat beli yang lain saja. Maklum, mahasiswa. Hehee~
Di dalam buku ini sebenarnya tidak banyak diulas mengenai kehidupan pribadi Habibie. Kehidupan Habibie hanya diceritakan secara garis besar saja. Sebagian besar isi buku menampilkan koleksi foto Habibie dan keluarganya, mulai dari Habibie kecil, remaja, hingga pada saat menjabat sebagai presiden. Selain itu yang menarik adalah buku ini dilengkapi dengan 50 gagasan brilian dari Habibie yang diperuntukkan bagi generasi muda Indonesia. Iya, kalian-kalian yang entah sadar atau tidak, adalahanak muda yang kelak dipercaya memegang tongkat estafet perjuangannya. Penerus bangsa dengan segala ide kreatifnya, dengan segala gagasan cerdasnya, dengan segala daya juangnya. untuk Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli pada bangsa sendiri. MERDEKA! *maaf capslock karna kebawa suasana*
BJ Habibie lahir pada 25 Juni 1936 di Pare-Pare, dengan darah campuran Sulawesi-Yogyakarta. Sejak kecil, Habibie sudah menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi terhadap segala hal. Habibie kecil gemar membaca buku-buku yang sarat ilmu untuk menjawab segala pertanyaan yang muncul di kepalanya. Meskipun dari kecil sudah menjadi seorang ‘kutu  buku’, Habibie juga menikmati masa kecilnya dengan bermain layang-layang, kelereng, ataupun berenang. See? Hidup harus tetep balance kan? Hahaha
“Maka, melihat seorang bocah yang sudah gemar membaca buku sarat ilmu padahal teman sebayanya masih berkutat dengan kelereng, tentu kita sudah bisa menebak perbedaan besar apa yang akan terjadi pada mereka kelak. Ah, memanglah sesiapa sejak dini telah bersiap menjadi orang besar, di masa besarnya akan banyak kesempatan baginya untuk membuat perubahan besar!”
Heeem..memang yaa..di mana-mana yang namanya orang besar membangun ‘kebesarannya’ nggak cuma butuh waktu sehari dua hari saja, tapi sejak dari bertahun-tahun lamanya. Berani menjadi beda (dalam konteks hal positif loh ya), bukan cuma biasa tapi luar biasa. Jadi, buat yang masih suka berleha-leha nggak karuan, lakukan perubahan segera selagi masih ada kesempatan *oke, ini saya lagi selftalk*
Masa SMP dan SMA Habibie dihabiskannya di kota Bandung, kota tempat pertama kali beliau mengenal Hasri Ainun Besari. Selepas SMA, Habibie melanjutkan pendidikannya di ITB sesuai dengan cita-citanya sedari kecil yang ingin menjadi insinyur. Namun, baru 6 bulan menempuh pendidikan di sana, beliau melanjutkan kuliahnya ke Aachen, Jerman dengan jurusan Konstruksi Pesawat Terbang. Pada  usia 23 tahun beliau sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan gelar Diplom Ingenieur (S2) dengan predikat nilai magna cumlaude. Usai menamatkan pendidikannya, Habibie lantas bekerja di Jerman. Pada suatu kesempatan, ketika Habibie pulang ke tanah air, takdir mempertemukan beliau kembali dengan Ainun, teman masa SMA yang sempat ditaksirnya. Saat itu Habibie yakin bahwa Ainun adalah jodohnya. After some years, they’ve chosen their own life. Separated by miles to miles, but love always have its  way for coming back. Dia tahu kepada siapa harus berpulang pada waktu yang tepat. Ini yang namanya kalau jodoh nggak ke mana. Hahaha
Hal yang paling membahagiakan perihal cinta yang sebenarnya adalah ketika keyakinan dan kesiapan dipertemukan. Komitmen bukan hanya janji pada kata antara dia dan kamu saja, melainkantak gentarberikrar disaksikan orangtua dan Allah SWT. Bukan hanya bahagia, tapi juga diberkati dengan limpahan penuh pahala. Duuh #jleeeb #bisabangetsayangomongnya #inimasihteori #akurapopo
Setelah menikah, Habibie dan Ainun tinggal di Jerman karena Habibie harus meneruskan kuliah doktoralnya. Setelah cukup lama tinggal di Jerman dan membangun kariernya di sana, Habibie dan keluarganya pulang ke Indonesia, tentunya dengan semangat dan bekal yang sudah disiapkannya untuk membangun tanah air tercinta.
Beberapa dari 50 gagasan brilian Habibie yang cukup ngena di saya, di antaranya :

  1.          “Karakter terbentuk dalam proses pembudayaan yang dibina oleh keluarga pada umumnya, khususnya Ibu. Oleh karena itu, Ibu harus diberi kemampuan dan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dalam membesarkan anak sejak lahir sampai selesai pendidikan sesuai karakter, bakat, dan pembawaannya untuk menjadi terampil, produktif, dan bertanggung jawab” I couldn’t agree more Pak! Saya sepakat. Setiap individu lahir, tumbuh, dan berkembang berawal dari keluarganya. Jadi yang membentuk pribadi anak mau diarahkan ke hal positif atau mau nyasar ke hal negatif adalah keluarga. Sebagai orangtua harus pintar-pintar mendidik anak-anaknya (bukan hanya mengajar saja). Saya percaya, keberhasilan anak adalah buah kerja keras orangtuanya juga yang sudah ‘memolesnya’ sedemikian rupa sehingga menjadi putra putri kebanggan mereka. Ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, dengan apapun profesinya nanti harus mau dan mampu memperkaya diri dengan pengetahuan, dengan pendidikan. You teach a man, you teach a man. You teach a woman, you build a generation.Buat semua ibu dan calon ibu, noted yaa!
  2.     “Apa yang membuat saya begitu mencintai Indonesia, sehingga berani meninggalkan karier di Jerman adalah karena proses pembudayaan yang diberikan oleh orangtua saya dan keyakinan bahwa jikalau bukan “anak bangsa” yang membangun Indonesia sesuai UUD, jangan harapkan orang lain membangunnya!” Nah, ini juga hasil didikan dari keluarga. Sedari kecil Habibie sudah dibesarkan dalam keluarga yang mencintai tanah air mereka. Habibie sadar, potensi yang beliau miliki, perjuangannya menimba ilmu bertahun-tahun hingga negeri seberang, tak lain adalah untuk membangun kembali negara tercintanya.
  3.        “Cita-cita saya sejak kecil ialah menjadi ‘ahli rekayasa bidang teknik’ atau juga dikenal sebagai insinyur. Mengetahui dan memiliki cita-cita sejak dini amat penting, karena dapat menjadi semangat pendorong dan yang mengarahkan pencapaian cita-cita tersebut” Yes. Hidup akan menjadi lebih terarah kalau kita punya tujuan. Mau ke mana kita setelah ini? Lalu jika sudah begini mau apalagi? Dan seterusnya, dan seterusnya. Saya termasuk yang nggak setuju sama filosofi ‘hidup mengalir aja kayak air’ Air kan mengalirnya ke bawah, terus? Hahaha. No offense yaa..tiap orang punya pegangan hidup sendiri-sendiri. Tapi buat saya, dengan adanya tujuan, hidup jadi lebih indah dan bergairah. Hahaha. Walaupun harus jatuh bangun dan kadang takdir Tuhan nggak sesuai sama rencana kita. Selama masih ada kesempatan memperjuangkan, ya kenapa enggak? Kadang langkah kita memang harus terseok-seok dulu, sebelum akhirnya Tuhan berkata ‘iya’ setelah melihat kesungguhan kita.
  4.     “Syarat sebuah Negara untuk menjadi besar, berdikari, dan kukuh, adalah jika dapat mengandalkan pada sumber daya manusia yang merdeka, bebas, bertanggung jawab, terampil, bekerja produktif, berdaya saing besar, dan berbudaya” Jadi, yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah manusianya. Kalau berdasarkan kuliah-kuliah nih yaa..negara kita ini merupakan system yang terdiri dari komponen-komponen yang saling beraksi dan berinteraksi di dalamnya untuk mencapai tujuan bersama. Komponennya adalah manusia-manusia Indonesia itu sendiri. Untuk pencapaian yang luar biasa, bergantung pada bagaimana komponen-komponen di dalamnya. Kalau kualitas masing-masing individu menjadi lebih baik lagi, kemudian saling bersinergi, yang terjadi adalah...saya jadi inget kalimat yang dikatakan dosen pada sebuah kuliah, “The whole is more than sum of the parts –Aristotle.”Pencapaian yang dihasilkan dari sinergi ini tidak hanya sekadar ‘akibat’ penjumlahan dari masing-masing komponennya, tapi lebih dari itu. Bangun manusia-manusianya, maka hasilnya adalah Indonesia yang luar biasa :) Sayangnya, menurut Habibie, Indonesia justru mengandalkan pada kekayaan sumber daya alam bukan pada kemampuan sumber daya manusia. Padahal alam akan habis dieksplorasi pada masanya. Sedangkan manusia? Kita dianugrahi Tuhan dengan akal dan pikiran yang takkan pernah habis untuk dieksplor terus menerus.
Indonesia,  you have to find somebody else like Bacharuddin Jusuf Habibie and I’m sure, there are many ‘Habibie-Habibie’ who always keep studying, trying, praying, and fightingfor their better country.They convinced me that you’ll be great someday. Oh no, I mean you’ll be greater soon.  Mari bersama-sama membanggakan Indonesia dengan jalan dan cara masing-masingdi bidangnya. Salam inspirasi dan sukses selalu :)

Yogyakarta, 25 Juni 2014
ditulis pada ulangtahun Habibie yang ke-78
Selamat ulangtahun Bapak kebanggan Indonesia :)
Keep spirit, keep inspiring. Semoga tekad dan semangat juang yang tinggi, mengalir juga pada kami, penerus bumi pertiwi.

Selasa, 06 Mei 2014

Pejuang yang dilahirkan Ibu kita, tentang Anies Baswedan



Melunasi Janji Kemerdekaan

 Awalnya saya merasa nasionalisme itu hanya ada di dalam televisi atau di dalam cerita buku sejarah saja. Tetapi ternyata tidak, ketika saya membaca biografi Anies Baswedan, “Melunasi Janji Kemerdekaan”. Saya merinding, darah nasionalisme saya mendadak seakan bergejolak. Ini bukannya berlebihan. Tapi nyatanya semangat memerdekakan Indonesia seutuhnya dari Pak Anies menjadi benar-benar dirasakan.
Buku ini sebenarnya sudah lama ingin saya beli. Sayangnya mungkin karena keinginan yang “kurang sungguh-sungguh” saya tidak secara khusus menyempatkan waktu ke toko buku untuk membelinya. Akhirnya, kunjungan nggak sengaja malam itu ke Toga Mas membuat saya tanpa pikir panjang langsung membawa pulang buku karya Muhammad Husnil ini, tentunya dengan membayarnya terlebih dahulu ke kasir. Hehe. Buku seharga Rp. 60.000 dengan diskon 15%, harganya tak seberapalah dengan segala yang saya dapat setelah membacanya.
Saya kagum dengan pak Anies, sama kagumnya saya akan kecerdasan Pak Habibie atau ke-charming-an Pak Gita Wirjawan *ehh. Saya pertama kali mendengar nama Anies Baswedan sekitar awal tahun 2012 pada saat masih menjadi mahasiswa tingkat akhir di Semarang *mungkin bisa dibilang telat juga ya. Tapi tak apa daripada tak tahu dan tak mau tahu sama sekali* Saya hanya mengetahui beliau sebagai seorang rektor Universitas Paramadina dan penggagas Gerakan Indonesia Mengajar yang sedang booming-boomingnya. Tapi pada saat itu entah mungkin belum terlalu terlalu tertarik atau karena masih sibuk dengan skripsi, saya tidak benar-benar mencari tahu siapa beliau. Baru pada pertengahan tahun 2013, rasa penasaran saya yang cukup tinggi mengantarkan saya pada jawaban dari pertanyaan kenapa Anies Baswedan menjadi sangat popular terutama di kalangan muda. Entah benar atau tidak, tapi setahu saya di Indonesia baru Anies Baswedan yang mampu menggerakkan hati kalangan muda-mudi di Indonesia yang identik dengan skeptis dan apatis terhadap negaranya menjadi bersedia untuk turun tangan, tidak sekadar urun angan. Melalui Gerakan Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi, maupun Indonesia Menyala, Pak Anies berhasil merangkul dan meyakinkan generasi muda Indonesia untuk berpartisipasi melakukan suatu kehormatan bukan pengorbanan dalam membangun bangsanya. Menurutnya, lebih baik menyalakan lilin daripada hanya sekadar mengutuk kegelapan.
Buku ini menceritakan kehidupan Anies Baswedan, dari kecil hingga kini dengan narasumber keluarga dan teman dekat pak Anies, selain Anies Baswedan sendiri tentunya. Anies Baswedan sedari kecil sudah terlihat memiliki bibit-bibit kepemimpinan dan menurut saya, beliau sudah terlihat akan menjadi seorang yang luar biasa suatu hari nanti. Beliau menghabiskan masa kecil dan mengenyam pendidikan hingga S1 di Yogyakarta. Semasa kanak-kanak, sekolah hingga kuliah, beliau cukup aktif dan menonjol di antara teman-temannya. Walaupun  bukan merupakan murid terpintar di sekolah, bahkan sempat gagal masuk ke SMA idamannya karena NEMnya tidak mencukupi, tapi prestasi yang berhasil diraih beliau cukup luar biasa. Kemampuan berorganisasinya jangan ditanya lagi. Ketika SMP dan SMA beliau aktif di OSIS sekolah, sempat pula pada saat SMA menjalani pertukaran pelajar selama satu tahun di Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh AFS. Pada saat kelas 3 SMA Anies Baswedan juga bergabung di TVRI Yogyakarta, dalam acara Tanah Merdeka. Sedangkan masa kuliahnya pun diisi dengan aktif pada organisasi kemahasiswaan di kampusnya, Universitas Gadjah Mada. Anies Baswedan menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi. Saya sendiri belum pernah menemui secara nyata sosok mahasiswa dengan kiprah seperti beliau, sebagai aktivis mahasiswa yang cerdas dan berani. Dalam kehidupan saya sebagai mahasiswa, saya sih jauh banget dari situ, hahaha.  Beliau dengan terang-terangan berani mengkritisasi pemerintah, tetapi dengan bahasa yang lugas dan santun, tidak seperti demo bakar-bakaran mahasiswa-mahasiswa urakan yang akhir-akhir ini sering saya tonton di TV. Pliiiss ya kalian teman-teman mahasiswa, kalau kalian nggak bisa ikut memecahkan masalah setidaknya kalian jangan nambah-nambahin masalah dengan menyusahkan orang-orang yang nggak bersalah.
Anies Baswedan tidak hanya mengkritisasi, tetapi juga mampu menawarkan ide-ide solutif yang cerdas serta yang paling penting realisasinya gaeeess!! Salut! Selain dengan seabrek aktivitasnya di luar sekadar kuliah saja, beliau juga berhasil mendapatkan beasiswa Japan Airlines (JAL) Foundation melalui memenangkan kompetisi esai mengenai Lingkungan dan Pembangunan. Selama menjalani kuliah master dan doktoral di Amerika Serikat-pun Anies Baswedan masih sering memantau perkembangan tanah air melalui teman-temannya dan sesekali mengirimkan tulisannya ke beberapa surat kabar Indonesia. Untuk menambah peghasilan selama hidup di negeri orang karena tak bisa sepenuhnya menggantungkan diri pada beasiswa, beliau pun tak segan bekerja sebagai asisten peneliti laboratorium yang bertugas membersihkan tempat ulat yang diteliti setiap harinya. Fiuuh...padahal mungkin kalau Pak Anies memutuskan bekerja, bukan melanjutkan kuliahnya, penghasilan yang didapatkan pasti cukup besar. Tidak perlu berhemat dan mengencangkan ikat pinggang. Tapi begitulah..demi belajar, nggak ada lagi yang namanya berorientasi materi.
Pak Anies..balanced banget sih pak hidupnya..kasih saya tipsnya dong pak ;) Kata beliau, “IPK tinggi hanya mengantarkan sesorang sampai wawancara kerja, kepempimpinan dan karakterlah yang mengantarkannya ke gerbang kesuksesan” Setuju pak!! Intelektual itu penting, tapi sikap lebih penting!
Satu hal yang paling-paling bikin saya nggak bisa nggak setuju alias saya merasa sepemikiran banget sama beliau adalah tentang kriteria Pak Anies dalam hal pekerjaan, yaitu memungkinkan secara intelektual tumbuh, bisa menjalankan tanggungjawab sebagai ayah dan suami dengan baik, serta mampu meberi pengaruh sosial yang baik kepada lingkungannya. Duuh pak, saya setuju bangeeet, itu bener-bener merangkum cita-cita saya bangeeet pak, tentunya dengan mengubah kata suami dan ayah menjadi istri dan ibu. Hehehe. Oh ya pak, yang kayak pak Anies gitu ready stock nggak ya pak? Saya mau satu dong pak ;p
Sekarang beliau berprofesi sebagai seorang tenaga pendidik, profesi yang memenuhi tiga kriteria yang diinginkannya dalam pekerjaan. Mendidik adalah tanggung jawab dari setiap orang yang terdidik. Beliau mencoba menularkan semangatnya kepada kita semua, kepada kalangan muda, kepada pemilik kaki-kaki gesit yang beliau rasa mampu meneruskan langkah perjuangannya untuk melunasi janji kemerdekaan. Bahwa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia perlu segera ditegakkan. Lewat jalan pendidikan, Anies Baswedan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya, memberi jalan keadilan beruoa perhatian terhadap pemerataan dunia pendidikan di Indonesia. “Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci untuk mempercepat pelunasan janji kemerdekaan kita”
Mata saya menjadi sedikit terbuka, apalah arti menjadi apatis dan tak peduli. Walaupun tak banyak tahu soal politik..tapi saya pikir ini bukan perkara politik. Untuk berbuat sesuatu tak harus menunggu jadi presiden dulu bukan? Satu dari kita mungkin hanya bisa menyalakan satu lilin saja, tapi ketika ada banyak yang bersedia turun tangan, bukan tak mungkin untuk membuat Indonesia bercahaya lebih dari lainnya. Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan, setiap dari kita pasti memiliki peran. Sebab sesuatu tidak harus selalu dimulai dari hal-hal yang besar. Mengubah manusia Indonesia itu sesungguhnya mengubah Indonesia
Salam inspirasi dan sukses selalu! :)

Senin, 05 Mei 2014

Accidental Picnic, First Trip to Solo-Tawangmangu

Berawal dari obrolan iseng Jumat siang di grup whatsapp, teman-teman kuliah saya seangkatan mendadak bikin plan piknik bareng ke Tawangmangu minggu depan. Berhubung ada banyak bermacam hambatan kalo udah niatan bikin plan jauh-jauh hari sebelumnya (yang biasanya akhirnya Cuma jadi sekadar wacana saja), akhirnya kami memutuskan mempercepat realisasi piknik menjadi hari Minggu dua hari sesudah diskusi kilat di grup. Dengan bekal ala kadarnya, iuran bensin untuk transport, uang makan, dan uang untuk beli tiket masuk ke objek wisata, sepakatlah kami untuk berangkat piknik hari Minggu jam 6 pagi kurang sedikit dari Jogja. Yeaay!!
1.       Breakfast time in Soto Ndhelik
Berhubung  perjalanan kami sepertinya akan menghabiskan banyak tenaga, acara pertama hari itu adalah…mengisi perut, hehehe. Berangkat dari Jogja pagi-pagi banget dalam keadaan sepertiga ngantuk, sepertiga sadar nggak sadar, sepertiga pengen jalan-jalan, bikin kami nggak sempet sarapan. Apalagi..you know how you guys live in boarding house #curhatsedikit
Kami tiba di Solo sekitar pukul 8.15 dan cuus langsung sarapan di soto ndhelik, yang kata temen saya recommended karena cukup enak dan terkenal. Menu yang disediakan di antaranya soto mangkuk kecil seharga Rp. 3.500 dan soto mangkuk besar seharga Rp. 6.000. Bisa nambah lauk sate atau gorengan hangat yang sudah disediakan. Rasanya? Cukup enak :9
Seporsi soto daging mangkuk besar. daging loh! saya pikir soto ayam.
2.       Kebun Teh Ndoro Donker
Destinasi selanjutnya adalah menuju kebun teh di daerah Kemuning. Letak pastinya saya nggak tahu, dataran tinggi deket-deket sama daerah Karanganyar gitu. Kebun teh Ndoro Donker ini adalah tempat minum teh yang cozy yang menawarkan pemandangan dan udara kebun teh yang fresh. Kami berdelapan memesan 3 teko teh dengan jenis yang berbeda, kemuning green tea, camommile tea, dan forest tea. Satu teko bisa untuk 3-4 cangkir. Jenis teh yang dipesen random aja sih sebenernya. Teh yang kami pesan, satu tekonya seharga Rp. 20.000. Cukup murah untuk jenis-jenis teh yang istimewa dan diracik secara khususUntuk jenis the lainnya diharagai Rp. 45.000 per tekonya. Untuk rasanya, kemuning green tea yaa mirip-mirip sama green tea yang biasa kita belilaah. Cammomile tea, sedikit berbeda sama the biasanya..tapi yaa nggak jauhlah beda rasanya. Haha. Nah forest tea ini nih yang sedikit nyentrik. Warna tehnya aja udah kayak sirup marjan rasa frambozen. Kalau soal rasanya? Beeh jangan ditanya. Rasanya kayak jamu, hahaha. Tapi yaah lumayanlah buat yang pengen nyicipin rasa teh yang berbeda dari biasanya. Selain minum teh, kita bisa makan cemilan juga di sini. Berhubung kami semua masih lapar, kami juga pesan ubi goreng dan mendoan dengan harga per porsi masing-masing sebesar Rp. 10.000. Per porsinya cukuplah untuk 3-4 orang. Yang paling oke di sini adalah…viewnya! Jadi berfoto-fotolah kalian sepuas hati..and don’t forget to catch your inspirations here!
kebun tehnya bikin suasana tempat minum teh makin freeesh  




green tea, camommile tea, dan forest tea
3.       Grojogan Sewu, Tawangmangu
Selesai dari piknik di kebun teh Ndoro Donker, kami melanjutkan perjalanan ke objek wisata air terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari kebun the. Pukul setengah 12 siang kami tiba di Tawangmangu dengan disambut mendung, sedikit gerimis,  parkiran yang sudah mengular dan monyet-monyet yang asyik bermain di atap mobil -_- Tiket  masuk yang harus dibeli untuk masuk ke dalam objek wisata sebesar Rp. 8.000, kami langsung masuk ke dalam objek wisata. Sayangnya, karena salah jalan kami harus mengganti plan yang sebelumnya mau jalan kaki naik tangga dulu untuk menuju air terjun, baru pulangnya turun tangga, akhirnya menjadi jalan kaki turun tangga dulu untuk menuju air terjun. Yang berarti nanti pada saat pulang, di saat badan sudah cukup lelah kami harus ngos-ngosan naik tangga L Setelah perjalanan menuju air terjun yang sedikit was-was, harus lihat kiri-kanan untuk memantau para-monyet-yang-sok-iyee itu sampailah kami di objek utama, Grojogan Sewu. Karena udah azan zuhur kami menunaikan ibadah sholat dulu di musholla yang sudah disediakan. Setelah selesai, saatnyaaa..mengabadikan kenang-kenangan lagi dengan background alam yang oke punya. Hahaha. Saat yang paling mengesankan adalah ketika kami harus terengah-engah menaiki entah-berapa-anak-tangga untuk pulang, dan ketika sampai di tempat barulah kami tahu sudah 1.250 anak tangga yang berhasil dinaiki ;)

haloo! ini mukanya masih pada fresh sebelum harus naik-naik entah-berapa-anak-tangga

air terjunnya bikin basah, hujan lokal




wahai teman-teman baca apa yg ada di plangnya. Salam sehat!!
4.       Lunch time in Sop Iga Bu Ugi
Setelah amat sangat cukup lelah menaiki anak tangga dari Grojogan Sewu, dan alarm perutpun sudah berbunyi, meluncurlah kami menuju tempat makan siang. Maklum, sudah pukul 2 saat itu, saatnya recharge energy ;p Kami makan siang di Warung Makan Sop Iga, Bu Ugi. Tempatnya masih di sekitar Tawangmangu, daaan…cukup ramai. Sempat agak kesusahan cari tempat yang cukup untuk kami berdelapan, akhirnya kami kebagian tempat juga..di pojokan dengan dua meja terpisah -_- Tapi..yang penting makan. Hahaha. Satu porsi sop iga seharga Rp. 25.000 cukup memanjakan lidah dan mengenyangkan perut kami. Pokoknya tema hari itu makan enak selalu :9

5.       Taman Balekambang
Usai mengisi perut, dengan diiringi langit mendung kami meluncur menuju destinasi selanjutnya, yaitu Taman Balekambang yang letaknya masih di dalam kawasan Tawangmangu juga. Setelah membaca brosur keterangan mengenai objek wisata di dalamnya terlebih dahulu (because actually we don’t know how place this is) , akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket masuk seharga Rp. 6.000. Setelah masuk, kami sepakat tempat ini lebih cocok untuk tempat piknik anak-anak, bukan untuk orang-orang tua dewasa seperti kami. Hahaha. Hiburan yang ditawarkan di dalamnya ada kereta-keretaan, ATV, ayunan, jungkat-jungkit dan hiburan-hiburan sejenis lainnya. Baru sebentar menikmati waktu di sana, tiba-tiba..bresssss. Turunlah tumpahan air dari atap langit alias hujannya  deres banget K Sempet kejebak hujan cukup lama, akhirnya kami memutuskan nerobos ujan juga sampai parkiran.
hello, personel kuliah lengkap dengan dua orang absen. eh berarti nggak lengkap ya? Hahaha
6.       Dinner in Kafe Tiga Tjeret
Perjalanan di Tawangmangu selesai dan dilanjutkan perjalan pulang ke Jogja. Pukul setengah 6 kami mampir di masjid dulu untuk menunaikan sholat maghrib. Lalu perjalanan berlanjut ke tempat makan malam. Thank God, I have three times a day to eat delicious meal. Kata temen saya yang special tour guide, makan malam kami menunya adalah angkringan. So, guess what kind of angkringan is it? Yak! Kafe angkringan, tepatnya adalah kafe tiga tjeret yang letaknya dekat dengan kraton Surakarta. Menunya sih memang angkringan, tapi dikemas dalam bentuk sajian seperti di kafe-kafe. Menu makanannya khas angkringan seperti nasi bungkus angkringan tempe, teri, granat, daging, dan lain-lain, dengan lauk beraneka macam sate dan gorengan dengan range harga sekeitar Rp. 3.000-Rp. 6000 (kalo nggak salah ;p) Untuk menu minumannya yang khas adalah wedang tiga tjeret, yang merupakan racikan air jeruk, beras kencur, dan aneka rempah lainnya, saya nggak apal. Rasa minumannya, segar dan menghangatkan berhubung sepanjang hari itu hujan melulu. Haha. Yang beda dari kafe ini selain menyediakan menu angkringan adalah aneka penghias interior kafe yang sebagian besar diambil dari barang bekas yang direcycle. Seperti meja untuk makan yang memakai bekas meja mesin jahit dan kap lampu yang dibuat dari susunan akua gelas.
ini penampakan minuman wedang tiga tjeret refill-yg-lebih-banyak-ampas-rempah2nya-daripada-airnya-sebenernya
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, muka udah kucel, badan udah pegel. So it’s time to go home. Besok ada kuliah mameeen. Hahaha. Sepanjang perjalanan, dari berangkat sampai pulang kalian rame sekaliii, sampai-sampai saya nggak bisa menyalurkan hobi nempel molor. See you again for the next trip guys, semoga kita semua dilancarkan kuliahnya, ujiannya, tesisnya, cita-citanya, dan jodohnya *eh.

P.S : Supeeer thanks to you all. You guys totally made my day!!

Senin, 24 Maret 2014

Sebelum Lupa




Postingan ini dibuat pada hari Jumat, pukul 12.40, sepulang makan mie ayam yang enak di Taman Siswa sama seorang teman, setelah kuliah Pemodelan Sistem dengan bab Integer Programming yang bikin puyeng sama angka-angkanya, sama grid pointnya, sama lamdanya, sama zetanya, dll. Fiuuh! Oke, abaikan saja.
Mungkin postingan ini bagusnya dikasih judul “Sebelum Lupa” kali ya. Soalnya saya buru-buru buka laptop di kos, sebelum akhirnya lupa sama serangkaian abjad acakadut yang sudah terbayang-bayang di kepala.

Kalau ada yang nanya hal apa yang membuatmu paling bersyukur di dunia jawabannya adalah...semuanyaa. Hehe. Allah sudah berbaik hati ngasih kita anggota tubuh yang lengkap, pikiran yang sehat, keluarga yang bahagia, dan lain sebagainya. Fabiayyi ala irabbikuma tukadzziban. Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan.
Salah satu hal dari sekian banyak hal yang paling saya syukuri, di antaranya adalah lingkungan tempat saya bertumbuh. Mulai dari lingkungan keluarga tempat saya mulai dibesarkan sampai ke lingkungan pertemanan yang secara nggak langsung banyak berpengaruh juga membentuk kepribadian saya. Saya amat sangat bersyukur dengan anugrah Allah yang satu ini.

Saya percaya pribadi kedua orangtua yang baik pasti akan menurun kepada anaknya. Kalo anaknya kurang baik yaa mungkin ada yang salah sama kedua orangtuanya. Hehe. Sekarang ini segala hal di dunia jadi serba “berbahaya”, artinya segala sesuatu jadi serba nggak pasti, bener-nggak benernya, baik-buruknya. Nah loh? Udah bukan lagi “membiasakan yang benar” tapi yang ada malah “membenarkan yang biasa”
Menurut saya, yang paling bisa ‘menolong’ kita dari hal-hal yang salah tadi ya dari dalam kita sendiri. Kalo benteng pertahanan dari dalam udah kokoh, insyaAllah nggak perlu khawatir sama berbagai ‘gempuran’ dari luar, yang mau, nggak mau ya memang harus dihadapi. Jadi, kalo menurut saya kunci dari semuanya adalah pondasi awal yang dibentuk orangtua kepada si anak. Oke, nampaknya ini terlalu abstrak.
 Jadi gini, sebenernya saya agak heran juga sama orangtua saya, yang menurut saya terkadang bisa jadi amat sangat overprotected terhadap anak-anaknya, tiba-tiba bisa dengan sangat senang hati memberikan ijin kepada saya dan adik untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Yes, di Jogja yang terkenal dengan sebutan kota pelajar tapi sekarang juga jadi terkenal dengan berita-berita yang kurang mengenakkan karena pergaulannya yang katanya ‘kurang baik’
Okelah, di sini saya melanjutkan kuliah master dengan usia yang bisa dibilang sudah ‘cukup dewasa’ Haha. Terlebih pada akhirnya di kota ini saya tinggal berdua bersama adik.
Tapi buat adik saya yang masih S1? Yang remaja baru aja lulus SMA? Yang masih polos dan lugu begitu? Diijinkan tinggal sendiri di sini? Haha. Nggak banyak orangtua temen-temen saya yang mengizinkan anaknya melanjutkan pendidikan di Jogja dengan alasan ‘kabar yang nggak enak tentang Jogja’
Jawabannya mungkin adalah kedua orangtua saya sudah percaya dan merasa pondasi yang dibangun pada diri saya dan adik sudah cukup kuat sebagai tameng untuk mengatasi segala aura negatif tadi, hehe. Toh di manapun itu, kalo pondasinya udah nggak beres, bakal gampang roboh juga.
Ini nih yang buat saya bersyukur. Saya dan adik-adik saya nggak pernah merasa dibatasi kalo udah soal pendidikan, meskipun kami semua perempuan. Hahaha.
Saya inget waktu jaman SMP-SMA dulu, kalau saya nunjukin nilai ulangan Fisika atau Matematika yang dapet 40 ke Ibu, Ibu cuma ketawa-ketawa doang. Saya nggak pernah dimarahin atau diomelin soal nilai guys! Padahal di luar sana banyak sekali anak-anak yang kena marah gara-gara nilainya jeblok ;p Waktu saya nanya kenapa kok Ibu nggak ngomel-ngomel, jawabannya adalah “Buat apa marah-marah? Kamu kan udah besar, udah tahu apa yang jadi kewajiban. Belajar itu buat diri kamu sendiri, kalau pinter yang untung kan kamu, kalau nilainya jelek yang rugi juga kamu”
Jleeb! dan memang benar, nyatanya tanpa disuruh, dimarahin atau diomelin, saya tetep belajar. See? Dari situ saya sadar, motivasi yang paling besar dan utama itu datangnya dari dalam diri sendiri.
Waktu mau masuk kuliah, saya juga nggak dipaksa untuk mengikuti jejak Ibu atau Bapak. Walaupun sebenernya ada sedikit saran-saran, ‘kalau masuk di sini lebih baik..’ hahaha. Tapi tetap keputusan akhir dikembalikan ke saya, mereka percaya penuh dengan pilihan saya karena  nantinya saya yang akan menjalani. Toh, selama ini orangtua pasti mengajarkan hal yang baik, jadi jalan yang saya pilih pun pasti nggak akan ‘aneh-aneh’
Lulus dari S1 pun saya kembali dihadapkan pada pilihan tentang jalan selanjutnya yang mau saya tempuh. Dan lagi-lagi..kata terserah yang saya dapatkan (tentunya dengan nasihat-nasihat tambahan tentang kemungkinan yang bisa terjadi dengan keputusan yang saya ambil nantinya), mau langsung kerja atau lanjut kuliah lagi. Kenapa? Yaah karena percaya itu. Percaya pada pondasi kebaikan yang sudah dibangun di dalam diri anak-anaknya. Jadi sebenernya secara nggak langsung apa yang ada dalam diri saya, disadari atau nggak, pasti nggak jauh beda sama orangtua saya. Sepele sih sebenernya. Orang-orang juga pasti udah tahu, anak sama orangtua biasanya nggak jauh beda. Hehe
Sekarang di rumah jadi sepi, cuma Bapak, Ibu, sama adik saya yang paling kecil. Padahal dulu waktu saya sama adik-adik saya masih kecil, masih suka piknik bareng, jalan-jalan bareng. Sekarang boro-boro deh..nyesuain waktu aja susah. Sibuk sendiri-sendiri. Hufft. Tiba-tiba saya jadi kepikiran di dalam salah satu buku yang pernah saya baca, ‘awalnya serumah berdua, akhirnya juga akan kembali serumah berdua, ketika anak-anak mulai membangun kehidupannya sendiri’ Uurgggh..cediiiih :(
Hiks. Udah ah..saya jadi sensitif nih kalau ngebahas soal keluarga. Let me go home, please. Hehe
Tulisan ini dari awal sampai akhir mengalir seadanya. Padahal awalnya seharusnya nggak cuma bahas soal keluarga..tapi kok jadinya udah panjang gini yah. Yasudahlah, dilanjutkan next posting saja kalau nggak lupa (dan nggak males).

Sebelum lupa atau sengaja melupa, kembalilah ingat bersyukur tentang hujan nikmat yang diberikan Tuhan.
Yok semangat menuntut ilmu lagi, karena yang tidak begitu termasuk yang merugi.

Yogyakarta, 21 Maret 2014

Kamis, 13 Maret 2014

Symptom, Root Cause, dan Alternative Solution


  •  Symptom adalah gejala yang terlihat di permukaan, dapat dimulai dari adanya klaim akibat perbedaan antara harapan dan realita,
  • Root Cause adalah analisis secara lebih mendalam dari symptom, tools yang dapat digunakan yaitu fishbone diagram untuk mencari akar penyebab permasalahan yang sesungguhnya. 
  •   Alternatif Solution adalah suatu penyelesaian masalah dengan melihat berdasar dari root cause yang terjadi.
Contoh kasus : Si A datang ke dokter dengan symptom merasakan demam. Setelah dilakukan analisa lebih mendalam, ternyata penyebabnya atau root causenya adalah radang tenggorokan yang sedang dideritanya. Maka sebagai alternatif solutionnya dokter akan memberikan obat yang mampu mengobati radang tenggorokannya.

P.S : maaf jika masih ada salah-salah pengertian, namanya juga masih belajar ;p