Get me outta here!
Tampilkan postingan dengan label memori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memori. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2015

Many things happened, everything has changed.



It has been almost one and a half years since I took my master program here, since I lived as student (again), since I quit from my full time job, and since I started to rethink what must I do for the better myself. Sebenernya saya nggak tau mau nulis apa sih..cuma tiba-tiba kepikiran the time flies really fast. Semuanya berjalan cepet banget, apalagi kalo inget umur, haaah.
And this blog has grown up with me sincerely.These stories of felicities, sadness, confusion, and so on, I wrote here with my random thoughts about anything. Mulai dari umur saya yang belum kepala dua, sampai sekarang yang udah kepala dua lebih. Mulai dari jaman alay sampai sekarang yang (semoga) udah nggak alay, mulai dari jaman galau sampai sekarang  yang (semoga) udah nggak galau. Hahahaha
Jadi..hemm..apalagi ya.. bingung juga ya bikin tulisan yang nggak jelas gini. Hahaha
Jadi kuliah saya udah masuk semester 3, semesternya udah hampir habis malah. Sebentar lagi UAS dan kalau sesuai rencana dan berjalan lancar, semester 4 tinggal nyelesain thesis aja *ini keliatan gampang banget nulisnya, tapi ekskusinya..hufft* Terus setelah lulus, saya harus apply-apply kerjaan lagi, mengulang lagi fase-fase habis lulus S1 dulu. Bedanya sekarang saya udah mulai tau lebih spesifik mau dibawa ke mana hidup saya nanti. Jadi dulu nggak tau? not totally. Dulu masih gampang terombang-ambing ikut arus sih, hehe. Lagipula pembelajaran kan memang butuh proses, dan proses butuh waktu,and I get that point then.
Kalo lagi nggak ada kerjaan atau lagi banyak kerjaan tapi suntuk, saya suka iseng baca-baca apa yang saya posting di sini dari jaman entah kapan sampai sekarang. Terus jadi senyum-senyum sendiri, jadi mikir ini kejadian kapan, jadi flashback, jadi berasa..urrrgggh begitulah. Puas rasanya inget apa aja yang udah pernah saya lakuin sampai sejauh ini. Dari tulisan yang sedikit  banyak burst me into emotional feeling, sekadar iseng, atau yang literally i was sinking down to the bowl of happiness. Saya pernah yah sebegitunya, hehe.
Blog pertama saya ini seakan-akan jadi saksi hidup saya dari waktu ke waktu, dari postingan masih SMA (sorry, this posts have been deleted. posting khas abg ini malu-maluin banget -_-), kuliah, kerja, sampai sekarang kuliah lagi. Hmm..kalo diliat-liat ada perbedaan tulisan yang saya buat di setiap fase tadi walaupun karakter tulisannya masih sama.
Sampai sekarang saya masih suka nulis...tapi nggak rajin. Tapi dari dulu emang nggak rajin sih..dan nggak jelas, hehee~
Biar gimanapun, biar saya nggak rutin nulis di sini, biar sampai berbulan-bulan lamanya baru nulis *ini payah banget sebenernya* Tapi blog ini harus tetep ada isinya, harus tetep jadi saksi hidup saya untuk waktu-waktu berikutnya. Hahahaha..laah piyee yaaa kui. Semoga setelah ini nggak males buat nge-diary di sini. Diary di sini yang nggak private-private banget maksudnyaaa. Jadi saya bercita-cita buat merangkum semua perjalanan saya setelah ini... have graduated, getting a job, working, wedding preparation, the big day, having a little baby, and so on *ya ampuun ini aku mikirnya terlalu jauh ke depan gak ya? eh tapi gapapa ding, visioner itu perlu* mungkin aku kebanyakan blogwalking ke blognya emak-emak..jadi begini --“

PS: saya pelupa maka saya menulis. saya membaca lalu memori yang sempat hilang terpanggil datang. this really reminds me, sudah sejauh itu jalan dari Tuhan untuk memberi saya banyak pelajaran. i have to start writing, cause there will be no repetition of those moments in the future.

Minggu, 06 Juli 2014

Pemilik Semesta Keren ya :')

Pasca kelulusan S1, entah mengapa saya jadi lebih merasa peka terhadap hal-hal yang membuat saya jadi berpikir betapa super kerennya Tuhan pemilik semesta raya. Banyak kejadian yang bikin saya bergumam dalam hati, "kok bisa ya?"
Sederhana sih sebenernya, tentang pertemuan yang terasa nggak sengaja tetapi sebenarnya semua sudah direncakan Tuhan. Atau tentang manusia-manusia yang ternyata saling terkoneksi satu sama lain di semesta yang super duper luas ini *ini ngomongin apa sih sebenernya. kenapa kata semesta diulang berkali-kali. biarin. suka-suka saya, saya lagi pengen aja*
Jadi, pernah nggak sih ngalamin kalau teman kita di lingkaran pertemanan A ternyata bisa kenal sama teman kita lainnya di lingkaran pertemanan B. Terus setelah itu saya cuma bisa bilang, "wah, kok bisa..dunia sempit ya ternyata"
Sepele memang, tapi kalau dibayangin dari bermilyar-milyar penduduk dunia, oke kita sempitkan saja jadi 250juta penduduk Indonesia, probabilitas dua orang saling kenal kan lumayan kecil.
saya : "haloo apakabar? udah lama banget nih nggak ketemu. sekarang domisili mana?"
seorang teman : "alhamdulillah baik. iyaa nih. sekarang aku kerja di X di Sumatra, ketemu sama temen baikmu si A"
s : "Oh ya? temen SMAku ituu. kok bisa..dunia sempit ya tenyata"
 Itu percakapan tiba-tiba lewat whatsapp antara saya dan seorang teman yang lost contact sudah cukup lama. Sekarang dia bekerja di oil service company ternama..dan ternyata dia menjadi partner dari teman SMA saya. Siapa sangka? What an amazing universe!
Teman kuliah saya di Jogja pernah whatsapp saya suatu ketika, "kenal sama si B nggak?" Saya jawab, "temen SMAku ituuu. kok bisa tau?" Katanya, "aku barusan kenalan. dia temennya temenku yang kemarin aku ceritain mau daftar kuliah di sini"
Meskipun sedikit complicated (temennya temenku), hahaha, tapi pada akhirnya tetap berujung kami yang saling terkoneksi satu sama lain. Atau tiba-tiba teman saya di Jogja bertanya "kenal sama si C nggak? kemarin aku ketemu waktu tes kerja. dia dari Undip katanya" Ya iyalaah, dia temen saya sejurusan, seangkatan pula -_-
Beberapa waktu kemudian teman yang sama tiba-tiba wa saya, "aku ketemu lagi nih sama temenmu, si D sama si E. mereka dari sipil sama elektro Undip, katanya temen SMAmu," Teman saya ini lagi proses tandatangan kontrak setelah dinyatakan lolos dari tes kerja yang diikutinya kemarin. Dan sebenernya masih banyak kejadian yang bikin saya berucap "dunia sempit ya"
Tentang pertemuan yang tiba-tiba juga begitu. Dulu, setiap pulang naik kereta dari Jakarta ke Semarang atau sebaliknya, sering banget ketemu sama orang-orang yang entah sudah kenal baik atau sekadar kenal saja. Herannya, dari sekian banyak orang yang ada di stasiun atau dari sekian banyak pilihan jadwal pulang kenapa bisa pas ketemu gitu ya sama mereka. Kalau kata Gusti Allah, "Tentang pertemuan, tidak ada yang kebetulan. Semua sudah digariskan pada rencana Tuhan"
Suatu ketika, saya dalam perjalanan balik dari Semarang ke Jakarta dengan seorang teman SMA menggunakan kereta ekonomi *jangan tanya kenapa, biar ekonomis aja* Berhubung naiknya kereta ekonomi, duduknya pun harus hadap-hadapan sama penumpang di depan, dengan model kursi tegak lurus alias 90 derajat menopang punggung *pegel mameeen* Seperti biasa, awal perjalanan sebelum ngantuk saya rumpi cerita-cerita cantik dulu sama teman saya ini. Topiknya tentu saja tentang nostalgila SMA karena kami satu sekolah. Setelah beberapa waktu bercakap-cakap, tiba-tiba mas-mas di depan saya memotong pembicaraan, "mbak boleh gabung nggak? saya alumni sma 3 juga loh, angkatan xx (angkatan 90an gitu deh saya lupa)" Saya dan teman saya shock, berarti dari tadi kami ngobrol seenak jidat mas-mas ini ngerti dong -_-
Mas-mas di depan ini kemudian bercerita bahwa dirinya sedang dinas di Jakarta. Sebagai seorang TNI, dirinya harus LDR dengan istrinya yang seorang dosen Fakultas Kedokteran Unisula Semarang, yang ternyata teman SMA-nya juga -_- Jadilah kami ngobrol ngalor ngidul bertiga. "dek, dapet salam si F, si G, dll (teman-teman seangkatan saya di SMA). Saya dulu paskibra, jadi masih sering kontak-kontakan sama mereka di grup BB" kata mas-mas satu almameter yang saya lupa namanya itu. Alhamdulillah, kecanggihan teknologi bisa mendekatkan yang jauh. Semoga nggak menjauhkan yang dekat :p
Pertemuan yang mengejutkan lagi-lagi terjadi pada saat saya lagi nunggu kereta di Gambir. Saya yang kehabisan tiket mudik Lebaran, akhirnya harus nongkrong sendirian di Stasiun Gambir menunggu jadwal keberangkatan kereta saya. Di saat lagi duduk-duduk dan mencoba menyibukkan diri sendirian dengan baca-baca biar nggak keliatan kayak anak ilang di stasiun, tiba-tiba ada sosok wanita sebaya yang lagi seret-seret koper berisik di depan saya. Saya mendongak, dia lihat ke arah saya, saya lihat ke arah dia, kami lihat-lihatan untuk beberapa detik. Sampai akhirnya kami kompakan tertawa sambil berkata, "kok bisa ya ketemu di sini," Ternyata lagi-lagi pertemuan tanpa rencana dengan si H seorang teman baik semasa kuliah. Setelah itu kami saling bercerita keadaan masing-masing dan apa saja yang terjadi pasca kelulusan *btw, kayak apaan aja yah*, tidak lupa foto selfie alay cantik dulu sebelum akhirnya teman saya berpamitan karena keretanya sudah tiba.
ini cemilan waktu di kereta. nggak nyambung ya? iya, emang.
Btw, ini hasil selfie pertemuan tak terduga di stasiun Gambir
Beberapa waktu kemudian, saat arus balik dari Semarang ke Jakarta, lagi-lagi ada momen pertemuan mengejutkan di dalam kereta. Waktu itu saya naik kereta bisnis, jadi duduknya nggak perlu hadap-hadapan lagi, haha. Ada mbak-mbak yang duduk di depan saya, kelihatannya kenal nih. Tapi nggak berani nyapa duluan berhubung cuma lihat dari belakang. Kalau salah orang kan maluu boook. Tiba-tiba saya nggak sengaja batuk-batuk, dan mbak-mbak di depan saya noleh ke belakang. Jadi, ini hikmah saya kena flu pasca lebaran -_- Ternyata mbak tadi adalah kakak kelas saya waktu SMA. Karena bangku sebelah mbak I kosong, saya pindah duduk di situ. Dan sudah bisa ditebak, kami ngobrol ngalor-ngidul begituu, cerita tentang mbak I yang hijrah ke Bogor untuk kerja di salah satu perusahaan developer ternama sampai cerita soal pacarnya mbak I sedari SMA. Wuidiiih. Jadi rumpi banget nih. Hahaha. Sebelum turun dari kereta, kami nggak lupa foto selfie cantik dulu walaupun muka udah kucel *jangan tanya kenapa harus pake acara foto tiap ketemuan sama orang, sayapun tak tahu jawabannya*
Cerita yang menurut saya sedikit lucu juga dialami seorang teman SMA saya. Perkenalan yang entah bagaimana membuat dia jadian sama seseorang yang ternyata adalah kakak kelas waktu SMA. Padahal semasa SMA, dia sama sekali nggak tahu-menahu apalagi kenal sama si masnya itu :0
Atau cerita yang kedengarannya dongeng banget yang pernah saya baca waktu blogwalking. Si pria ternyata sudah pernah berkenalan dengan si wanita ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Hanya sekadar perkenalan bocah biasa. Sampai akhirnya, siapa sangka sepuluh tahun kemudian mereka dipertemukan kembali, lalu menikah. Si wanita lupa pertemuan pertama mereka, namun si pria tidak. Perkenalan yang cuma beberapa menit itu ternyata masih diingatnya, sampai akhirnya mereka bertemu lagi ketika sudah sama-sama dewasa.
Cara Tuhan untuk mengatur pertemuan dari setiap kita kadang-kadang terasa comical banget yah. Hehe. Tapi nyatanya toh memang begitu yang dikehendaki Tuhan dan kita menikmatinya. Saya sangat menikmatinya. Semakin dewasa seseorang, lingkaran pertemanannya jadi makin luas, karena entah bagaimana ternyata setiap dari kita jadi terkoneksi satu sama lain. Dan semua pasti setuju, rasanya senang punya banyak kenalan yang tersebar di semesta, at least Indonesia dulu kali ya, hehe. Sebab ke manapun kaki-kakimu melangkah, kamu nggak akan kesepian. Ada mereka-mereka yang bisa jadi teman minum kopi atau sekadar berbincang ringan tentang apa-apa yang terjadi pada kalian di masa dahulu atau berbagi bersama tentang rencana masa depan.
"Ja, enak kali ya kalau ternyata jodoh kita adalah orang baru yang sebenernya nggak baru-baru amat gitu, nggak jauh-jauh dari lingkungan yang sama kayak kita. Maksudnya, mungkin kita emang belum pernah kenal atau belum terlalu mengenal dia, tapi sebenernya dia berada dekat di dalam lingkaran kehidupan kita. Mungkin kita aja yang ‘nggak ngeh’ kalau sebenernya 'dia sudah ada' Jadi kita nggak perlu repot-repot cari tahu tentang dia lebih dalam, karena yang masuk ke dalam lingkaran kehidupan kita udah pasti orang-orang pilihan," kata saya pada seorang teman suatu hari. Dia cuma manggut-manggut saja. Pemilik semesta keren ya :’)

Senin, 24 Maret 2014

Sebelum Lupa




Postingan ini dibuat pada hari Jumat, pukul 12.40, sepulang makan mie ayam yang enak di Taman Siswa sama seorang teman, setelah kuliah Pemodelan Sistem dengan bab Integer Programming yang bikin puyeng sama angka-angkanya, sama grid pointnya, sama lamdanya, sama zetanya, dll. Fiuuh! Oke, abaikan saja.
Mungkin postingan ini bagusnya dikasih judul “Sebelum Lupa” kali ya. Soalnya saya buru-buru buka laptop di kos, sebelum akhirnya lupa sama serangkaian abjad acakadut yang sudah terbayang-bayang di kepala.

Kalau ada yang nanya hal apa yang membuatmu paling bersyukur di dunia jawabannya adalah...semuanyaa. Hehe. Allah sudah berbaik hati ngasih kita anggota tubuh yang lengkap, pikiran yang sehat, keluarga yang bahagia, dan lain sebagainya. Fabiayyi ala irabbikuma tukadzziban. Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan.
Salah satu hal dari sekian banyak hal yang paling saya syukuri, di antaranya adalah lingkungan tempat saya bertumbuh. Mulai dari lingkungan keluarga tempat saya mulai dibesarkan sampai ke lingkungan pertemanan yang secara nggak langsung banyak berpengaruh juga membentuk kepribadian saya. Saya amat sangat bersyukur dengan anugrah Allah yang satu ini.

Saya percaya pribadi kedua orangtua yang baik pasti akan menurun kepada anaknya. Kalo anaknya kurang baik yaa mungkin ada yang salah sama kedua orangtuanya. Hehe. Sekarang ini segala hal di dunia jadi serba “berbahaya”, artinya segala sesuatu jadi serba nggak pasti, bener-nggak benernya, baik-buruknya. Nah loh? Udah bukan lagi “membiasakan yang benar” tapi yang ada malah “membenarkan yang biasa”
Menurut saya, yang paling bisa ‘menolong’ kita dari hal-hal yang salah tadi ya dari dalam kita sendiri. Kalo benteng pertahanan dari dalam udah kokoh, insyaAllah nggak perlu khawatir sama berbagai ‘gempuran’ dari luar, yang mau, nggak mau ya memang harus dihadapi. Jadi, kalo menurut saya kunci dari semuanya adalah pondasi awal yang dibentuk orangtua kepada si anak. Oke, nampaknya ini terlalu abstrak.
 Jadi gini, sebenernya saya agak heran juga sama orangtua saya, yang menurut saya terkadang bisa jadi amat sangat overprotected terhadap anak-anaknya, tiba-tiba bisa dengan sangat senang hati memberikan ijin kepada saya dan adik untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Yes, di Jogja yang terkenal dengan sebutan kota pelajar tapi sekarang juga jadi terkenal dengan berita-berita yang kurang mengenakkan karena pergaulannya yang katanya ‘kurang baik’
Okelah, di sini saya melanjutkan kuliah master dengan usia yang bisa dibilang sudah ‘cukup dewasa’ Haha. Terlebih pada akhirnya di kota ini saya tinggal berdua bersama adik.
Tapi buat adik saya yang masih S1? Yang remaja baru aja lulus SMA? Yang masih polos dan lugu begitu? Diijinkan tinggal sendiri di sini? Haha. Nggak banyak orangtua temen-temen saya yang mengizinkan anaknya melanjutkan pendidikan di Jogja dengan alasan ‘kabar yang nggak enak tentang Jogja’
Jawabannya mungkin adalah kedua orangtua saya sudah percaya dan merasa pondasi yang dibangun pada diri saya dan adik sudah cukup kuat sebagai tameng untuk mengatasi segala aura negatif tadi, hehe. Toh di manapun itu, kalo pondasinya udah nggak beres, bakal gampang roboh juga.
Ini nih yang buat saya bersyukur. Saya dan adik-adik saya nggak pernah merasa dibatasi kalo udah soal pendidikan, meskipun kami semua perempuan. Hahaha.
Saya inget waktu jaman SMP-SMA dulu, kalau saya nunjukin nilai ulangan Fisika atau Matematika yang dapet 40 ke Ibu, Ibu cuma ketawa-ketawa doang. Saya nggak pernah dimarahin atau diomelin soal nilai guys! Padahal di luar sana banyak sekali anak-anak yang kena marah gara-gara nilainya jeblok ;p Waktu saya nanya kenapa kok Ibu nggak ngomel-ngomel, jawabannya adalah “Buat apa marah-marah? Kamu kan udah besar, udah tahu apa yang jadi kewajiban. Belajar itu buat diri kamu sendiri, kalau pinter yang untung kan kamu, kalau nilainya jelek yang rugi juga kamu”
Jleeb! dan memang benar, nyatanya tanpa disuruh, dimarahin atau diomelin, saya tetep belajar. See? Dari situ saya sadar, motivasi yang paling besar dan utama itu datangnya dari dalam diri sendiri.
Waktu mau masuk kuliah, saya juga nggak dipaksa untuk mengikuti jejak Ibu atau Bapak. Walaupun sebenernya ada sedikit saran-saran, ‘kalau masuk di sini lebih baik..’ hahaha. Tapi tetap keputusan akhir dikembalikan ke saya, mereka percaya penuh dengan pilihan saya karena  nantinya saya yang akan menjalani. Toh, selama ini orangtua pasti mengajarkan hal yang baik, jadi jalan yang saya pilih pun pasti nggak akan ‘aneh-aneh’
Lulus dari S1 pun saya kembali dihadapkan pada pilihan tentang jalan selanjutnya yang mau saya tempuh. Dan lagi-lagi..kata terserah yang saya dapatkan (tentunya dengan nasihat-nasihat tambahan tentang kemungkinan yang bisa terjadi dengan keputusan yang saya ambil nantinya), mau langsung kerja atau lanjut kuliah lagi. Kenapa? Yaah karena percaya itu. Percaya pada pondasi kebaikan yang sudah dibangun di dalam diri anak-anaknya. Jadi sebenernya secara nggak langsung apa yang ada dalam diri saya, disadari atau nggak, pasti nggak jauh beda sama orangtua saya. Sepele sih sebenernya. Orang-orang juga pasti udah tahu, anak sama orangtua biasanya nggak jauh beda. Hehe
Sekarang di rumah jadi sepi, cuma Bapak, Ibu, sama adik saya yang paling kecil. Padahal dulu waktu saya sama adik-adik saya masih kecil, masih suka piknik bareng, jalan-jalan bareng. Sekarang boro-boro deh..nyesuain waktu aja susah. Sibuk sendiri-sendiri. Hufft. Tiba-tiba saya jadi kepikiran di dalam salah satu buku yang pernah saya baca, ‘awalnya serumah berdua, akhirnya juga akan kembali serumah berdua, ketika anak-anak mulai membangun kehidupannya sendiri’ Uurgggh..cediiiih :(
Hiks. Udah ah..saya jadi sensitif nih kalau ngebahas soal keluarga. Let me go home, please. Hehe
Tulisan ini dari awal sampai akhir mengalir seadanya. Padahal awalnya seharusnya nggak cuma bahas soal keluarga..tapi kok jadinya udah panjang gini yah. Yasudahlah, dilanjutkan next posting saja kalau nggak lupa (dan nggak males).

Sebelum lupa atau sengaja melupa, kembalilah ingat bersyukur tentang hujan nikmat yang diberikan Tuhan.
Yok semangat menuntut ilmu lagi, karena yang tidak begitu termasuk yang merugi.

Yogyakarta, 21 Maret 2014

Jumat, 29 November 2013

Y(OUR) High School Never End !



Jadi ceritanya tadi saya habis blogwalking gitu, nggak sengaja baca-baca postingan tentang masa-masa sekolah. Tsailaaaah ;p Daaan jeng jerejeeeng, hasil blogwalking tadi jadi sukses bikin saya kangen masa sekolah, yang tanpa sedikit beban. Huhuuuu.
Terutama tiga tahun di SMA yang berasa singkat bangeeet, tapi dalem. Hampir semua orang pasti setuju deh kalo waktu-waktu SMA kalian itu berkesan banget, nggak cuma saya aja yang ngrasa gitu. Iya kan? Iya kan? Pasti iya dong *maksaaaa
Jadi kenapa SMA ? Kalo menurut saya ini loh, feel di SMA dapet banget karena banyak fase seru yang kita jalani di masa itu. Fase perpindahan dari anak-anak ke dewasa (iya nggak ya?)
Dan saya  bersyukur menghabiskan masa SMA saya di lingkungan yang ..yaaah overall good enough lah yaa. Hahaha.
Sepanjang riwayat daftar sekolah dari TK sampai SMA, saya nggak pernah punya kepengenan macem-macem. Semua-muanya nurutin kata orangtua. Sama kayak waktu SMA dulu, akhirnya saya nurutin kata orangtua buat daftar ke SMA 3 Semarang. Alhamdulillah, ketrima. Jadilah pada saat itu, saya (harus) jadi anak rajin yang tiap hari jam 6 pagi udah siap-siap berangkat ke sekolah. Secara sekolah saya ada di tengah kota dan rumah saya ada di pinggiran begini. Kalo mau berangkat harus nglewatin tiga turunan, pulang nglewatin tiga tanjakan Saudara-Saudara! Awalnya berasa “Ya Allah, sekolahku jauh bangeeet ngeet ya..”, lama-lama jadi wes biasaaaa.
Jadi, saya mau sedikit review perjalanan dari kelas X sampai kelas XII yaaa (yang sudah berlalu sekitar lima tahun lalu) *waah saya udah tua yah berarti :(
1.       X – 6
Ini kelas perdana saya, dengan jumlah siswa sekitar 40an lebih. Banyak ya? Iya. Rame pasti? Lumayan. Waktu jaman saya jadi siswa baru dulu, (yaelaaah jaman? Jaman prasejarah?) MOS di SMA 3 nggak aneh-aneh kayak SMA lainnya. Di saat SMA lainnya disuruh bawa air minum warna-warni, kuncir rafia warna-warni, atau pake tas karung goni, seinget saya sekolah saya Cuma suruh siswa baru bawa cocard yang bertuliskan identitas masing-masing. Terus, dalam waktu beberapa hari MOS setiap kelas akan dipandu kakak pembimbing dari OSIS untuk mengikuti MOS yang isinya perkenalan subsie-subsie yang ada di sekolah, dan jumlahnya ada banyaaaak banget. Kalo nggak salah mungkin ada sekitar 35an kali ya. FYI, subsie adalah sebutan ekstrakurikuler di sekolah saya, setiap subsie akan dipimpin seorang kasubsie yang bertanggungjawab terhadap jalannya subsie tersebut. Bayangin aja, ada sekian banyak subsie yang bisa jadi pilihan kamu, mulai dari yang berbau bela diri, olahraga, seni, jurnalistik sampai subsie yang judulnya keputrian-pun ada. Jadi nggak mungkin kalo minat dan bakatmu nggak tersalurkan di sini ;)
Hari terakhir MOS ditutup dengan pentas seni yang harus ditampilkan tiap kelas. Intinya kami dituntut untuk kompak walaupun baru beberapa hari kenal, dan nyatanya bisa kok. Jadi intinya menurut saya nggak perlu pake gojlokan aneh-aneh segala macem untuk menciptakan kekompakan kan J
Kelas X saya ini seruu, temen-temennya putra putri terbaik dari berbagai daerah :p ; Ungaran, Purwodadi, Kendal, etc. Jadi nggak berasa yang rumahnya paling jauh sendiri, hihii. Ada banyaaak event yang kami lalui bersama *ceilaaaah, seperti contohnya classmeeting (standar), GPLA (Ganesha bla3x semacam kemah bersama di ekstrakurikuler pramuka), Ligasha (Liga Ganesha), ambil rapor bareng, drama bahasa indonesia bareng, sampai demo bareng (kalau ini disuruh ikutan sama kakak kelas).
Kalau untuk pelajaran di kelas sendiri..omaigaaaat tugasnya nauzubillah, soal-soal ulangan, uts, uas abrakadabra syusaaaahnya. Entahlah, mungkin karena baru penyesuaian jadi anak SMA atau memang benar kata orang-orang kalo guru-guru SMA 3 hobi bikin soal yang susah-susah :/ Ulangan matematika dapet nilai 4 atau 5 jadi biasa....karenaa....kamu nggak sendiriaaan! Karena yang lain juga pada dapet segitu. Hahaahaa
2.       XI -IA 4
Cuuus langsung ke kelas XI aja, soalnya kalo masih bahas kelas X nggak akan selesai-selesai, karena high school never end ;p Kelas XI ini udah mulai masuk penjurusan, pada saat itu Cuma ada pilihan IPA dan IPS. Kelas bahasa ga dibuka, padahal sebenernya ada beberapa teman yang berminat, tapi mungkin karena ga terlalu banyak peminat akhirnya Cuma dibuka 11 kelas IPA dan 2 kelas IPS. Apa? Cuma 11 kelas IPA? *banyak banget kali ituuu. Iya, karena satu angkatan saya juga jumlahnya tidak kepalang banyaknya, sekitar 500an orang *halaaah
Kelas XI saya ini..nggg....krik krik krik. Kalau kata guru saya lautan kacamata, karna anak cowoknya berkacamata semua. Hahaha. Kalau kelas lain punya problem dimarahin guru karena ke’ramai’annya, kalau kelas saya karena ke’suwung’annya. Sampai-sampai guru matematika saya bilang, “Kalian ini sarapan bubur ya? Letoy banget,” Hah! Jleb jleb gitu deh. Saya sempat agak frustasi juga sama kelas ini, secara anak-anaknya rajin banget, kalo jam kosong bukannya rumpi, ke kantin, atau baca novel gitu..tapi...pada belajar.. Dan pada saat kelas XI itu, yang notabene anak SMA lagi seneng-senengnya (baca: nakal-nakalnya), saya juga lagi hobi diharuskan sering cabut pelajaran, karena jadi pengurus di salah satu subsie yang harus ngurusin segala macem event dsb. Ini cabut resmi loh, ada surat ijinnya. Agak desperate dan nggak rela juga sih, kalau harus cabut jam pelajaran sementara itu temen-temen sekelas saya yang super rajin pada masih duduk manis mendengarkan guru di kelas. Mereka tambah pinter, saya ketinggalan pelajaran dong. Huuufft. Untungnya saya nggak sendirian, walaupun anak organisasi di kelas saya cukup sedikit tapi seenggaknya ada temen senasib deh. Lalu apakah saya menyesal dengan keadaan yang membuat saya harus dikit-dikit cabut, dikit-dikit cabut? (baca: meninggalkan jam pelajaran). Jawabannya, big no no. Hahahaa. Pertama, karena lumayanlah bisa jalan-jalan ke luar kelas ga mikir pelajaran terus, hehe. Kedua, banyaak yang saya dapatkan di luar soal teori dalam kelas. Come on guys, real life not only about theoritical in class .Padahal sebenernya ketagihan cabut di sekolah.
3.       XII – IA 9
Finally, ini dia kelas terakhir gerbang menuju kelulusan SMA! Seperti biasa pembagian kelas diumumkan H-1 hari pertama masuk sekolah. Setelah mencari-cari ternyata saya masuk ke kelas yang hampir bontot, dengan ruang kelas ada di sayap kiri bagian depan paling pojok dan deket ruang BK. Jadi kalo ada apa-apa gampang nyeretnya ke BK. Hahaha. Kelas XII ini standar kelas anak SMA lah. *maksudnya?  Maksudnya yah kelas yang wajar-wajar aja gitu, nggak terlalu rame, nggak terlalu sepi. Hehehe. Yang paling bikin berkesan sama kelas ini adalah jeng jeng jeng...pelajaran biologi. Ada apakah dengan pelajaran biologi? Jadi wali kelas saya di kelas XII ini adalah guru biologi. Berhubung saya tipe orang yang lemah biologi, saya selalu berusaha amat sangat bersungguh-sungguh dan perhatian sama pelajaran satu ini. Berikut kronologis ceritanya bareng temen sebangku saya, Windy.
Ibu Guru Biologi : “Jadi begini anak-anak, DNA zzzzzz......”
Saya                       : “(manggut-manggut merhatiin)”
5 menit kemudian,
IGB                         : “Jadi, zzzzz....”
S                              : ”(nguap)”
5 menit kemudian,
IGB                         : “Zzzzzzz...”
S                              : “Wind, aku nggak mudeng...”
Windy                   : “Sama..”
5 menit kemudian,
IGB                         : “................”
S                              : “Mbuh ah (sambil nyoret-nyoretin buku bio)”
Selalu begitu berhari-hari, dan bukan hanya saya yang merasakan itu. Sampai-sampai teman-teman sekelas saya minta ke kepala sekolah untuk mengganti guru biologi tadi, tapi berhubung udah deket ke kelulusan bapak kepala sekolah saya yang baik hati itu tidak bisa mengabulkan permintaan kami. *maafkeeeuun saya ibu guru biologi, tapi saya bener-bener nggak ngerti apa yang ibu ajarin T.T

Woosh, udah cukup panjang nampaknya. Last but not least, saya bersyukur diberi kesempatan menghabiskan 3 tahun masa SMA saya di sini. Dikelilingi banyak teman dengan isi kepala yang hebat! (isi kepala?-_-) Dengan beragam pemikiran yang mengajarkan saya banyak hal baru, hal asik, dan hal seru. Heuheuuu.

Berikut saya lampirkan foto-foto jaman SMA yang kebanyakan dokumentasinya sudah musnah karna kesimpen di komputer lama yang udah rusak :(
Ceritanya jadi putri-putrian pake property drama bahasa inggris

tim futsal classmeeting XII IA 9

ini niat banget ikutan lomba foto kelas Agustusan

detik-detik menuju try out atau uas atau uan ya?

horeeee kami lulus loh!

Note:
Catatan ini dibuat semata-mata agar penulis tidak lupa rasanya jaman SMA :|