Get me outta here!
Tampilkan postingan dengan label saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 April 2016

Getting older..become more complicated choices then

"Selamat ya mbaa"
Line tiba-tiba dari sepupu saya yang mengabarkan jika saya dinyatakan diterima sebagai tenaga kontrak di sebuah PTN di Jawa Tengah. Sesuatu yang bahkan nggak pernah saya rencanakan sebelumnya. Kalo dulu ibu nanya kenapa nggak pengen ngajar di negeri, saya cuma jawab "nggak ah di swasta aja, lebih enak kayaknya, hehe" sumpah cetek banget. Pikir saya pada saat itu negeri pasti persaingannya berat, cuma orang-orang pilihan yang mampu, dan sepertinya saya bukan orang yang terpilih itu.
Beberapa minggu lalu.
X : "kamu serius mau daftar ke situ?"
Y : "ya, insyaAllah. kan belum tentu ketrima juga, itung-itung  buat latihan proses rekruitmen kalo aku mau daftar ke tempat lain"
X : "tapi itu jauh loh dari Semarang, kalo nanti kamu ketrima aku gimana?"
Y : "hmm..." (dan sayapun bingung harus jawab gimana, hahaha)
-------------
Saya masih bengong mengamati pengumuman hasil penerimaan yang dikirim sepupu saya. Berpikir keras dan udah kepikiran dari sebelum-sebelumnya sebenernya. Surely it doesn't include in my prior dreamboard. Saya memang bercita-cita ingin menjadi star pengajar hingga akhirnya memutuskan resign dari kerja untuk kemudian melanjutkan sekolah lagi. Rencana saya pada saat itu, setelah lulus kuliah pengennya kerja dekat rumah, ehehehehe. Semarang atau dulu saya pengen banget bisa hidup di Jogja, like what I write in 2012. Sesuatu yang saya pikir dulu impossible.
Then time flies..who knows it looks like not impossible anymore. Saya memang belum pasti 100% bisa hidup bekerja di sana seperti yang saya cita-citakan dulu, tapi peluang yang ada besar. Cukup besar. Harusnya saya senang mengingat saya adalah tipikal yang kalo punya keinginan "entah gimana akan selalu saya usahakan sampai titik penghabisan"
....
Tapi semangat saya untuk mewujudkan cita-cita itu sudah tidak menggebu-gebu seperti dulu.
...
Kembali ke soal tenaga kontrak.
Iya sih PTN, berpeluang untuk bisa jadi PNS, walaupun nggak selalu kualitas swasta di bawah negeri ya. Tapi pertimbangannya agak berat juga jadi tenaga kontrak, karena saya merasa masih nggak aman sebenernya.
Pertimbangan lebih berat lainnya adalah lokasinya yang cukup jauh dari rumah, walaupun masih sama-sama di jawa tengah. Saya tahu, harusnya bersyukur karena nggak harus sampai beda pulau. Tapi..ya..5-6 jam perjalanan pulang ke rumah  dengan ongkos lumayan buat tenaga kontrak..yaaaah..hahahaha.
Banyak hal yang berubah dalam beberapa tahun ini, termasuk kondisi keluarga. Bekerja dengan menetap di kota yang cukup jauh dari rumah sepertinya cukup berat mengingat kondisi keluarga saya yang sekarang. Karena saya akan sulit pulang sewaktu-waktu untuk menengok rumah..tapi di sisi lain saya seperti..I've to get my job soon..I couldn't doing nothing..panggilan hati  sebagai anak pertama. Saya nggak mungkin nggak melakukan apa-apa dengan keadaan sekarang, ada hal-hal yang bikin saya 'sengotot' ini untuk segera bekerja. Mungkin agak terdengar berlebihan. Tapi yaa..kondisi sekarang ini membuat saya merasa tertampar kalau ingat dulu saya gampang sekali mengeluh untuk hal-hal sepele, untuk hal-hal yang nggak seberat dibandingkan dengan masalah orang-orang lain di luar sana. Kadang-kadang kepikiran kenapa sekarang harus begini, kenapa Allah nggak mengembalikan keadaan keluarga saya menjadi 'baik-baik' seperti dulu, kenapa...ah God knows the best..then I should be grateful for who i am.
----------
Y : "kerja di Jogja itu udah jadi cita-citaku dari lama, udah sampai ditulis di blog malah"
X : "yaa.."
Y : "soalnya masih deket dari rumah juga, jadi aku masih bisa sering pulang. Dan sekarang peluangnya terbuka lebar. Terus..gatau kenapa emang pengen di sana dari dulu. Lagian di Semarang buat tespun aku kayak nggak dikasih kesempatan"
X : "rasa cita-citanya masih sama?"
Y : saya diam.. "Engga"
....
Semangat saya untuk mewujudkan cita-cita itu sudah tidak menggebu-gebu seperti dulu. Rasanya sudah tidak sama.
...
Jujur, semangat saya sedikit demi sedikit menguap. Semangat saya masih ada walaupun sudah nggak sebesar dulu. Apa yang terjadi beberapa waktu ini membuat saya harus sedikit mengubah haluan rencana-rencana besar saya. Bagi saya ini besaaaar walaupun mungkin bagi orang lain ini cuma remah-remah  Karena saya terbiasa membuat perencanaan-perencanaan dalam hidup dan berusaha sekuat tenaga untuk itu.

Alasan pertama, keluarga.

Alasan kedua, orang baru yang tiba-tiba datang dengan santainya dalam kehidupan saya, yang pada akhirnya menjadi bagian dalam rencana masa depan saya, yang membuat saya harus mempertimbangkan kembali langkah-langkah saya, yang kemudian membuat cita-cita saya dulu sudah tidak begitu menggebu-gebu.
Saya cukup beruntung karena saya nggak benar-benar harus merelakan beberapa hal yang saya inginkan. Alhamdulillah partner masih bisa diajak kompromi. Memang ada beberapa rencana yang perlu disesuaikan, tapi nggak lantas berubah total dari awal. Yang saya tahu, beberapa lainnya harus mengubah total cita-cita mereka. Meletakkan ego pribadi demi kepentingan bersama. Couldn't describe in the words..saya salut..karena saya bahkan nggak yakin bisa seperti itu. Hahaha

Pada  akhirnya, akan ada orang baru yang datang, kemudian membuat kamu rela mengalah untuk menomorsekiankan apa yang pada awalnya menjadi tujuan atau bahkan kamu harus membuat beberapa penyesuaian demi sama-sama merasa nyaman
Sekian waktu berlalu, dan rasanya sudah nggak seperti dulu.


3 April 2016, catatan demi saya bisa mengingat apa yang sedang saya alami sekarang pada beberapa tahun ke depan.

Jumat, 11 Desember 2015

Milestone kesekian



We never know what will happen in a second. Like I am. A few weeks ago was one of my big day, the day that i have to defend my master thesis.

Akhirnyaaaa, setelah hampir 2 tahun kembali duduk di bangku kuliah, tiba juga waktunya sidang akhir pendadaran yang seolah jadi penanda gerbang kelulusan. Setelah hampir setahun saya bergelut dengan segala hal yang berkaitan dengan penelitian tugas akhir, 23 November kemarin tiba juga waktu untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya kerjakan untuk penelitian di depan dosen-dosen penguji.
Daaaaan..singkat cerita, nggak sampai 1,5 jam di dalam ruang sidang, alhamdulillah lulus dengan revisian. Beberapa pertanyaan saya nggak bisa jawab, beberapa pertanyaan dijawab pake mikir lama, beberapa pertanyaan dijawab muter-muter dulu, beberapa pertanyaan dijawabnya harus diarahkan dosen dulu *akuhparahbanget* Hahaha..but it doesn’t matter anyway. Saya udah berusaha dan berdoa sebelumnya, hasil akhirnya serahkan sama yang di atas. hehehe
Apa yang saya lakukan selama hampir setahun untuk penelitian terbayar sudah. Mulai dari survei keliling Jogja sampai Klaten sambil bawa-bawa peta sendirian, ditawarin MLM gara-gara buka peta di tengah jalan, keluar masuk perusahaan-perusahaan, dinas-dinas, kantor gubernur, pustral sambil bawa-bawa proposal, dan lain sebagainya.


muka-muka fresh from the oven habis ujian

it has been 6 years (and still counting~) since i learn for industrial engineering

bukan dari teknik mesinnya, cuma numpang foto aja

Lalu..saya jadi flashback yang dulu-dulu. Februari 2014 pertama kalinya datang ke Jogja sebagai mahasiswa. Setelah pake acara galau-galau dulu soal mau lanjut sekolah lagi.
Terus..sekarang bahas yang seriusnya. Total SKS yang harus diselesaikan selama 4 semester sebanyak 44 SKS.Detail mata kuliah yang saya ambil di antaranya :

  • Semester 1 : Asas Teknik Industri, Metodologi Penelitian, Komputasi dan Pemrograman, Pemodelan Sistem; masing-masing 3 SKS
  • Semester 2 : Optimasi, Statistika Lanjut, Otomasi Sistem Manufaktur, Manajemen Proyek Lanjut, Teori Keputusan Lanjut, Data Mining; masing-masing 3 SKS 
  • Semester 3 : Teknik Rantai Pasok, Metaheuristik; masing-masing 3 SKS
  • Semester 4 : Tesis; 8 SKS

Saya...speechless mau nulis apa lagi. Saya cuma mau nulis aja, biar momen ujian akhir ini, yang jadi salah satu milestone di hidup saya nggak jadi lupa gitu aja. Biar saya inget, saya pernah sejauh ini melangkah. Huft, menye-menye.

Apalagi kalau ditarik mundur ke belakang lagi, 2008 yang lalu waktu saya masih awal jadi mahasiswa baru S1, masih alay-alaynya nulis blog, masih galau-galaunya gara-gara nggak diterima di universitas idaman. Singkat cerita, saya bisa menerima dan bertekad menjadi sebaik-baiknya yang saya bisa di manapun saya berada untuk belajar. Akhir 2013,  entah bagaimana setelah memutuskan keluar dari kerjaan pada saat itu, Allah swt ternyata kasih saya kesempatan untuk kuliah di kampus yang dulu pernah menolak saya mentah-mentah. Hahahaha.
Tuhan suka bercanda ya? The best God joke ever. Malu sendiri rasanya dulu sering bertanya-tanya kenapa doa saya nggak dikabulkan, kenapa kerja keras saya terasa sia-sia. Ternyata doa saya bukannya nggak dikabulkan, tapi ditunda karena memang belum waktunya... Dan nyatanya saya justru mendapat lebih dari apa yang saya minta sebelumnya.
We never know what might be happened tomorrow..but God knows the best. Huft, ini lebih menye-menye.

Setelah ini saya akan kembali memulai satu fase baru dari awal *bentangkan dreamboard lebar-lebar* Deg-degan sih, agak takut kalo kenapa-kenapa..but they convince me that this is gonna be allright. Sudah cukup saya berada di zona nyaman sebagai mahasiswa di Jogja. Hahaha

Btw, malam ini harusnya saya nyicil packing barang-barang yang harus dibawa pulang ke Semarang..tapi males. Tinggal menghitung hari saya hengkang dari Jogja, kota yang udah jadi rumah kedua buat saya, yang dari awal saya datang, saya nggak pernah merasa asing sama kota ini, saya merasa diterima sepenuh hati *oke ini lebay*
This 2 years full of things related to you..I couldn’t say anything, yet I really felt a sincere kindness.  Still being a good partner, still being a humble friend, for everyone that came over to see you.
Sebab kata Joko Pinurbo, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Sebab itu di setiap sudutnya ada memorabilia yang menunggu, ada kenang yang terulang menjelang petang, dan ada syukur yang dirayakan saat semesta mengizinkanmu kembali datang.

Yogyakarta, 11 Desember 2015.
Postingan ngalor ngidul tiba-tiba tanpa editing karena di luar hujan.

Senin, 01 Juni 2015

Many things happened, everything has changed.



It has been almost one and a half years since I took my master program here, since I lived as student (again), since I quit from my full time job, and since I started to rethink what must I do for the better myself. Sebenernya saya nggak tau mau nulis apa sih..cuma tiba-tiba kepikiran the time flies really fast. Semuanya berjalan cepet banget, apalagi kalo inget umur, haaah.
And this blog has grown up with me sincerely.These stories of felicities, sadness, confusion, and so on, I wrote here with my random thoughts about anything. Mulai dari umur saya yang belum kepala dua, sampai sekarang yang udah kepala dua lebih. Mulai dari jaman alay sampai sekarang yang (semoga) udah nggak alay, mulai dari jaman galau sampai sekarang  yang (semoga) udah nggak galau. Hahahaha
Jadi..hemm..apalagi ya.. bingung juga ya bikin tulisan yang nggak jelas gini. Hahaha
Jadi kuliah saya udah masuk semester 3, semesternya udah hampir habis malah. Sebentar lagi UAS dan kalau sesuai rencana dan berjalan lancar, semester 4 tinggal nyelesain thesis aja *ini keliatan gampang banget nulisnya, tapi ekskusinya..hufft* Terus setelah lulus, saya harus apply-apply kerjaan lagi, mengulang lagi fase-fase habis lulus S1 dulu. Bedanya sekarang saya udah mulai tau lebih spesifik mau dibawa ke mana hidup saya nanti. Jadi dulu nggak tau? not totally. Dulu masih gampang terombang-ambing ikut arus sih, hehe. Lagipula pembelajaran kan memang butuh proses, dan proses butuh waktu,and I get that point then.
Kalo lagi nggak ada kerjaan atau lagi banyak kerjaan tapi suntuk, saya suka iseng baca-baca apa yang saya posting di sini dari jaman entah kapan sampai sekarang. Terus jadi senyum-senyum sendiri, jadi mikir ini kejadian kapan, jadi flashback, jadi berasa..urrrgggh begitulah. Puas rasanya inget apa aja yang udah pernah saya lakuin sampai sejauh ini. Dari tulisan yang sedikit  banyak burst me into emotional feeling, sekadar iseng, atau yang literally i was sinking down to the bowl of happiness. Saya pernah yah sebegitunya, hehe.
Blog pertama saya ini seakan-akan jadi saksi hidup saya dari waktu ke waktu, dari postingan masih SMA (sorry, this posts have been deleted. posting khas abg ini malu-maluin banget -_-), kuliah, kerja, sampai sekarang kuliah lagi. Hmm..kalo diliat-liat ada perbedaan tulisan yang saya buat di setiap fase tadi walaupun karakter tulisannya masih sama.
Sampai sekarang saya masih suka nulis...tapi nggak rajin. Tapi dari dulu emang nggak rajin sih..dan nggak jelas, hehee~
Biar gimanapun, biar saya nggak rutin nulis di sini, biar sampai berbulan-bulan lamanya baru nulis *ini payah banget sebenernya* Tapi blog ini harus tetep ada isinya, harus tetep jadi saksi hidup saya untuk waktu-waktu berikutnya. Hahahaha..laah piyee yaaa kui. Semoga setelah ini nggak males buat nge-diary di sini. Diary di sini yang nggak private-private banget maksudnyaaa. Jadi saya bercita-cita buat merangkum semua perjalanan saya setelah ini... have graduated, getting a job, working, wedding preparation, the big day, having a little baby, and so on *ya ampuun ini aku mikirnya terlalu jauh ke depan gak ya? eh tapi gapapa ding, visioner itu perlu* mungkin aku kebanyakan blogwalking ke blognya emak-emak..jadi begini --“

PS: saya pelupa maka saya menulis. saya membaca lalu memori yang sempat hilang terpanggil datang. this really reminds me, sudah sejauh itu jalan dari Tuhan untuk memberi saya banyak pelajaran. i have to start writing, cause there will be no repetition of those moments in the future.

Kamis, 09 April 2015

Mission accomplished!


Jadi ceritanya, saya udah lama banget...entah sejak kapan itu..menchallenge diri sendiri buat nyobain rasanya nonton sendiri. Bukan nonton tv loh. Nonton film di laptop bioskop. Sendirian. How do you feel, waktu orang-orang yang duduk di sampingmu, kanan, kiri, depan, belakang, nonton film dengan bergerombol atau bawa pasangan. Sepanjang film asik makan cemilan bareng atau diskusi bareng kalo nggak ngerti isi filmnya. Nah kalo sendirian? Masa iya, tiba-tiba nanya sebelah “mbak itu, kok si itu bisa mati gimana ya? Kok gitu ya? Kok gini ya? Kok bisa ya? dan sebagainya dan sebagainyaaa~~” Malu ih, nggak kenal kok nanya-nanya -_- Apalagi kata orang-orang saya tipikal berisik kalo lagi nonton film, yang dikit-dikit nanya, atau dikit-dikit kasih komentar. Ya maaap bawaan jiwa kritikus. Hahaha
Terdorong oleh rasa kesepian penasaran yang tinggi kayak gimana rasanya nonton sendirian, alhasil sekitar dua minggu yang lalu saya nekat menjejakkan kaki ke JCM alias Jogja City Mall yang XXInya baru-baru ini dibuka *berdoa semoga ada diskonan XXI, padahal ternyata harga podo waee* Sebenernya selain pengen menyelesaikan challenge yang udah bertahun-tahun lalu lamanya, didorong juga sama efek seminar proposal yang fresh from the oven juga sih.. Hawanya masih nggak tahu harus gimana habis semprop, masih drop setelah pertanyaan bertubi-tubi, masih ngefly-ngefly gitu, jadi alangkah baiknya sejenak kita lupakan tesis dan teman-temannya.
Jadi akhirnya diputuskan hari itu saya akan nonton INSURGENT, setelah sebelumnya konsultasi ke adik saya yang udah duluan nonton. Daaan itu dadakan pemirsaaah. Tetiba nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba kebelet nonton. Malem sebelum hari H saya mendadak wasapp adek saya buat nanya enaknya nonton film apa ya besok.. Katanya INSURGENT bagus, padahal saya nggak ngikutin trilogi DIVERGENT juga. Hahaha. Akhirnya berbekal googling resensi film, yaaah sedikit-sedikit ngertilah ceritanya. Harus ngerti. *karena saya harus inget satu hal, kalo besok pas nonton saya nggak bisa nanya-nanya seenak jidat. Mau nanya ke siaapaaah -_-
Keesokan harinya, ternyata kuliah pagi saya cuma diisi setengah jam doang. Jadi saya punya cukup banyak waktu buat leha-leha dulu di kos. Padahal, rencana awal habis kuliah mau langsung cus ke JCM *ya kali mau bawa ransel gede-gede gitu di mal* Setelah saya siap-siap dari kos, tanpa membawa ransel tentunya, saya langsung meluncur ke JCM. Sungguh saya merasa direstui dalam misi kali ini. Tsaah. Berangkat dari kosan sekitar setengah 1, padahal filmnya baru mulai jam 2. Tapi waktunya udah paslah kayaknya, sekalian saya keliling-keliling juga buat nyari sesuatu. Sesuatu? Apa coba? Nggak jelas kan? Iyalah, namanya juga sesuatu. HAHAHAHA. *oke ini garing.
Sesampainya di sana, saya pikir daripada nanti antri kelamaan mendingan langsung beli tiket dulu deh. And actually I haven’t seen the cinema during my visit to JCM. Mungkin terakhir kali saya ke sana, itu XXI belum dibangun juga kali ya.  Jadi muter-muter dulu deh itu..nyariin XXI yang entah ditaro di mana. Daaaan ternyata JCM itu segede gambreng luasnya, gempor ini kaki! Oke, ini saya yang katrok, biasanya cuma liat-liat di lantai 1 dan 2. Hampir-hampir saya nanya satpam, eh ternyata ketemu juga XXI di lantai 4 atau berapa ya, lupa. Pokoknya di atas gitu, dan agak nyempil menurut saya. Berhubung di JCM masih banyak ruko-ruko yang kosong, jadi agak-agak nggak keliatan gitu.
Sampai di XXI, di luar prediksi saya..entah saya yang kerajinan dateng atau memang lagi nggak ada film bagus menurut orang-orang. Nggak ada antrian sama sekali di loket -_- Singkat cerita, satu buah tiket udah berada di tangan. Walaupun agak-agak gimana gitu waktu ditanya mbaknya “Berapa tiket mba?”, “satu mba, kok mba pake nanya sih. Nggak liat saya dateng sendirian. Nonton sendiri bukan berarti kesepian loh mba, cuma pengen mencari ketenangan aja. Habis nonton rame-rame berisik sih.. .....tapi boong :p “ *curcol nggak penting*
Karena durasi waktu yang tersedia masih panjang, muter-muterlah saya cari sesuatu. Dari lantai 4, ke lantai 3, ke lantai 2, ke lantai 1, dari sisi barat, ke utara, ke timur, ke selatan, balik lantai 2, lantai 3, lantai 4, sisi barat, utara, timur, selatan, dan seterusnya, dan seterusnya... Oke, ini jadinya kaki gempor banget dah. Sebelum masuk teater saya jajan cemilan dulu yaitu breadtalk. Ampuun, cemilannya aja roti yah. Hahaha.
Jam 2 teng, saya masuk ke dalam teater. Ternyata isinya emang nggak penuh-penuh amat, pantesan nggak ada antrian. Setelah mendarat di kursi empuk, seperti biasa observasi sekitar dulu. Sebelah saya sekumpulan abg cewek sama gengnya, alhamdulillah nggak terlalu berisik. Hehe. And the story goes on. Alur cerita film, alhamdulillah ngerti. Walaupun sedikit-sedikit harus buka hape, karena lupa apa itu Candor, Erudite, Amity, Dauntless, Abnegation. Daaan Four-nya cakeeep ya Allah *ini mainstream* Tapi Tris juga cantik sih. Yang paling agak gimana gitu, di salah satu adegan nama “Four” diterjemahkan jadi “Empat” di subtitle. Nggg, masnya cakep-cakep kok namanya Empat. Keluar dari JCM baru tau ternyata habis hujan, tapi pas pulang alhamdulillah udah reda. Kayaknya kalimat awal perlu diulang. Sungguh saya merasa direstui dalam misi kali ini
Btw, I’m happy for finishing this complete mission. Challenge accepted! Mission accomplished.
Berhubung saya udah ubek2 isi dompet bukti tiketnya nggak ketemu, pake gambar ini aja ya gantinya.

Sabtu, 01 November 2014

Bapak.

Bapak satu-satunya lelaki di keluarga. Yang benerin genteng, benerin pompa air, ngecat pagar, walaupun kadang kami anak-anak perempuannya juga diminta turun tangan.
Sifat Bapak yang keras kepala menurun ke saya. Bapak yang over protected, sempet nggak ngizinin anak perempuannya untuk mengendarai motor sendiri waktu SMA, karena jarak rumah ke SMA cukup jauh dengan medan jalan yang cukup ramai dan cukup bahaya menurutnya. Saya yang keras kepala keukeuh mau bawa motor sendiri, dengan seribu satu alasan udah males naik bus. Saya nekat bawa motor, walaupun tanpa SIM. Sekali dua kali, entah meski awalnya ngomel dalam hati, Bapak luluh juga mengizinkan anak perempuannya mengendarai motor sendiri. Bahkan dibantunya untuk mendapatkan surat izin mengemudi.
Keras kepala kami juga sama kompaknya ketika saya dinyatakan nggak lolos pada seleksi UM UGM tahun 2008 silam. Ibu bilang, memang bukan rezekinya di situ. Toh saya juga sudah diterima di universitas negeri lain. tapi saya sama bapak nggak goyah pendirian untuk tetap menjajal SNMPTN. Bapak yang nganter saya daftar SNMPTN jauh-jauh sampai Jogja, berhubung kemungkinan besar saya bakal kena blacklist kalo daftar di Semarang. Bapak juga yang nganter saya buat tes di Jogja dua hari berturut-turut. Setelah pengumuman tes, saya dinyatakan nggak lolos. Saya kecewa. Bapak juga.
Bapak itu galak. Beberapa teman pernah bilang begitu. Saya mengakuinya. Teman-teman lelaki saya yang datang ke rumah akan diinterogasinya habis-habisan. Saya tahu, semua karena Bapak nggak mau saya bergaul sembarangan.
Bapak nggak pernah marah dengan ngomel-ngomel secara langsung. Bapak cukup menunjukkan marahnya dengan diam dan saya akan segera tahu ada kemarahan di matanya. Seringnya bapak akan laporan ke ibu kalau mau menegur saya. Seperti ketika Ibu bilang, Bapak nggak suka saya deket sama seorang temen lelaki waktu SMA. Entah. Saya juga nggak tahu kenapa Bapak nggak bilang langsung ke saya.
Bapak itu kolot. Masih nggak percaya sama ATM, dan yang paling bikin kesel suka nggak percaya sama anaknya sendiri. Padahal saya nggak mungkin macem-macem. Saya jadi sering membandingkan aturan Bapak dengan orangtua teman-teman lainnya, yang lebih longgar, nggak strict, dan lebih bisa menyesuaikan keadaan dengan zaman sekarang.
Bapak nggak suka anak-anaknya sering main keluar rumah. Makanya banyak yang bilang saya anak kompleks, anak rumahan dan lain sebagainya. Jam main saya dan saudara-saudara saya sangat terbatas, bahkan sampai di usia sekarang. Jaman SMA, maghrib belum sampai di rumah, handphone saya udah bunyi terus ditelponin. Padahal udah izin juga buat ngerjain tugas. Nonton pensi di SMA sendiri pun, paling lama jam 10 udah dijemput, padahal artis utama belum keluar -_-
Dasar saya keras kepala, tetep aja saya masih suka pulang nggak sesuai jadwal. Tapi semakin ke sini, entah awalnya karena biasa terpaksa mengikuti aturan atau bagaimana, saya memang nggak suka keluar malam.
Bapak yang paling berat melepas saya untuk kerja di luar kota. Bapak yang paling mendukung saya untuk melanjutkan sekolah lagi. Beda dengan Ibu yang demokratis, Bapak lebih menginginkan saya untuk following his own path, kasarnya otoriter. Bapak lebih suka saya mengajar sepertinya. Karena saya wanita, karena bapak sudah merasakan kerja di swasta. Lagi-lagi saya keras kepala, saya memilih merasakan kerasnya bekerja di perusahaan swasta. Tapi nyatanya saya kalah, seiring berjalannya waktu saya mulai menyadari maksud Bapak.
Di antara semua saudara, saya yang paling nggak dekat dengan Bapak. Mungkin karena di antara mereka saya yang paling bandel. Kian bertambah usia, semakin jarang komunikasi saya dengan Bapak. Nggak lagi ada jalan-jalan bareng, nggak lagi ada cerita yang diawali dengan kalimat 'dulu itu', nggak lagi ada cerita tentang perjuangan sekolah Bapak dulu. Saya nggak tahu kenapa. Seringnya sekarang saya justru berdebat dengan Bapak.
Saya memang sering melanggar aturan Bapak, saya sering menggerutu dengan pemikiran Bapak yang menurut saya nggak masuk akal dan kuno, saya suka nggak nurut apa kata Bapak. Tapi saya sayang Bapak. Saya bangga sama perjuangan Bapak dulu yang dari bawah banget.
Saya sedih melihat Bapak sakit. Saya sedih melihat Bapak kepayahan melakukan apa-apa. Saya.. ah saya nggak kuat nulis banyak-banyak tentang Bapak.
Lekas sembuh Bapak. Kami rindu.


Senin, 05 Mei 2014

Accidental Picnic, First Trip to Solo-Tawangmangu

Berawal dari obrolan iseng Jumat siang di grup whatsapp, teman-teman kuliah saya seangkatan mendadak bikin plan piknik bareng ke Tawangmangu minggu depan. Berhubung ada banyak bermacam hambatan kalo udah niatan bikin plan jauh-jauh hari sebelumnya (yang biasanya akhirnya Cuma jadi sekadar wacana saja), akhirnya kami memutuskan mempercepat realisasi piknik menjadi hari Minggu dua hari sesudah diskusi kilat di grup. Dengan bekal ala kadarnya, iuran bensin untuk transport, uang makan, dan uang untuk beli tiket masuk ke objek wisata, sepakatlah kami untuk berangkat piknik hari Minggu jam 6 pagi kurang sedikit dari Jogja. Yeaay!!
1.       Breakfast time in Soto Ndhelik
Berhubung  perjalanan kami sepertinya akan menghabiskan banyak tenaga, acara pertama hari itu adalah…mengisi perut, hehehe. Berangkat dari Jogja pagi-pagi banget dalam keadaan sepertiga ngantuk, sepertiga sadar nggak sadar, sepertiga pengen jalan-jalan, bikin kami nggak sempet sarapan. Apalagi..you know how you guys live in boarding house #curhatsedikit
Kami tiba di Solo sekitar pukul 8.15 dan cuus langsung sarapan di soto ndhelik, yang kata temen saya recommended karena cukup enak dan terkenal. Menu yang disediakan di antaranya soto mangkuk kecil seharga Rp. 3.500 dan soto mangkuk besar seharga Rp. 6.000. Bisa nambah lauk sate atau gorengan hangat yang sudah disediakan. Rasanya? Cukup enak :9
Seporsi soto daging mangkuk besar. daging loh! saya pikir soto ayam.
2.       Kebun Teh Ndoro Donker
Destinasi selanjutnya adalah menuju kebun teh di daerah Kemuning. Letak pastinya saya nggak tahu, dataran tinggi deket-deket sama daerah Karanganyar gitu. Kebun teh Ndoro Donker ini adalah tempat minum teh yang cozy yang menawarkan pemandangan dan udara kebun teh yang fresh. Kami berdelapan memesan 3 teko teh dengan jenis yang berbeda, kemuning green tea, camommile tea, dan forest tea. Satu teko bisa untuk 3-4 cangkir. Jenis teh yang dipesen random aja sih sebenernya. Teh yang kami pesan, satu tekonya seharga Rp. 20.000. Cukup murah untuk jenis-jenis teh yang istimewa dan diracik secara khususUntuk jenis the lainnya diharagai Rp. 45.000 per tekonya. Untuk rasanya, kemuning green tea yaa mirip-mirip sama green tea yang biasa kita belilaah. Cammomile tea, sedikit berbeda sama the biasanya..tapi yaa nggak jauhlah beda rasanya. Haha. Nah forest tea ini nih yang sedikit nyentrik. Warna tehnya aja udah kayak sirup marjan rasa frambozen. Kalau soal rasanya? Beeh jangan ditanya. Rasanya kayak jamu, hahaha. Tapi yaah lumayanlah buat yang pengen nyicipin rasa teh yang berbeda dari biasanya. Selain minum teh, kita bisa makan cemilan juga di sini. Berhubung kami semua masih lapar, kami juga pesan ubi goreng dan mendoan dengan harga per porsi masing-masing sebesar Rp. 10.000. Per porsinya cukuplah untuk 3-4 orang. Yang paling oke di sini adalah…viewnya! Jadi berfoto-fotolah kalian sepuas hati..and don’t forget to catch your inspirations here!
kebun tehnya bikin suasana tempat minum teh makin freeesh  




green tea, camommile tea, dan forest tea
3.       Grojogan Sewu, Tawangmangu
Selesai dari piknik di kebun teh Ndoro Donker, kami melanjutkan perjalanan ke objek wisata air terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari kebun the. Pukul setengah 12 siang kami tiba di Tawangmangu dengan disambut mendung, sedikit gerimis,  parkiran yang sudah mengular dan monyet-monyet yang asyik bermain di atap mobil -_- Tiket  masuk yang harus dibeli untuk masuk ke dalam objek wisata sebesar Rp. 8.000, kami langsung masuk ke dalam objek wisata. Sayangnya, karena salah jalan kami harus mengganti plan yang sebelumnya mau jalan kaki naik tangga dulu untuk menuju air terjun, baru pulangnya turun tangga, akhirnya menjadi jalan kaki turun tangga dulu untuk menuju air terjun. Yang berarti nanti pada saat pulang, di saat badan sudah cukup lelah kami harus ngos-ngosan naik tangga L Setelah perjalanan menuju air terjun yang sedikit was-was, harus lihat kiri-kanan untuk memantau para-monyet-yang-sok-iyee itu sampailah kami di objek utama, Grojogan Sewu. Karena udah azan zuhur kami menunaikan ibadah sholat dulu di musholla yang sudah disediakan. Setelah selesai, saatnyaaa..mengabadikan kenang-kenangan lagi dengan background alam yang oke punya. Hahaha. Saat yang paling mengesankan adalah ketika kami harus terengah-engah menaiki entah-berapa-anak-tangga untuk pulang, dan ketika sampai di tempat barulah kami tahu sudah 1.250 anak tangga yang berhasil dinaiki ;)

haloo! ini mukanya masih pada fresh sebelum harus naik-naik entah-berapa-anak-tangga

air terjunnya bikin basah, hujan lokal




wahai teman-teman baca apa yg ada di plangnya. Salam sehat!!
4.       Lunch time in Sop Iga Bu Ugi
Setelah amat sangat cukup lelah menaiki anak tangga dari Grojogan Sewu, dan alarm perutpun sudah berbunyi, meluncurlah kami menuju tempat makan siang. Maklum, sudah pukul 2 saat itu, saatnya recharge energy ;p Kami makan siang di Warung Makan Sop Iga, Bu Ugi. Tempatnya masih di sekitar Tawangmangu, daaan…cukup ramai. Sempat agak kesusahan cari tempat yang cukup untuk kami berdelapan, akhirnya kami kebagian tempat juga..di pojokan dengan dua meja terpisah -_- Tapi..yang penting makan. Hahaha. Satu porsi sop iga seharga Rp. 25.000 cukup memanjakan lidah dan mengenyangkan perut kami. Pokoknya tema hari itu makan enak selalu :9

5.       Taman Balekambang
Usai mengisi perut, dengan diiringi langit mendung kami meluncur menuju destinasi selanjutnya, yaitu Taman Balekambang yang letaknya masih di dalam kawasan Tawangmangu juga. Setelah membaca brosur keterangan mengenai objek wisata di dalamnya terlebih dahulu (because actually we don’t know how place this is) , akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket masuk seharga Rp. 6.000. Setelah masuk, kami sepakat tempat ini lebih cocok untuk tempat piknik anak-anak, bukan untuk orang-orang tua dewasa seperti kami. Hahaha. Hiburan yang ditawarkan di dalamnya ada kereta-keretaan, ATV, ayunan, jungkat-jungkit dan hiburan-hiburan sejenis lainnya. Baru sebentar menikmati waktu di sana, tiba-tiba..bresssss. Turunlah tumpahan air dari atap langit alias hujannya  deres banget K Sempet kejebak hujan cukup lama, akhirnya kami memutuskan nerobos ujan juga sampai parkiran.
hello, personel kuliah lengkap dengan dua orang absen. eh berarti nggak lengkap ya? Hahaha
6.       Dinner in Kafe Tiga Tjeret
Perjalanan di Tawangmangu selesai dan dilanjutkan perjalan pulang ke Jogja. Pukul setengah 6 kami mampir di masjid dulu untuk menunaikan sholat maghrib. Lalu perjalanan berlanjut ke tempat makan malam. Thank God, I have three times a day to eat delicious meal. Kata temen saya yang special tour guide, makan malam kami menunya adalah angkringan. So, guess what kind of angkringan is it? Yak! Kafe angkringan, tepatnya adalah kafe tiga tjeret yang letaknya dekat dengan kraton Surakarta. Menunya sih memang angkringan, tapi dikemas dalam bentuk sajian seperti di kafe-kafe. Menu makanannya khas angkringan seperti nasi bungkus angkringan tempe, teri, granat, daging, dan lain-lain, dengan lauk beraneka macam sate dan gorengan dengan range harga sekeitar Rp. 3.000-Rp. 6000 (kalo nggak salah ;p) Untuk menu minumannya yang khas adalah wedang tiga tjeret, yang merupakan racikan air jeruk, beras kencur, dan aneka rempah lainnya, saya nggak apal. Rasa minumannya, segar dan menghangatkan berhubung sepanjang hari itu hujan melulu. Haha. Yang beda dari kafe ini selain menyediakan menu angkringan adalah aneka penghias interior kafe yang sebagian besar diambil dari barang bekas yang direcycle. Seperti meja untuk makan yang memakai bekas meja mesin jahit dan kap lampu yang dibuat dari susunan akua gelas.
ini penampakan minuman wedang tiga tjeret refill-yg-lebih-banyak-ampas-rempah2nya-daripada-airnya-sebenernya
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, muka udah kucel, badan udah pegel. So it’s time to go home. Besok ada kuliah mameeen. Hahaha. Sepanjang perjalanan, dari berangkat sampai pulang kalian rame sekaliii, sampai-sampai saya nggak bisa menyalurkan hobi nempel molor. See you again for the next trip guys, semoga kita semua dilancarkan kuliahnya, ujiannya, tesisnya, cita-citanya, dan jodohnya *eh.

P.S : Supeeer thanks to you all. You guys totally made my day!!