Minggu, 03 April 2016
Getting older..become more complicated choices then
Jumat, 27 April 2012
Kamis, 08 Maret 2012
Secangkir Kopi, Hujan, dan Kamu
Dear kamu,
Tahukah kamu?
Terkadang pikiranku bermain dalam sela menembus diamku.
Kemudian mengamati gambar kita menikmati kopi favoritmu sembari mendengar irama gertak hujan.
Tanpa krim katamu lima menit lalu, tapi sekarang garis di wajahmu berkata terlalu pahit sambil tetap menenggak kopimu.
Aku terbahak, kamu meringis memperlihatkan deretan gigimu yang berbaris rapi.
Tak pernah berubah, lebih dari sekedar manis kataku.
Mungkin itu sebabnya kamu mampu menahan pekatnya rasa, lewat senyummu, dan aku sudah hafal itu. Haish..
Tahukah kamu?
Aku tidak pernah bosan menikmati hujan bersamamu.
Dengan semua caramu membuatku berderai tawa.
Dengan tingkahmu yang membuat aku berharap terlalu meletup-letup tentang kita.
Tidak sekedar jatuh ke tanah seperti air hujan kesukaanmu, tapi menembus doa yang kuramu lalu teraduk rindu.
Tahukah kamu?
Sesekali ingin rasanya aku belajar melafal mantra millikmu.
Agar bukan hanya hatiku saja yang berderak.
Tapi katamu tak perlu, hatimu akan selalu berkata aku tanpa rapalan apapun. Haishh..
Ingatkah kamu?
Aku sempat bilang hanya cinta pada mendung dan terlalu repot dengan tirta.
Tapi kini aku rindu hujan, rindu untuk menumpahkan lukisan tentangmu.
Aku tergugu, erat mengatupkan jemari pada secangkir kopi hangat favoritmu.
Ah, aroma kopi dan basah tanah, perpaduan yang pas menurutmu. Kalau katamu lebih dari sekedar manis.
Seperti kamu dalam memoarku.
5 menit saja, atau kalau boleh aku minta satu jam lagi..berharap hujan kali ini dapat menahanmu lebih lama untuk tidak pergi.
Sincerely,
Wandhansari Sekar
Selasa, 27 Desember 2011
Kamis, 24 November 2011
November kali ini
Sabtu, 19 November 2011
Lihat saja, aku yang akan menang

Aku sudah bosan meracau. Dengan tidak sadar membiarkan serentet pikiranku berjalan ke sembarang arah. Sudah, berhentilah mengiba pada takdir. Bertekuk pada ego dan pengandaian seperti mereka. Mungkin aku sudah lupa rasanya menyulut nadir idealism. Atau mungkin aku sengaja mengabaikan sepetak alasan yang aku pikir sudah berubah menjadi gertakan. Barangkali memang sudah saatnya meluber tumpah, bukan karena terpeleset tapi memang aku yang diam-diam membantingnya. Akhirnya aku tetap mengendap, berpindah mengamati barisan benang ruwet yang siap menunggu giliran dibuka simpulnya. Tapi masih tetap kosong, jadi sia-sia rasanya menelan berjam-jam statistika di depanku. Cukup, dan aku tidak akan mengalah lagi. Ketika sedang payah dan tak sempat terkatakan. Bukan khayal untuk menjadi manusia tangguh.
-Wandhansari Sekar-
Sabtu, 12 November 2011
A Letter to Rain

Dear Mr. Hujan,Kalau kau lewat malam iniTolong sampaikan salamku padanyaLewat aroma basah tanah yang kau punyaMeskipun terasa terabaikanTapi jemu itu tak pernah singgahpun hanya 5 detik sekalipunKemudian aku berkhayal dapat menahan dentang waktudan lagi-lagi aku teringat oleh pilu yang merinduSincerely,Wandhansari Sekar
Kamis, 27 Oktober 2011
Sebenarnya Kita
Sebenarnya kita sudah saling berpapasansebelum akhirnya aku dan kamu terpisah
oleh kilometer jalan yang berkelok
memilih setapak langkah masing-masing
demi idealisme yang kita pilih sendiri
Sebenarnya kita sudah saling bertukar kata
walaupun cukup lama meregang
terlarut dalam alir pencapaian tujuan
Dan saat akhirnya waktu kembali menyapa
aku dan kamu kembali berbincang
mengingat bulir dahulu
menyanjung ekspektasi masa depan
Aku melihatmu jauh di sini
dengan sudut pandangku yang berbeda
bukan terdefinsi sebagai pesona yang dulu kamu tahu
tetap tersimpan rapi, di sini, terkamuflase agar kamu tak tahu
dan lewat kilas yang terbuka
aku tahu tersirat sandi yang sama
tapi bagiku hanya keindahan semu
kemudian hambar
she is not me
lovely drizzle,23102011
Selasa, 20 September 2011
Biar Dia Redup Dahulu

Menyulut percik pesona yang terjaga
Biar redup itu mati seutuhnya
Karna kelak kembali terang oleh ronanya
Tanpa bekas lalu, tanpa bekas lalu
Gertak malam memulai ceritanya
Menghabiskan waktu,hingga fajar beranjak menjemputnya
Ia tak menyanggah lagi,
Ketika sekilas dalam sang bayu
Melangkah dgn anggunnya,
Tergiring di sudut tak tercapai
Karna dia mulai percaya,dia percaya
Jaga cahanyanya, jangan sampai redup kembali
19092011
Sabtu, 04 Juni 2011
Ada yang Kembali

Menyisakan serpih perih yang kering tanpa hujan
Terkadang gerah aku rasa
Jika kedua itu tak pernah datang
Biar kita tetap di sini, dengan angan yang tak pernah lari
Hei kawan, waktu tidak membodohimu
Dia hanya tunjukkan sekeping masa yang pernah kamu rasa
Tapi sang waktu takkan mengulang iramanya, mengangkat kita kembali di saat itu
Aku rasa cukup sekali mengecapnya, cukups sekali
Stop membodohi waktu kawan,
Dia tak tahu apa-apa dan hanya penunjuk yang menjalankan tugasnya
Biarkan kita seperti ini
Karena ketulusan tidak kenal waktu
Terima kasih ketulusan
Semoga aku tetap mempercayainya, detik ini hingga kelak masa yang tak berujung
Dan kalaupun terjatuh kembali,
Tetap akan aku simpan sebagai butir yang takkan pudar
Minggu, 08 Mei 2011
Because I have no reason.


