Get me outta here!
Tampilkan postingan dengan label life journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life journal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Juli 2017

This present life.

Being a wife for almost 6 months, not too many things feels different than before. Things are not quite change as a whole..except..wake up in sunshine morning then thinking for a while about our breakfast today, washing and ironing clothes twice harder, shopping more groceries, squawking more often to push you to take a bath, to fold our blanket, to put everything in their right place..only if you were here. Only if we take a shelter in one place, only if we lie down on same bed, only if we met in the end of week, only if..
Life not really like others..we have our meal by ourselves, we sleep on different bed, we talk our whole day by phone, we're separated by miles..
If you asked me what's my favorite day..you literally know the answer. Friday is the happiest day, Monday is the hardest day. May be enough to ruin my day. This never be easy to let go of you..looking at your back while praying and hoping so that the day come faster to bring you back again.

This is certainly different from long distance relationship story like a couple before marriage. More than that..this is about the emotional bounded as a spouse.
Somebody doesn't know exactly how it feels..till s(h)e runs it by her/himself. Indeed.

You don't have to be worried. Our memories has locked up in my head, then spin over, over, and over. I hold these as a reminder that I have you as a man to raise me up when I was down, to make me laugh when I almost cry, to share your shoulder when my head feels severe, to give your support when I said why are these going to be so complicated?😔

You said, this would be worthed to wait..until Allah SWT implies..there will be time for us to have pillow talk everynight side by side. There will be only inches between us. Not in miles.

Last. Wish we get stronger as time goes by..so that we can strengthen each other.
Though we often fight and argue a lot, but we have much more love for each other. I adore you. My partner in life. Dear Husband.

We have run for almost 6 months and still counting. This never be easy to grow old with you for ups and downs. Nevertheless my whole life with you, things around us gonna be joyful and peaceful.
Thank you for caring and loving me this way.
I love you to the moon and never back.

Yogyakarta, 17th July 2017. 9.02 PM
(writing while you're sleeping)
Love,
6th months wife 💗




Jumat, 27 Mei 2016

Review Proses Rekrutmen Seleksi Calon Dosen

Hmmm..kayaknya saya lagi hobi bikin review deh. Setelah sebelumnya review soal perkewongan, sekarang saya mau sharing soal proses rekrutmen seleksi calon dosen yang pernah saya ikuti. Total seleksi yang pernah saya ikuti sejumlah 4 universitas swasta dan 1 universitas negeri. Banyak ya..wkwkwk. Apalagi kalo soal jumlah lamaran yang sudah dikirim, jangan ditanya..banyak banget boook. Mulai dari yang emang lagi buka lowongan sampai yang nggak lagi buka lowongan saya daftarin semua. Mulai dari yang dapet panggilan tes cepet sampai yang katanya buka lowongan tapi sampai sekarang nggak ada kabar *huft, eijke tjurhat* Langsung aja berikut beberapa pengalaman saya waktu ikut seleksi calon dosen di beberapa universitas setelah lolos seleksi administratif :

1. Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Tahu ada lowongan dari sini lewat internet, terus selang beberapa hari langsung dapet panggilan interview. Interview awal ini dilakukan oleh 2 atau 3 orang wakil rektor *kalo ga salah* sama ada sekitar 2-3 orang dosen lainnya. Waktu itu interview langsung dilakukan serempak ke 5 orang kandidat calon dosen,  3 orang dari Fisika, 2 orang dari Teknik Industri. Jadi kelima interviewee duduk jejer-jejer gitu sambil jawab pertanyaan gantian dari interviewer. Saya jadi inget model interview awal BRI dulu. Hahaha. Pertanyaannya diawali dari perkenalan diri, lanjut ke motivasi, pengalaman kerja,  apa yang kamu ketahui soal universitas ini, rencana sistem mengajar, rencana 5 tahun ke depan, tridarma perguruan tinggi, dll. Tapi karena sesuatu dan lain hal saya nggak nglanjutin seleksi di sini, jadi nggak tahu kelanjutannya. Hehehe

2. Universitas Sahid Surakarta
Awalnya asal masukin lamaran aja ke sini, ternyata nggak lama setelah itu malah ada lowongan di sini dan saya dihubungi untuk tes beberapa hari kemudian. Hari pertama tes adalah interview dan hari kedua adalah psikotes. Interview awal ini lagi-lagi dilakukan oleh petinggi kampus, yaitu wakil rektor dan satunya lagi saya kurang tahu siapa, yang jelas orang penting juga. Dan ternyataaa, wakil rektornya adalah bapak dosen senior saya di undip yang baru saja purna tugas. Bapak-bapak satunya lagi ada yang bilang dari ITB tapi asalnya dari Semarang juga. Daaan saya nggak jadi wawancara saudara-saudara, malah dengerin nasihat  dan cerita-cerita dari beliau-beliau itu -_- saya nggak banyak dikasih pertanyaan semacam motivasi atau penelitian atau apalah, tapi malah diajakin cerita soal undip, sma 3, dll. Wkwkwk. Karena sesuatu dan lain hal juga, saya nggak nglanjutin tes di sini. Hehehe

3. Universitas Jendral Soedirman Purwokerto
Rekrutmen di unsoed ini adalah seleksi untuk dosen kontrak, karena memang belum ada formasi cpns. Seleksi di sini terdiri dari beberapa tahap dan sistemnya bukan sistem gugur. Jadi peserta diharuskan untuk mengikuti semua tahapan tes sampai selesai, baru pengumuman lolos atau tidak. 
a. Tahap pertama adalah tes tulis kompetensi dan mikroteaching yang dilakukan di masing-masing fakultas. Tes tulis kompetensinya terdiri dari 5-6 soal uraian yang harus dijawab, seingat saya tentang manufaktur, pengantar teknik industri, project management, terus apalagi ya..saya lupa. Setelah itu peserta tes secara bergantian tes praktik mengajar atau mikroteaching di hadapan kaprodi, dekan, dan wakil dekan, dengan menggunakan materi yang sudah disiapkan sebelumnya. 
b. Tahap kedua adalah psikotes yang dilakukan bersama-sama dengan peserta tes dari fakultas lain. Psikotesnya standarlah seperti psikotes lainnya, termasuk ada warteg test, gambar orang dan pohon, dll
c. Tahap ketiga atau tahap akhir adalah interview dengan pejabat universitas. Seingat saya waktu itu interview dilakukan dengan rektor, wakil rektor, dekan, terus siapa lagi ya..saya lupa..sekitar 4-5 orang. Interviewnya cukup singkat, tentang perkenalan diri, motivasi, latar belakang keluarga, penelitian, publikasi, dll.
Jeda antar tahapan tes hanya sekitar sehari, sementara jeda antara tahap terakhir dengan pengumuman sekitar 2-3 minggu kalo nggak salah.

4. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Tahapan tes di UAD ini cukup banyak dan dengan sistem gugur. Jadi yang bisa lanjut tahapan selanjutnya adalah yang lolos tahap sebelumnya. Tahapan tesnya di antaranya adalah :
a. Tahap pertama, yaitu tes TOEFL, microteaching, psikotes, dan LGD. Tes toefl dilakukan serempak dengan semua peserta dari fakultas lain di lab bahasa. Kemudian, esok harinya dilakukan tes microteaching di kampus masing-masing jurusan. Pada saat saya microteaching, peserta di dalam kelas adalah kaprodi, perwakilan universitas, dan beberapa mahasiswa *wow, agak ngeri kalo ada mahasiswanya, wkwkwk* Terus besoknya lanjut psikotes tertulis, ya...standarlah seperti biasa. Besoknya lagi lanjut interview psikolog dan LGD *ini tesnya maraton banget emang -_-* Interview psikolog saya dapet interviewer yang enak, yang wawancaranya sambil ketawa-ketawa dan diselingi banyak cerita. Hahaha. Pertanyaannya ya standarlah..perkenalan, motivasi, latar belakang keluarga, pengalaman kerja, penelitian, dll. Setelah selesai interview dilanjut LGD yang dilakukan di kelas dengan 10 peserta, waktu itu topiknya sekitaran kampus, mahasiswa, dan Indonesia.
b. Tahap kedua, yaitu wawancara akademik. Interviewernya adalah wakil rektor bagian akademik *kalo ga salah* Wawancara cuma sekitar 10-15 menit kayaknya, singkat banget. Soalnya antrian intervieweenya panjaaaaaang, dan interviewernya cuma satu orang. Materi wawancara cuma perkenalan, penelitian, dan publikasi, pokoknya serba singkat. 
c. Tahap ketiga atau akhir, yaitu wawancara kemuhammadiyahan dan Al Islam. Jadi tahap ini dibagi dua orang interviewer. Di interviewer satu, kita diminta praktek mengaji dan ditanya seputar kemuhammadiyahan. Di interviewer dua, kita diminta praktik tayamum, wudhu, dan solat subuh.
Jeda antar tahapan tes sekitar semingguan, sedangkan jeda antara tahap terakhir hingga pengumuman akhir cukup lama, sekitar hampir sebulan.

5. Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Di UII saya sempat apply lamaran 2 kali. Yang pertama dari awal udah nggak lolos administrasi, karena syarat toefl minimal 550. Hahaha. Yang kedua setelah syarat toefl diturunkan menjadi 510, alhamdulillah diberi kesempatan untuk lolos administratif. Sistem yang digunakan untuk tahapan berikutnya adalah sistem gugur. Tahapan yang harus dilalui setelah seleksi administratif adalah :
a. Tahap pertama, terdiri dari dua hari. Hari ke-1, tes bahasa inggris dan potensi akademik, sedangkan hari ke-2, tes pengetahuan umum dan tes tulis pengetahuan agama. Tes bahasa inggrisnya mirip toefl walaupun nggak sama persis. Tes potensi akademiknya lupa kayak gimana..kayaknya sih mirip psikotes. Hahaha. Tes pengetahuan umum isinya kayak pelajaran kewarganegaraan gitu sama pengetahuan-pengetahuan dasar. Tes tulis pengetahuan agama juga sebenernya sama kayak pelajaran agama yang kita terima di sekolah, sifat-sifat Allah, macam-macam najis, dll, tapiiii...saya banyak yang udah lupa. Hahaha. 
Setelah tes tahap pertama ini saya langsung gugur. Wkwkwk. Tapi berhubung jadwal tes keseluruhan memang sudah diinformasikan di awal, jadi saya tahu tahapan-tahapan sesudahnya.
b. Tahap kedua, psikotes dan tes praktik keislaman.
c. Tahap ketiga, komitmen dan kompetensi.

Sekian sharing dari saya, semoga bermanfaat buat teman-teman yang berminat ikut rekrutmen calon dosen. Good luck fellas!

Minggu, 03 April 2016

Getting older..become more complicated choices then

"Selamat ya mbaa"
Line tiba-tiba dari sepupu saya yang mengabarkan jika saya dinyatakan diterima sebagai tenaga kontrak di sebuah PTN di Jawa Tengah. Sesuatu yang bahkan nggak pernah saya rencanakan sebelumnya. Kalo dulu ibu nanya kenapa nggak pengen ngajar di negeri, saya cuma jawab "nggak ah di swasta aja, lebih enak kayaknya, hehe" sumpah cetek banget. Pikir saya pada saat itu negeri pasti persaingannya berat, cuma orang-orang pilihan yang mampu, dan sepertinya saya bukan orang yang terpilih itu.
Beberapa minggu lalu.
X : "kamu serius mau daftar ke situ?"
Y : "ya, insyaAllah. kan belum tentu ketrima juga, itung-itung  buat latihan proses rekruitmen kalo aku mau daftar ke tempat lain"
X : "tapi itu jauh loh dari Semarang, kalo nanti kamu ketrima aku gimana?"
Y : "hmm..." (dan sayapun bingung harus jawab gimana, hahaha)
-------------
Saya masih bengong mengamati pengumuman hasil penerimaan yang dikirim sepupu saya. Berpikir keras dan udah kepikiran dari sebelum-sebelumnya sebenernya. Surely it doesn't include in my prior dreamboard. Saya memang bercita-cita ingin menjadi star pengajar hingga akhirnya memutuskan resign dari kerja untuk kemudian melanjutkan sekolah lagi. Rencana saya pada saat itu, setelah lulus kuliah pengennya kerja dekat rumah, ehehehehe. Semarang atau dulu saya pengen banget bisa hidup di Jogja, like what I write in 2012. Sesuatu yang saya pikir dulu impossible.
Then time flies..who knows it looks like not impossible anymore. Saya memang belum pasti 100% bisa hidup bekerja di sana seperti yang saya cita-citakan dulu, tapi peluang yang ada besar. Cukup besar. Harusnya saya senang mengingat saya adalah tipikal yang kalo punya keinginan "entah gimana akan selalu saya usahakan sampai titik penghabisan"
....
Tapi semangat saya untuk mewujudkan cita-cita itu sudah tidak menggebu-gebu seperti dulu.
...
Kembali ke soal tenaga kontrak.
Iya sih PTN, berpeluang untuk bisa jadi PNS, walaupun nggak selalu kualitas swasta di bawah negeri ya. Tapi pertimbangannya agak berat juga jadi tenaga kontrak, karena saya merasa masih nggak aman sebenernya.
Pertimbangan lebih berat lainnya adalah lokasinya yang cukup jauh dari rumah, walaupun masih sama-sama di jawa tengah. Saya tahu, harusnya bersyukur karena nggak harus sampai beda pulau. Tapi..ya..5-6 jam perjalanan pulang ke rumah  dengan ongkos lumayan buat tenaga kontrak..yaaaah..hahahaha.
Banyak hal yang berubah dalam beberapa tahun ini, termasuk kondisi keluarga. Bekerja dengan menetap di kota yang cukup jauh dari rumah sepertinya cukup berat mengingat kondisi keluarga saya yang sekarang. Karena saya akan sulit pulang sewaktu-waktu untuk menengok rumah..tapi di sisi lain saya seperti..I've to get my job soon..I couldn't doing nothing..panggilan hati  sebagai anak pertama. Saya nggak mungkin nggak melakukan apa-apa dengan keadaan sekarang, ada hal-hal yang bikin saya 'sengotot' ini untuk segera bekerja. Mungkin agak terdengar berlebihan. Tapi yaa..kondisi sekarang ini membuat saya merasa tertampar kalau ingat dulu saya gampang sekali mengeluh untuk hal-hal sepele, untuk hal-hal yang nggak seberat dibandingkan dengan masalah orang-orang lain di luar sana. Kadang-kadang kepikiran kenapa sekarang harus begini, kenapa Allah nggak mengembalikan keadaan keluarga saya menjadi 'baik-baik' seperti dulu, kenapa...ah God knows the best..then I should be grateful for who i am.
----------
Y : "kerja di Jogja itu udah jadi cita-citaku dari lama, udah sampai ditulis di blog malah"
X : "yaa.."
Y : "soalnya masih deket dari rumah juga, jadi aku masih bisa sering pulang. Dan sekarang peluangnya terbuka lebar. Terus..gatau kenapa emang pengen di sana dari dulu. Lagian di Semarang buat tespun aku kayak nggak dikasih kesempatan"
X : "rasa cita-citanya masih sama?"
Y : saya diam.. "Engga"
....
Semangat saya untuk mewujudkan cita-cita itu sudah tidak menggebu-gebu seperti dulu. Rasanya sudah tidak sama.
...
Jujur, semangat saya sedikit demi sedikit menguap. Semangat saya masih ada walaupun sudah nggak sebesar dulu. Apa yang terjadi beberapa waktu ini membuat saya harus sedikit mengubah haluan rencana-rencana besar saya. Bagi saya ini besaaaar walaupun mungkin bagi orang lain ini cuma remah-remah  Karena saya terbiasa membuat perencanaan-perencanaan dalam hidup dan berusaha sekuat tenaga untuk itu.

Alasan pertama, keluarga.

Alasan kedua, orang baru yang tiba-tiba datang dengan santainya dalam kehidupan saya, yang pada akhirnya menjadi bagian dalam rencana masa depan saya, yang membuat saya harus mempertimbangkan kembali langkah-langkah saya, yang kemudian membuat cita-cita saya dulu sudah tidak begitu menggebu-gebu.
Saya cukup beruntung karena saya nggak benar-benar harus merelakan beberapa hal yang saya inginkan. Alhamdulillah partner masih bisa diajak kompromi. Memang ada beberapa rencana yang perlu disesuaikan, tapi nggak lantas berubah total dari awal. Yang saya tahu, beberapa lainnya harus mengubah total cita-cita mereka. Meletakkan ego pribadi demi kepentingan bersama. Couldn't describe in the words..saya salut..karena saya bahkan nggak yakin bisa seperti itu. Hahaha

Pada  akhirnya, akan ada orang baru yang datang, kemudian membuat kamu rela mengalah untuk menomorsekiankan apa yang pada awalnya menjadi tujuan atau bahkan kamu harus membuat beberapa penyesuaian demi sama-sama merasa nyaman
Sekian waktu berlalu, dan rasanya sudah nggak seperti dulu.


3 April 2016, catatan demi saya bisa mengingat apa yang sedang saya alami sekarang pada beberapa tahun ke depan.

Jumat, 11 Desember 2015

Milestone kesekian



We never know what will happen in a second. Like I am. A few weeks ago was one of my big day, the day that i have to defend my master thesis.

Akhirnyaaaa, setelah hampir 2 tahun kembali duduk di bangku kuliah, tiba juga waktunya sidang akhir pendadaran yang seolah jadi penanda gerbang kelulusan. Setelah hampir setahun saya bergelut dengan segala hal yang berkaitan dengan penelitian tugas akhir, 23 November kemarin tiba juga waktu untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya kerjakan untuk penelitian di depan dosen-dosen penguji.
Daaaaan..singkat cerita, nggak sampai 1,5 jam di dalam ruang sidang, alhamdulillah lulus dengan revisian. Beberapa pertanyaan saya nggak bisa jawab, beberapa pertanyaan dijawab pake mikir lama, beberapa pertanyaan dijawab muter-muter dulu, beberapa pertanyaan dijawabnya harus diarahkan dosen dulu *akuhparahbanget* Hahaha..but it doesn’t matter anyway. Saya udah berusaha dan berdoa sebelumnya, hasil akhirnya serahkan sama yang di atas. hehehe
Apa yang saya lakukan selama hampir setahun untuk penelitian terbayar sudah. Mulai dari survei keliling Jogja sampai Klaten sambil bawa-bawa peta sendirian, ditawarin MLM gara-gara buka peta di tengah jalan, keluar masuk perusahaan-perusahaan, dinas-dinas, kantor gubernur, pustral sambil bawa-bawa proposal, dan lain sebagainya.


muka-muka fresh from the oven habis ujian

it has been 6 years (and still counting~) since i learn for industrial engineering

bukan dari teknik mesinnya, cuma numpang foto aja

Lalu..saya jadi flashback yang dulu-dulu. Februari 2014 pertama kalinya datang ke Jogja sebagai mahasiswa. Setelah pake acara galau-galau dulu soal mau lanjut sekolah lagi.
Terus..sekarang bahas yang seriusnya. Total SKS yang harus diselesaikan selama 4 semester sebanyak 44 SKS.Detail mata kuliah yang saya ambil di antaranya :

  • Semester 1 : Asas Teknik Industri, Metodologi Penelitian, Komputasi dan Pemrograman, Pemodelan Sistem; masing-masing 3 SKS
  • Semester 2 : Optimasi, Statistika Lanjut, Otomasi Sistem Manufaktur, Manajemen Proyek Lanjut, Teori Keputusan Lanjut, Data Mining; masing-masing 3 SKS 
  • Semester 3 : Teknik Rantai Pasok, Metaheuristik; masing-masing 3 SKS
  • Semester 4 : Tesis; 8 SKS

Saya...speechless mau nulis apa lagi. Saya cuma mau nulis aja, biar momen ujian akhir ini, yang jadi salah satu milestone di hidup saya nggak jadi lupa gitu aja. Biar saya inget, saya pernah sejauh ini melangkah. Huft, menye-menye.

Apalagi kalau ditarik mundur ke belakang lagi, 2008 yang lalu waktu saya masih awal jadi mahasiswa baru S1, masih alay-alaynya nulis blog, masih galau-galaunya gara-gara nggak diterima di universitas idaman. Singkat cerita, saya bisa menerima dan bertekad menjadi sebaik-baiknya yang saya bisa di manapun saya berada untuk belajar. Akhir 2013,  entah bagaimana setelah memutuskan keluar dari kerjaan pada saat itu, Allah swt ternyata kasih saya kesempatan untuk kuliah di kampus yang dulu pernah menolak saya mentah-mentah. Hahahaha.
Tuhan suka bercanda ya? The best God joke ever. Malu sendiri rasanya dulu sering bertanya-tanya kenapa doa saya nggak dikabulkan, kenapa kerja keras saya terasa sia-sia. Ternyata doa saya bukannya nggak dikabulkan, tapi ditunda karena memang belum waktunya... Dan nyatanya saya justru mendapat lebih dari apa yang saya minta sebelumnya.
We never know what might be happened tomorrow..but God knows the best. Huft, ini lebih menye-menye.

Setelah ini saya akan kembali memulai satu fase baru dari awal *bentangkan dreamboard lebar-lebar* Deg-degan sih, agak takut kalo kenapa-kenapa..but they convince me that this is gonna be allright. Sudah cukup saya berada di zona nyaman sebagai mahasiswa di Jogja. Hahaha

Btw, malam ini harusnya saya nyicil packing barang-barang yang harus dibawa pulang ke Semarang..tapi males. Tinggal menghitung hari saya hengkang dari Jogja, kota yang udah jadi rumah kedua buat saya, yang dari awal saya datang, saya nggak pernah merasa asing sama kota ini, saya merasa diterima sepenuh hati *oke ini lebay*
This 2 years full of things related to you..I couldn’t say anything, yet I really felt a sincere kindness.  Still being a good partner, still being a humble friend, for everyone that came over to see you.
Sebab kata Joko Pinurbo, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Sebab itu di setiap sudutnya ada memorabilia yang menunggu, ada kenang yang terulang menjelang petang, dan ada syukur yang dirayakan saat semesta mengizinkanmu kembali datang.

Yogyakarta, 11 Desember 2015.
Postingan ngalor ngidul tiba-tiba tanpa editing karena di luar hujan.

Senin, 21 September 2015

Almost 25

Randomly she asked me unexpected question this morning, “jadi kamu sebenernya sama mr. X itu gimana?”. She is my mother. Jedeerrr jedeerrrr!!!  I was just smiling like an idiot, “ya gitu, nggak gimana-gimana, hehehe”

Taking seriously or not at allshe said again. Jedeerrr jedeerrrr!!! I was just smiling like an idiot for the second times, “aku nggak main-main...” *sambil memilin ujung baju* Seems took less care if i have a crush on someone, but trully she keeps her mind on me.  Termasuk diam-diam mendengarkan ketika si adik mulai bergosip tentang saya.
..*taking a deep breath* I really didnt mean to be a cruel one for the sake of ours.  

“terus temen-temenmu udah tahu?” she asked me again. Saya geleng kepala. “temen-temennya?”, “ada beberapa yang tahu”
“harusnya kamu kenal orangtuanya juga. udah pernah ke rumahnya?”
Jedeerrr jedeerrrr!!!  *udah nggak bisa senyum lagi*
“udah pernah diajak, tapi nantilah..”
--dear captain, i bet you must be laugh harder and harder when you read this unimportant note. i absolutely lost---

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebenernya ini bukan saya banget yang mau tulis-tulis beginian di sini, jadi semacam curhat terbuka *semoga nggak ada yang baca* Tapi berhubung saya udah janji mau cerita dan ternyata saya nggak sampai hati dan angkat bendera putih kalau harus ngomong langsung jadi akhirnya dicatatlah di sini. Nanti keburu lupa kata kamu.
Sebenernya saya masih antara percaya nggak percaya sih apa yang sudah saya alami sejauh ini. Banyak hal yang bikin saya jadi sering skeptis soal cinta-cintaan *oh maaaan, sumpah ini saya nggak lagi galau. nulisnya aja sambil senyum-senyum nggak jelas*
Bukan cuma dari diri sendiri, tapi lihat dari sekitar juga, banyak sakit hati, banyak patah hati, banyak yang deketnya sama siapa, jadian sama siapa, nikah sama siapa, banyak cerita unfinished business, banyak iseng nggak jelas, banyak berantem nggak jelas, dan lain-lain yang bikin saya jadi males sendiri. Atau karena sudah terlanjur, terlalu lama sendiri, bisa-bisa jadi jomblo perak. Ulangtahun ke 25 masih single aja. Wkwkwkwkkwk.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“loh emang kenapa?”
“hmmm..nggak ngerti bu, awalnya juga deketnya bukan sama aku. entah gimana kok bisa jadinya begini. hahahaha. bla bla blaa.......”

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya termasuk penganut paham pindah ke lain hati nggak akan pernah bisa jadi semudah itu. Makanya saya sering nanya, ‘kamu serius? ‘ atau ‘ini bukan karena kamu kesepian kan?’ atau ‘mungkin kamu salah menafsirkan perasaan’ atau yang ekstrim ‘ini bukan karena pelarian kan?’ Hahahaha. Dan kamu selalu punya jawaban atas semua itu..but somehow..sometimes, still im not sure that the person is you

Beberapa waktu lalu saya pernah tulis di tumblr begini, ‘i wish i have a serious one. but im not sure that im ready for that kind of relationship yet
Saya selalu berdoa supaya dikuatkan hatinya, dijaga hatinya biar nggak mudah meleleh untuk seseorang ketika saya memang belum siap. I have to finished many things, many business, by myself, before allow someone to take a part in mine. though just a little bit.
Biar egois saya habis dulu kata orang-orang. Kalau kata kamu sih urusan nggak akan pernah ada habisnya, kenapa nggak dijalani bersama, dengan dijalani berdua menjadi lebih ringan harusnya.
Mungkin kamu lupa, prakteknya dua kepala yang berbeda lebih sulit mengeluarkan kata sepakat bersama. Hahahaha.

Saya tahu ketika memutuskan akan melakukan apapun itu, selalu ada resikonya. Termasuk ketika jatuh cinta harus sepaket dengan siap sakit hati. Hahahaha
then..am i just afraid of feeling hurt?

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lalu seperti diingatkan kembali tadi pagi lewat pertanyaan ajaib tiba-tiba dari ibu.
i almost turn 25. am i really not ready yet?
Kadang saya jadi bertanya ke diri sendiri, “apa iya kamu beneran belum siap? udah mau 25 loh”
*yang lain udah ada gandengan, udah sebar undangan, udah married, udah bawa anak, udah mikir KPR, saya udah ngapain aja yaa... duh Gusti...kemudian pingsan*
 
Welcome soon 25, I wish you totally throw away your skeptical.
your life is yours *self reminder. again*
*yaampuuuunn ini kok kalo dibaca lagi rasanya menye-menye bangeeeet. pfffft.
anyway, terimakasih udah sering bikin saya ketawa, jadi lupa kalo lagi sedih. hahahaha. maafkan mood swing yang nggak kenal waktu dan kondisi ini.

Senin, 17 Agustus 2015

Tentang satu frekuensi.


Garputala akan bergetar manakala menyerap frekuensi yang sama. Dan garputala itu juga akan menggetarkan garputala di sekitarnya, bila ia menangkap gelombang getaran yang identik dengan dirinya. Tetapi bila gelombang yang digetarkan tidak pada frekuensi sama, garputala tersebut tidak bergetar dan juga tidak menggetarkan garputala yang lainnya. Begitu juga dalam hidup ini. Pergaulan kita dengan orang lain, juga menganut hukum seperti itu. Hukum frekuensi yang sama (amarudins.blogspot.com)
X : "Hahahaha, kita emang sefrekuensi. Kalo gitu namanya jodoh bukan ya?
Y : "Hahahaha. Entahlah. Frekuensi itu lama-lama bisa disesuaiin gak sih?"
X : "Frekuensi bisa disesuaiin kalo salah satu ada yang mau menyesuaikan"
Y : "Harus ada yg ngalah berarti?"
X : "Pernah denger, kalo mau berdua itu harus sama-sama kuat? Bukan yang saling menguatkan?"
Y : "Itu kata bapaknya Saka"
X : "Menurutmu, kamu setuju mana? Saling menguatkan atau sama-sama kuat?"
Y : "Kuat dan kuat jadinya kuat kuadrat, jadi kekuatan super. Hahaha. Bedanya apa saling menguatkan sama sama-sama kuat? Kalo dua-duanya udah kuat juga bisa saling menguatkan"
X : "Kalo dua duanya sama kuat belum tentu bisa saling menguatkan"
Y : "Maksudnya? Malah jadi pada mau menang sendiri?"
X : ''Iya. Bisa jadi"
Y : "Itu tergantung kuatnya kayak gimana"
X : "Karena mereka yang kuat memiliki ego yang kuat, yang berpikir ke-aku-an yang kuat. Tapi mereka yang lebih kuat justru mau mengakui kekalahan. Hahahaha"
Y : "Kalo sama-sama mau menang sendiri itu kelemahan bukan?"
X : " Iya, dalam arti lain"
Y : "Kuat yg baik itu yang sama-sama kuat dan bisa saling menguatkan"
X : "Aku setuju. Nah, itu dia kunci buat bisa sefrekuensi. Kadang tiap orang frekuensinya bisa berubah"
Y : "Ah kamu. Sok-sokan setuju aja. Padahal yang begitu prakteknya susah. Hahahaha. Maksudnya bisa sefrekuensi itu kalo ga saling menang sendiri gitu? Tapi ada juga orang yang sudah berusaha menyesuaikan frekuensi, nggak menang sendiri, tapi tetep endingnya gak bisa sefrekuensi juga"
X : "Hahahaha. Iya prakteknya susah. Kalo sama-sama berusaha InsyaAllah terasa lebih mudah. Nah, kira-kira kenapa udah kaya gitu tapi belum bisa sefrekuensi?"
Y : "ya karena...memang nggak bisa. Hahahaha. Entahlah"
X : "Hahahaha, karena tinggi frekuensinya terlalu jauh. Kaya nada do sama nada si. Ga bisa ngejar beda frekuensinya"

Ini tentang frekuensi. Iya. Frekuensi yang sering disebut-sebut dalam mata pelajaran Fisika di kelas, bab getaran dan gelombang. Bertahun -tahun lalu saya pernah ngobrol sama teman baik, ala-ala anak SMA gitu. Katanya orang baik itu belum tentu cocok sama kita, dalam konteks ketika kamu ingin dekat dengan seseorang. Walaupun begitu, mungkin saja dia cocok dengan orang lain, atau dengan kata lain, sama kamu nggak nyambung, sama orang lain nyambung-nyambung aja. Hahaha. In the end yang saya tangkap pada saat itu adalah yang baik belum tentu cocok sama kamu. Alasannya saya nggak tahu kenapa.
Tapi sekarang saya tahu jawabannya. Karena tidak satu frekuensi yang sama. Jadi hati garputala nggak bergetar.
Mungkin nggak senua orang bisa saling menyesuaikan untuk jadi satu frekuensi. After many times run then you still have no idea, you often stuck on conversation. Sudah mencoba tapi tetap tak bisa satu frekuensi, bisa saja terjadi. Hahaha

Terus beberapa waktu lalu, sebenernya udah agak lama juga sih, saya nemu artikel dengan isi yang mirip-mirip perkara di atas.
Ketika kamu berada dalam frekuensi yang sama dengan seseorang, akan menjadi lebih mudah bagimu untuk dekat dengan orang tersebut. Akan muncul rasa cenderung nyaman, begitu sebaliknya.
Sedikit kutipan dari artikel yang ditulis Ustadz Faris Khairul Anam :

Perhatikan, Nabi tidak mengatakan Jika datang padamu lelaki beragama dan akhlaknya baik. Namun Nabi mengatakan, Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan perangainya.
Apa bedanya?
Pernyataan pertama dan itu tidak diucapkan Nabi bermakna, orangtua harus menikahkan anaknya dengan lelaki shalih, dan bahwa lelaki shalih itu pasti akan menjadi suami shalih. Namun pernyataan kedua yang diucapkan Nabi memberikan pengertian pada kita bahwa orangtua dalam memilih calon menantu, syaratnya harus ridha terhadap agama dan perangainya, karena memang tidak semua lelaki shalih, kau setujui cara beragama dan perangainya. Jadi, ada unsur penilaian manusia di sini. Sedang penilaian manusia itu hanya terbatas pada sesuatu yang lahiriah atau yang tampak. (artikel lengkap di sini)
Yang dimaksud dengan lelaki shalih tentunya kriterianya ya begitu, agamanya baik, akhlaknya baik, dan lain sebagainya. Antara satu orang dengan yang lainnya nggak akan beda jauh kasih penilaian untuk tanda-tanda lelaki ini ketika mereka sudah cukup mengenalnya. Tapi, ternyata itu saja nggak cukup. Katanya lelaki shalih belum tentu menjadi suami shalih. Bergantung bagaimana ridho terhadap agama dan perangainya, sejauh apa kita bisa menerima segala yang ada dalam dirinya.
Jadi, kepala rumah tangga yang ideal bagi Anda dan seluruh wanita muslimah adalah: Pertama, lelaki shalih. Kedua, memiliki perangai yang sesuai dengan karakter Anda, dan ini nisbi atau relatif, yang tidak mungkin bisa dijawab kecuali oleh Anda sendiri.
Saya tandaskan, seseorang kelihatannya beragama dan berakhlaq baik. Namun ia memiliki beberapa sifat yang tidak cocok bagimu. Sebaliknya, justru ia cocok untuk orang lain, bukan untukmu.
Keshalihan seorang lelaki memang menjadi syarat bagi wanita yang ingin menikah. Namun, itu saja tak cukup. Perlu dilihat kemudian munasabah (kesesuaian gaya hidup, meski tak harus sama), musyakalah (kesesuaian kesenangan, meski tak harus sama), muwafaqah (kesesuaian tabiat dan kebiasaan). Sekali lagi, aspek kedua ini sifatnya relatif, tidak bisa dijawab kecuali oleh wanita yang akan menikah dan keluarganya.
Jadi, sejauh apa kita bisa menerima segala yang ada dalam dirinya berarti sebenernya melihat tingkat kecocokan tadi. Agak subjektif sih, karena setiap orang punya karakter sendiri-sendiri, punya pemikiran sendiri-sendiri, punya frekuensi sendiri-sendiri, yang akhirnya cocoknya sama siapa beda-beda juga. Hahaha. Mungkin bisa jadi begini hubungannya, frekuensi sama=tingkat kecocokan tinggi=tingkat toleransi tinggi.
Oh ya, tentang kecocokan pun menurut saya bukan yang saling punya banyak persamaan. Nggak seru juga kalo pasangan selalu setuju atau iya-iya aja. Bosen kan, nggak ada bahan yang bisa diributin didiskusikan untuk dicari jalan tengahnya bersama.
Kecocokan itu yang bisa jadi satu frekuensi dan saling menyesuaikan, kamu merasa nyaman, tanpa salah satu dari kalian merasa terbebani. Bahkan ketika beda pendapatpun justru kalian menjadi lebih kuat, karena satu frekuensi yang sama menjadi lebih mudah untuk saling mengisi kekuatan satu sama lain *ini kayaknya nggak nyambung, tapi biarin*
Aduh banyak maunya eijke. Iya, memang. Hahahaha

Beberapa mungkin termasuk tipikal orang yang antipati sama hal-hal baru, mungkin ragu-ragu, terlalu banyak pertimbangan, banyak ketidakyakinan, beberapa bilang picky, terlalu banyak tapi, dan lain sebagainya. Ada hal-hal yang sulit dijelaskan, soal kecocokan. Jadi, hal-hal seperti itu boleh nggak dijawab kalau memang belum nemu yang satu frekuensi?