Get me outta here!
Tampilkan postingan dengan label info IE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info IE. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Maret 2014

Symptom, Root Cause, dan Alternative Solution


  •  Symptom adalah gejala yang terlihat di permukaan, dapat dimulai dari adanya klaim akibat perbedaan antara harapan dan realita,
  • Root Cause adalah analisis secara lebih mendalam dari symptom, tools yang dapat digunakan yaitu fishbone diagram untuk mencari akar penyebab permasalahan yang sesungguhnya. 
  •   Alternatif Solution adalah suatu penyelesaian masalah dengan melihat berdasar dari root cause yang terjadi.
Contoh kasus : Si A datang ke dokter dengan symptom merasakan demam. Setelah dilakukan analisa lebih mendalam, ternyata penyebabnya atau root causenya adalah radang tenggorokan yang sedang dideritanya. Maka sebagai alternatif solutionnya dokter akan memberikan obat yang mampu mengobati radang tenggorokannya.

P.S : maaf jika masih ada salah-salah pengertian, namanya juga masih belajar ;p

Kamis, 02 Januari 2014

PAPs dan AcEPT



PAPs dan ACEPT test merupakan salah satu persyaratan di dalam pendaftaran program Pascasarjana UGM. Calon pendaftar diharuskan untuk melampirkan legalisir sertifikat hasil dari kedua tes tadi ke dalam berkas persyaratan lainnya. Jadi, biar nggak bolak-balik Semarang-Jogja saya mengikuti kedua tes tersebut secara berurutan pada 11-12 Desember 2013 lalu. Berikut ringkasannya.
1.    PAPs
Merupakan singkatan dari Potensi Akademik Pascasarjana, dari namanya aja kita bisa langsung tahu kalo PAPs ini sama kayak Tes Potensi Akademik yang mirip-mirip psikotes gitu. Sub tesnya terdiri dari Kemampuan Verbal, Kuantitatif, dan Penalaran. Untuk nilai minimal yang disyaratkan untuk pendaftaran S2 yaitu sebesar 450. Berhubung saya udah cukup khatam dan berpengalaman mengerjakan psikotes dalam rekruitmen kerja (walaupun soal-soalnya nggak sama persis 100%), jadi yaa saya pikir agak nyantai lah yaaa. Hahaha. Tapi akhirnya saya tetep browsinglah ya contoh soal-soal PAPs ini. Hasilnya saya nggak banyak nemu link yang nge-share soal-soal PAPs ini, yang saya dapatkan dari website resminya justru contoh soal TPA untuk ujian masuk perguruan tinggi (dan ternyata nggak 100% sama juga soal-soalnya kayak PAPs), tapi lumayanlah buat belajar. Ini link downloadnya ya :

     http://www.4shared.com/office/v3ggYnzR/latihan-tpa-snmptn-2011.html
     http://www.4shared.com/office/W0xlSF6j/latihan-tpa-snmptn-2012-kode-0.html
     http://www.tespotensiakademik.com/Tes-Potensi-Akademik-TPA-Download-Gratis.pdf
     http://ebookbrowsee.net/ebook-contoh-soal-tes-potensi-akademik-tpa-snmptn-bappenas-s2-s3-gratis-online-ver1-pdf-d488448824
     http://soaltpax.com/

Sebenernya, kalo calon pendaftar udah pernah mengikuti tes TPA Bapenas, calon pendaftar tidak diharuskan untuk mengikuti tes ini dan dapat melampirkan sertifikat TPA Bapenas tadi. Karena konsep soal tesnya sama. Sayangnya, saya hampir lupa kalo berarti di internet saya bisa browsing soal PAPs yang minimalis itu dengan keyword soal TPA Bapenas -_-
 Saya baru sadar setelah sehari sebelum tes PAPs (yang berarti pada saat jadwal tes ACEPT), saya ngobrol sama mbak-mbak yang duduk di sebelah saya ketika menunggu waktu untuk masuk ruangan. Ketika di tengah-tengah obrolan...
Saya : “Belajar buat PAPs dari mana mbak? Saya browsing dari internet kok contoh soalnya dikit ya..”
Mbak sebelah saya : “Ini aku beli buku TPA Bapenas. Sejenis sama PAPs, di Gramed ada banyak kok”
S : (aaaak, nggak modal banget saya, Cuma mengandalkan koneksi internet, udah gitu lupa pulak kalo bisa disearch pake TPA Bapenas) “Ohhh. Baru tes pertama kali juga ya mbak?”
M.S.S : “Ini tes yang kedua, yang pertama kemarin skorku masih kurang dikit”
S : (daaaan saya mulai kepikiran, haduh ini tes susah nih berarti) “Susah banget ya mbak tesnya?”
M.S.S : “Yaah gitu..lumayan sih, yang paling susah sih deret angkanya”
Okesip, malam sebelum tes PAPs ini, yang sebelumnya saya berencana leha-leha karna menurut saya belajar terlalu mepet itu nggak baik, akhirnya jadi browsing-browsing dan belajar soal-soal lagi. Lalu bagaimana dengan buku TPA Bapenas di Gramed? Saya nggak beli bukunya, rugilah yaaw kalo kepake cuma semalem doang, heheee (optimis dong kalo nggak bakal ngulang tes ini ;p)
Akhirnya dengan berbekal belajar ngebut keras semalem, soal-soal insyaallah bisa dikerjakan dengan baik. Kalo menurut saya nih yaa, yang susah itu bagian sinonim-antonim dan teman-teman sejenisnya. Tapi so far, so goodlah.
2.    AcEPT
Merupakan singkatan dari Academic English Proficiency Test, kayak tes TOEFL gitu deh. Bedanya kalo di AcEPT ini bagian-bagiannya adalah Listening, Vocabulary, Grammar and Structure, Reading, dan Composing Skill, sedangkan di TOEFL nggak ada Composing Skill . Contoh soal yang saya dapatkan dari internet juga nggak banyak, jadi saya banyak belajar dari buku TOEFL punya saya dan TOEFL-nya Baron punya Bapak yang udah jadul (soalnya TOEFL-nya Baron sekarang udah mahal banget nget nget), hahaha. Ini link download contoh soal AcEPT yang saya dapet :



Perbedaan dari TOEFL dan AcEPT yang lain adalah pada total skor akhir untuk sistem penilaiannya. Untuk AcEPT ini calon pendaftar S2 harus memiliki skor minimal AcEPT sebesar 209 atau setara dengan skor TOEFL 450.
Daaan pada saat hari H, seperti biasa sebelum masuk ke kelas saya ngobrol dulu dengan sesama peserta tes.
Saya : “Belajar AcEPT dari mana mbak?”
Mbak sebelah saya : “Ini kemarin waktu aku daftar ke sini ada yang nawarin buku AcEPT sama ada CD buat listeningnya juga”
Fyi, buku AcEPT ini nggak dijual bebas di toko buku. Dan waktu saya nanya mbak ini berapa harganya, sekitar berapa ratus ribu gitu saya lupa. Cukup mahal sih buat buku yang nggak terlalu tebal.
S : “Susah nggak mbak soal-soalnya?”
M.S.S : “Yaa lumayan sih, mungkin karna saya udah lama nggak belajar kali ya, hehee” (sambil bolak-balik buku AcEPTnya. Jadi mbak-mbak ini udah lama bertahun-tahun gitu kerjanya, dan akhirnya rela resign demi melanjutkan sekolah lagi)
Singkat cerita saya lanjutin ngobrol sama sesama peserta tes yang lain, yang duduknya juga di sebelah saya.
M.S.S.1 : “Baru pertama kali ikut tes mbak?”
S : “Iya, kalo mbaknya?”
M.S.S.1 : “Aku udah ikut yang kedua kali ini”
S : “Soal-soalnya gimana mbak? Susah?”
M.S.S.1 : “Ya gitu..emang banyak yang ngulang sih. di lembar jawabnya juga ada pertanyaan ‘sudah berapa kali ikut tes’. Waktu aku pertama kali tes, bapak-bapak di depanku juga nanya ‘baru pertama kali ikut tes ya mbak? Saya udah berkali-kali bla3x’ “
Bahkan akhirnya saya disarankan untuk daftar tes AcEPT yang berikutnya lagi, buat jaga-jaga kalo nggak lolos tes yang ini. Oh meeeeen makin jiper aja sayaaa. Tapi yaudahlah yaa, pasrah, toh udah belajar dan berdoa juga.
Jeng jeeeng akhirnya tiba juga saat tesnya. Listeningnya yang saya pikir susah ternyata lumayanlah, lebih ringkas, lebih mudah dimengerti, dan lebih susah TOEFL menurut saya ;p. Vocabnya juga nggak yang ‘aneh-aneh banget’ kayak yang di TOEFL, walaupun bacaannya kebanyakan ambil dari ensiklopedi dan jurnal-jurnal gitu. Tapi oh tapi yang paling susah ternyata adalah....waktunya. Sumpah ini waktu yang dikasih cepeeet bangets! Tiap bagian udah ada alokasi waktunya sendiri, dan itu cepet banget T.T Boro-boro mau ngoreksi jawaban kita lagi, buat baca soalnya aja harus cepet banget, apalagi yang bagian reading.Ditambah lagi saya suka nggak teliti gitu, jadi tambah nggak yakin aja, siap-siap buat tes lagi deh :|
Sekitar seminggu sesudah tes, hasilnya sudah keluar..and finally thank God! Saya nggak perlu ngulang lagi. Horeee! Selamat belajaaar untuk pelajaran-pelajaran selanjutnya :)

 

Sabtu, 23 Maret 2013

Each of you is a life traveler.


Hello blog,
It has been so long long time not to write something here.
Tahun ini saya genap 22 tahun. Ternyata banyak hal yang nggak saya rasakan sesuai sama tebakan-tebakan saya dulu tentang seorang wanita 22 tahun. Betapa saya dulu merasa (read: menebak) mereka begitu “spesial”nya. Nyatanya yang saya rasa sekarang biasa saja.
Akhirnya status menggantung setelah menyelesaikan tugas sebagai mahasiswa S1 berganti juga menjadi “bekerja”.  Setelah perburuan ke berbagai perusahaan, yang tentunya menyisakan bermacam pengalaman, tak lupa juga cukup menguras kantong dan meneteskan peluh. Untung nggak sampai mengeluarkan air mata. Haha. Tapi yang paling mengena buat saya adalah ketika saya berkali-kali mati-matian berusaha buat nggak mabuk di dalam bus, karena perjalanan buat tes harus saya lalui sendiri. How hard it is.
But, I really enjoyed this phase. Saya menikmati perjalanan bolak-balik saya, Semarang-Jogja, atau kota-kota lainnya ketika kadang seleksi tahapan akhir harus dilaksanakan di head office perusahaan tersebut. Dari  sisa-sisa ingatan saya, saya mau mereview tes-tes seleksi masuk perusahaan yang pernah saya ikuti. Biar bisa tetep diinget buat cerita di hari tua nanti :p
1.      1. PT. AISIN
Perusahaan manufaktur sekaligus perusahaan perdana yang saya ikuti proses rekruitmennya. Saya mendaftar proses rekruitmennya sekitar bulan Juni-Juli 2012 di kampus Jurusan saya.  Waktu itu saya bersama rombongan sekampus lainnya (read:teman-teman jurusan seangkatan) dalam posisi belum lulus Saudara-Saudara. Lebih tepatnya on the way untuk lulus. Niat saya waktu itu sederhana, untuk mengasah kemampuan saya dalam proses rekruitmen kerja, biar nanti ketika saya benar-benar dihadapkan pada keharusan untuk bekerja, saya nggak akan kaget dengan tes-tes yang harus saya kerjakan. Posisi yang saya incar waktu itu adalah Quality Assurance (walaupun pada akhirnya sepertinya saya dan rombongan diarahkan untuk posisi Marketing). Tahapan proses rekruitmennya mulai dari psikotes, interview psikolog, interview HRD, interview BOD (Board of Director), interview user, dan yang terakhir medical check up. Psikotes perdana yang saya ikut dalam proses rekruitmen kerja ternyata nggak jauh beda sama psikotes yang dulu pernah saya ikuti waktu SMA, bikin gambar-gambar, deret angka, tes Pauli dan lain sebagainya. Untuk tahap psikotes dan interview psikolog dilaksanakan di undip.Dan hasil dari serangkaian tahapan tes rekruitmen tadi, saya dan serombongan cewek-cewek seangkatan sejurusan (dan sama-sama belum lulus tentunya)  harus berangkat ke Jogja buat tahapan selanjutnya, interview HRD. Dua hari sesudahnya diumumkan kembali  bahwa kami lolos untuk maju ke interview BOD. Ini pengalam pertama saya interview kerja, dan alhamdulillah justru nggak terlalu deg-degan, mungkin karena waktu itu dalam posisi “belum terdesak” untuk segera mendapat pekerjaan. Jawaban-jawaban interview juga polooos banget, khas mahasiswa. Haha. Yang paling saya inget adalah pertanyaan waktu interview direksi.
Salah satu BOD  : “Kamu udah punya pacar belum?” 
Saya                       : “Belum pak”
Salah satu BOD  : “Kok bisa belum?”
Saya                       : “Yaaah, memang belum ada yang cocok sih pak”
Salah satu BOD  : “Kok bisa belum ada yang cocok?”
Saya                       : “Yaah, emang gitu pak..belum ada yang cocok kan nggak bisa dipaksain”
Salah satu BOD  : “Emang kamu nyarinya gimana?”
Saya                       : “Saya nggak pernah nyari pak..”
Salah satu BOD  : “Oh pasti kamu maunya dicari yaa...Hahahahaha” (dan serempak semua BOD ini menertawakan saya semua)
Sampai tahapan BOD ini saya gagal dan nggak lanjut ke tahap selanjutnya.
2.       2. P&G
Ini perusahaan FMCG pertama yang saya ikuti proses rekruitmennya. Saya apply via ECC online dan tes awalnya dilakukan di Yogyakarta. Kecanggihan teknologi saat ini amat sangat memudahkan kami para jobseeker, dengan sekali klik saja panggilan kerja bisa di mana-mana. Nggak kebayang rasanya kalau sampe harus jalan keluar masuk dari satu perusahaan ke perusahaan lain sambil bawa stopmap yang isinya surat lamaran kerja dan CV yang sering kita lihat di TV.
Tes pertama  yang harus diikuti di P&G ini sejenis tes Potensi Akademik tapi dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan in english. Wajarlah, karena perusahaan besar dengan skala internasional. Kemudian ada juga tes via onlinenya. Dan dari awal saya udah nggak lolos tes.
3.       3. Astra International ->> Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)
Saya apply Astra International juga melalui ECC online dengan panggilan tes di Jogja. Tahapan tes pertamanya yaitu psikotes, yang cukup banyaak dan menyita waktu cukup lama, dan cukup sulit untuk saya yang merasa nggak bisa ngerjain, dan dengan peserta yang cukup banyaaak pula. Sempurna. Tapi setidaknya menurut saya, psikotes Astra ini cukup melatih saya dalam pengerjaan psikotes-psikotes lainnya. Haha. Ternyata dari hasil peserta yang lolos psikotes tidak semua diarahkan “lolos” menjadi karyawan Astra International, tapi “dialihkan “ ke “anak-anak” Astra yang lain, seperti Toyota Astra Motor (TAM), Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMIIN), dan Astra Otoparts (AO). Termasuk saya, yang dialihkan ke TMMIN. Sehingga untuk tahapan selanjutnya saya melanjutkan seleksi untuk TMMIN. Tahapan selanjutnya, yaitu psikotes tahap 2. Kami harus mengerjakan gambar-gambar seperti biasa dan tes Pauli. Hari itu juga langsung diumumkan peserta yang lolos untuk tahapan selanjutnya. Saya dinyatakan lolos untuk maju ke tahapan interview HRD atau psikolog, entahlah saya lupa. Beberapa minggu setelah itu, via email diumumkan bahwa saya gugur pada tahapan tersebut.
4.       4. Toyota Auto 2000
Panggilan lagi-lagi datang melalui ECC online di Jogja. Tahapan tes pertama Toyota Auto 2000 ini yaitu psikotes. Yang paling saya ingat saat psikotes ini adalah dari sekitar 80 peserta, jumlah perempuan yang ikut tes hanya sekitar 5-6 orang, dengan 3 orang di antaranya termasuk saya dan 2 orang teman kuliah saya. Dalam pikiran kami pada saat itu adalah salah ikut tes nih kayaknya, pasti yang dicari cowok-cowok. However, we still try our best, itung-itung latihan psikotes (padahal sudah berapa kali psikotes yang kami ikuti -_-). Akhirnya, kami (read:saya dan teman-teman kuliah saya yang cewek, cewek-cewek tangguh) lolos psikotes juga, dan langsung mendapat jadwal interview HRD esok paginya.
Dari sekian interview HRD, saya paling berkesan sama ibu-ibu yang interview saya waktu ini. Kesan pertama saya lihat, cantik, rapi, dan smart. Sangat smart menurut saya. Ibu HRD yang interview saya ini bener-bener bisa mengupas habis Laporan Kerja Praktek dan Tugas Akhir saya, padahal jelas-jelas bukan bidangnya. Bahkan yang saya nggak pernah kepikiran buat ditanyain waktu sidang, bisa ditanyain sama ibu ini. Ibu HRD ini juga sangat ramah, sabar, nggak menggurui dan “nggak bikin kita tertekan”. Sometimes, we’re getting nervous then we only told something yang nggak mutu. Tapi ibu HRD tetap menghargai apapun yang keluar dari mulut saya. Hal random yang saya pikirkan saat itu adalah pengen jadi asistennya. Hasil akhir dari tahapan ini, entahlah, saya nggak tahu, karena nggak dapet kabar apa-apa. Mungkin peserta yang lolos sudah dihubungi by phone, sedangkan yang nggak lolos biarkan berlalu.
5.       5. Paragon Technology Indonesia
Atau biasa yang dikenal dengan Wardah Cosmetics. Saya apply melalui jobfair UNDIP. Tesnya dilakukan di Semarang. Tahapan awal, seperti biasa psikotes. Beberapa minggu kemudian diumumkan saya lolos untuk tahapan selanjutnya, yaitu psikotes tahap 2. Psikotes lagi dan lagi-lagi psikotes. Setelah itu, mengambang seperti biasa dan nggak ada kabar lagi.
6.       6. Garudafood
Panggilan psikotes ini juga saya dapatkan dari apply melalui jobfair UNDIP. Dan dari psikotes yang masih tahap pertama ini saya udah nggak lolos, padahal psikotesnya menurut saya biasa aja sih. Jadi saya nggak bisa cerita banyak ya :p
7.       7. Mayora
Panggilan psikotes ini saya dapatkan dari apply melalu jobfair Kompas di Semarang. Semenjak jadi jobseeker, entah sudah berapa jobfair yang saya ikuti. Saya apply untuk posisi Factory Development Program. Nggak kebayang saya bakal jadi anak pabrik seandainya diterima di sini, jadi anak pabrik waktu KP sebulan aja udah ngeluh nggak kuat. Haha. Dan benar setelah psikotes, kemudian lolos untuk interview HRD, saya nggak lolos untuk tahapan selanjutnya yaitu interview user.
8.       8. Yamaha Motor Parts Manufacturing
Perusahaan manufaktur kesekian yang saya lamar. Pabrik lagi dan lagi-lagi pabrik. Apa boleh buat, tuntutan profesi TI memang peluang terbesar di sana. Walaupun semakin lama seiring berjalannya waktu, yang dulunya saya apply posisi Quality Engineering lama-lama berubah menjadi Human Resources Development. Alasannya sederhana. Saya pengen kerja di dalam kantor. Haha. Saya apply melalui dekanat FT UNDIP dan untuk psikotes dilakukan juga di UNDIP. Yang paling saya inget waktu HRD presentasi tentang profil perusahaan adalah hanya sekitar 5% karyawan perusahaan adalah wanita. See? Berapa persen peluang wanita bisa berkarir di situ, dan semakin lama hidup mengajarkan saya, seperti itu adalah memang realistis. Beberapa minggu kemudian diumumkan bahwa saya lolos psikotes dan untuk tahapan selanjutnya, interview HRD dan user harus ke kantor pusat perusahaan (dan pabriknya yang pasti) di Karawang. Pengalaman diwawancarai user dengan tema yang TI banget, seharusnya mudah, tapi you know sometimes, you’re getting nervous suddenly. And you have no idea. Blank banget dan berasa bego jadinya. Sudahlah lupakan..yang utama dan terutama adalah pelajaran dan pengalaman.
9.       9. Bank Rakyat Indonesia Tbk.
First time, saya apply ke bank, lewat jobfair Kompas di Semarang untuk posisi PPS (Program Pengembangan Staf) BRI sejenis ODP atau biasa disebut MT di perusahaan manufaktur. Tahapan pertama seleksi nggak seperti perusahaan manufaktur yang biasa dengan psikotesnya. Untuk bank, tahapan awal adalah interview. HRD kalau nggak salah. FYI, peserta interview bank rapi-rapi banget..udah kayak orang bank beneran. Beda banget waktu interview di perusahaan manufaktur. Rata-rata sudah siap dengan make up, blazer dan heelsnya, mungkin karena kebanyakan peserta dari ilmu sosial udah biasa kali ya berdandan seperti itu..nggak kayak di kampus saya, waktu habis buat ngerjain laporan praktikum (analisis yang sok tau). Bikin ngeper juga karena semua peserta cantik-cantik dan dari penampilannya sudah sangat cocok menurut saya sebagai seorang pegawai bank.
Jadi 5 orang peserta tes langsung dipanggil masuk ke dalam suatu ruangan untuk diinterview HRD, yang sudah cukup senior menurut saya. Kemudian interviewer menanyai kami bergantian, mulai dari tentang perkenalan diri, nilai yang dianut di keluarga, apa yang kamu ketahui tentang bank, BRI, dsb. Cukup singkat interviewnya, mungkin sekitar 15 menit untuk 5 orang. Tengah malam hari langsung diumumkan melalui web peserta yang lolos untuk tahapan selanjutnya untuk psikotes dan tes bahasa Inggris keesokan paginya. Dan pada saat pengumuman itu posisi saya ada di dalam bus, dalam perjalanan ke Karawang untuk interview user perusahaan lain. Yaa life is about choices kan..dan saya memilih melanjutkan perjalanan ke Karawang dibandingkan balik lagi ke Semarang untuk tes BRI tahapan selanjutnya. Ya iyaaalaaaah. Haha.
1   10.   Sayap Mas Utama (Wings Group)
Posisi yang saya apply adalah Supply Chain Management (sesuai yang seharusnya seorang Industrial Engineering kerjakan), tapi lagi-lagi rezeki saya bukan di situ. Setelah psikotes dan interview HRD, langkah saya terhenti.
1    11.  Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamart)
This first time, I applied for distribution retail company dan saya nggak kebayang di sana saya bisa apa. Saya apply melalui jobfair Unika untuk posisi MT (Management Trainee). Tahapan seleksi pertamanya seperti biasa adalah psikotes. Kemudian bagi yang lolos akan masuk ke tahapan FGD (Focus Group Discussion). Kami dibagi dalam beberapa kelompok, kemudian setiap kelompok diberi suatu kasus dan masing-masing dari kami harus menyampaikan pendapatnya untuk penyelesaian kasus tersebut. Kemudian tiap kelompok harus memberikan kesimpulan berdasar kesepakatan dari seluruh anggota kelompok. Setelah tahapan FGD, langsung diumumkan peserta yang lolos tahapan selanjutnya untuk tahap interview HRD. Hari itu juga peserta yang lolos langsung interview HRD. Beberapa minggu setelah itu, saya mendapat telepon dari HRD yang waktu itu menginterview saya, katanya saya lolos ke tahap interview user. Tetapi, berhubung proses rekruitmen MT yang saya apply baru diproses bulan Maret (waktu itu akhir Desember) saya diberi tawaran interview user untuk posisi Buyer, Merchandising Department. What? Yang saya tahu sebelumnya Cuma Departemen Produksi, Logistik, HRD, RND, Finance atau Sales and Marketing. Waktu saya nanya job descriptionnya apa, katanya berkaitan dengan supplier dan marketing. Oh..saya pikir purchasing, seperti yang banyak diceritakan senior saya di Manufaktur. Dan setelah saya browsing, ada begitu banyak job desc dari buyer sebagai perantara antara pihak internal perusahaan dan pihak eksternal yaitu supplier-supplier yang memasok kebutuhan produk-produk yang akan dijual di minimarket.
Akhirnya dengan berbekal pengetahuan seadanya, berangkatlah saya ke Head Office Perusahaan yang terletak di Tangerang untuk interview user. Sekitar setengah jam saya interview dengan atasan saya langsung, kemudian di menit-menit terakhir ada calon Product Group Manager dan General Manager saya yang ikut menginterview saya. Waktu itu saya lebih tenang sih, dan lebih pasrah tentunya setelah sekian kalinya menjadi interviewee. And who knows? Akhirnya saya dinyatakan diterima, untuk posisi yang sebelumnya bahkan saya belum pernah tahu.
And finally, here I am. Hampir dua bulan di sini, banyak hal yang nggak saya pelajari sebelumnya atau pernah saya pelajari tapi menjadi sedikit berbeda. Sebagai contoh dalam penentuan harga jual. Sebelumnya di kuliah saya belajar juga bagaimana menentukan harga jual, bedanya adalah pada saat kuliah saya menentukan harga jual produk dengan berperan sebagai produsen atau perusahaan manufakturnya. Dimulai dari penentuan harga pokok produksinya yang merupakan total dari direct cost dan overhead cost dari produk tersebut, kemudian dijual dengan menambahkan harga pokok produksi dengan presentase laba yang diinginkan. Sedangkan di sini, peran saya adalah sebagai distributor yang merupakan tangan kedua dari perusahaan manufaktur. Dan masih banyaak lagi hal baru yang saya dapat, termasuk menemukan karakteristik supplier yang cukup banyak dan beraneka ragam. Jadi harus mengeluarkan sisi ilmu sosialnya TI nih. Haha
Dear,  my college friends. I miss you all guys. Saya kangen diskusi soal forecasting, ergonomics, logistic, quality, engineering economics, atau hal-hal TI lainnya (yang dulu kita suka males-malesan ngerjainnya :p). Sekarang udah nggak bisa becandaan lagi pake istilah-istilah di TI karena nggak ada yang “sebidang ilmu” di departemen saya.
Beberapa bulan setelah kelulusan S1 saya hingga hari ini membuat saya belajar begitu banyak hal tentang “perjalanan hidup”. Betapa idealisme seharusnya proporsional dengan sikap yang realistis, I guess. Sometimes, money couldn’t bought anything guys. Saya jadi lebih open minded, setelah saya mengalami sendiri “hal-hal ajaib” dalam selang beberapa waktu ini. Karena ada balasannya bagi setiap kamu, untuk setiap usaha dan doa yang kamu lakukan. You couldn’t  guess God’s plan, dear.

Salam.
Life traveler.

Kamis, 25 Agustus 2011

Kuliah itu Capek, Kerja itu Lebih Capek



Note ini saya tulis setelah sebulan kemarin saya melaksanakan Kerja Praktek di salah satu perusahaan manufaktur bersama dengan seorang teman saya.

Setiap hari untuk menuju kantor yang terletak di kawasan industri,saya harus bergelut dengan truk, bus, mobil, dan motor lainnya yang juga menuju tempat perkantoran. Jam kerja perusahaan ditetapkan mulai dari setengah 8 pagi hingga 4 lebih seperempat sore. Belum lagi ditambah jam lembur yang mengharuskan karyawan "terkadang" pulang hingga larut (pada kenyataannya berdasar pengamatan, selama waktu KP setiap saya dan teman pulang kerja tepat waktu a.k.a 4 seperempat, rekan-rekan kerja seruangan masih asyik dengan komputer masing-masing tetap meneruskan pekerjaannya). OMG. Saya nggak tahu apakah kerja itu begitu asyiknya atau "asyik", sehingga mereka begitu menikmati atau "menikmati" pekerjaannya sampai lupa waktu pulang. Saya nggak tahu sih gmn rasanya pekerjaan mereka,secara saya di sana cuma buat keperluan laporan kerja praktek saya. Saya cuma muter-muter pabrik, cari tahu ini itu, ketemu pak ini itu, nanya ini itu, itu aja udah capek. Hari pertama saya masuk, saya dan teman sempat bingung juga ketika bel pulang yang kami tunggu-tunggu sudah berbunyi dan waktu juga sudah pas menunjukkan waktu pulang, orang-orang masih saja berada dalam ruangan. Dan dengan polosnya akhirnya kami juga ikutan tetap duduk di tempat sambil terus berharap agar mereka cepat tersadar kalau ini sudah jam pulang kantor. Semenit, dua menit, dst ga ada perubahan. Sampai akhirnya pembimbing KP yang melihat "kegelisahan" muka kami bilan, "kalo saya boleh usul ya mbak, mbak pulang duluan aja nggak papa". Akhirnya kami pamit pulang dengan muka malu tapi senang. Sejak itu kami tahu, orang-orang kantor khusunya yg seruangan dengan kami sering pulang lembur.

Muter-muter pabrik setiap hari itu capek, apalagi ditemenin matahari, kebisingan, dan debu yang udah jadi sahabat akrab setiap hari. Padahal sekadar muter dan mempelajari sistem, belum sampai harus mikir berat buat ngerjain proyek atau kerjaan penting.

Jam kerja yang cukup pagi dan jarak ke kantor yang jauh sebenernya cukup berat juga, berhubung abis jd mahasiswa kuliah plg pagi jam 7.10 dan paling2 berangkat dari rumah jam7 juga masih bisa. Nah ini, perjalanan paling nggak 45 menit, belum lagi kalo macet, belum lagi kalo telat bisa ketauan sama meeting pagi petinggi kantor, belum lagi pegelnya naik motor, belum lg stresnya di jalan. Jd paling nggak set7 harus udah berngkat. Di perushaan swasta manapun dsiplin merupakan hal yg sangat penting, sedikit telat bisa ga dpt jatah makan siang atau kena semprot bos. Bener-bener berasa masa ospek.

Istirahat yang dikasih ke karyawan cuma sekali, 45menit, dr jam12 sampai 12.45. Waktu istirahat ini kalo saya rasain cukup singkat. Biasanya sih berdasar pengamatan saya, 30 menit buat solat dan makan, 15 menit buat tidur siang. Bisa gitu ya tidur 15 menit? Saya aja tidur siang bisa berjam2 :p

Di mana-mana perusahaan swasta pasti setiap hari bakal ngejar target produksi, kalo ga kekejar bosnya bisa marah2, stres dah tu karyawannya. Kenapa outputnya cuma segini?harusnya kan segini. Gmn kalo backlog?gmn klo kehilangan customer?gmn caranya menaikkan produktifitas?gmn caranya menghilangkan waste?gmn caranya mengejar target produksi tanpa mengorbankan kualitas?dan problem2 lainnya. Semua masalah tadi harus bisa terselesaikan dengan kepala dan tangan dingin tiap departemen.

Saya inget waktu dosen saya bilang, "cita-cita saya dulu sih jadi manager, tp ternyata persaingan di dunia kerja swasta itu ketat bgt.." yaa memang berat kerja di perusahaan swasta, untuk mencapai puncak butuh perjuangan dan pengorbanan dari bawah.

Waktu rekan kerja sedepartmen saya iseng nanya "mau kerja di sini nggak dek?", temen saya blg ke saya "kalo aku mikir2 dulu deh, mending jadi ibu rumah tangga", dan saya nyeletuk apa yg temen saya bilang. Rekan-rekan kerja saya sedepartemen ketawa dan bilang "ooh mau jadi insinyur rumah tangga.."

Senior saya ada yg pernah cerita ada suatu perusahaan yang kelihatannya menggiurkan, gmn nggak?gaji sebulan 7juta, dan itu bisa kita simpan utuh karena semua kebutuhan kita ditanggung perusahaan. Tapi...seminggu full nggak ada hari libur -_____-" (hr liburnya dirapel nanti2, tp sih sama aja yaa) saya nggak bisa ngbayangin gmn bentuk orang yg kerja setiap hari tanpa libur, kepuasan materi sih dapet, tp ketenangan batin?wallahualam

untuk para fresh graduate (sebenernya ga cm fresh graduate sih) banyak yg sering pindah tempat kerja dalam satu waktu, bahkan dalam hitungan bulan. Ada yg karena ga betah atau krn ada tawaran lebih menarik.

Well, bekerja itu memang susah (menurut saya), walaupun mungkin tingkat kesulitannya akan berbeda antara swasta dan pemerintahan. Dan dunia kerja akan lebih keras, dibandingkan masa ospek dulu yang tiap minggu dibentak dan disuruh push up senior, dibandingkan ngerjain tugas besar dan laporan praktikum yang harus begadang berhari-hari. Kalo kita nggak ngerjain dgn sepenuh hati dan kesenangan pasti bakal terasa beraaat sekali.

Saya nggak tahu apakah apa yg saya inginkan akan sama dengan apa yang akan saya terima nanti.

Tapi apapun jalan saya nanti, I believe I can :D

Life is not about waiting for the storms to pass,
It’s about learning how to dance in the rain.

Sabtu, 02 April 2011

Praktikum Perancangan Teknik Industri



Tidak terasa praktikum PTI yang saya jalani bersama teman-teman seangkatan sudah memasuki modul 6 di semester 6 ini. 5 modul sebelumnya alhamdulillah sudah terselesaikan pada semester sebelumnya.

Praktikum modul 6 ini yaitu Perancangan Lantai Produksi dilakukan di Laboratorium Sistem Produksi. Pada praktikum modul 6 ini masih berlaku sistem shift, shift saya yaitu shift 4 terdiri dari 4 kelompok, yaitu kelompok 23, kelompok 17, kelompok 22, dan kelompok 20. Perancangan lantai produksi ini dilakukan dengan menerapkan konsep keseimbangan lintasan (line of balancing) yang bertujuan agar tercipta kapasitas optimal yaitu di mana tidak terjadi penghamburan kapasitas, operasi-operasi kerja pada masing-masing stasiun kerja memiliki nilai yang sama yang diukur melalui waktu. Dengan begitu akan terjadi peningkatan efisiensi dan produktivitas, serta dapat meminimalkan terjadinya bottle neck dan idle time (operator menganggur).

Sebelum praktikum, kami melakukan perancangan stasiun kerja dengan menerapkan metode-metode yang ada dalam keseimbangan lintasan, seperti Largest Candidate Rule, Ranked Position Weight, Modie Young, dan Region Approach. Dari semua perancangan stasiun kerja dengan menggunakan metode-metode tersebut dipilih rancangan stasiun kerja logis dengan efisiensi lintasan terbesar dan Smooth Index kecil. Akhirnya untuk shift kami terpilih rancangan stasiun kerja metode RPW dengan 18 stasiun kerja, yang kemudian akan disimulasikan untuk praktikum pada Minggu, 20 Maret 2011.

Running praktikum modul 6 ini hampir sama dengan modul 4 pada saat di lab PSKE. Setiap stasiun kerja terdiri dari beberapa operasi yang dikerjakan oleh seorang operator, dengan peraturan-peraturan yang harus ditaati. Setiap proses operasi yang dilakukan direkam oleh webcam, untuk nantinya dibuat moving cardnya. Praktikum dimulai pada pukul 10.00 WIB dan seperti biasa diawali oleh pretes. Dan jeng jeng running praktikum baru selesai sekitar pukul 12.30 WIB, karena running yang sebenarnya baru dimulai sekitar pukul 11.30 WIB dikarenakan banyak kesalahan yang kami lakukan pada awal T.T. No problemoolah,akhirnya berhasil juga shift kami melalui running praktikum modul 6 ini. Semangat shift 4 forever together untuk 4 modul selanjutnya :D

*sayangnya mau upload video ga bisaconfused