Get me outta here!

Senin, 05 Mei 2014

Accidental Picnic, First Trip to Solo-Tawangmangu

Berawal dari obrolan iseng Jumat siang di grup whatsapp, teman-teman kuliah saya seangkatan mendadak bikin plan piknik bareng ke Tawangmangu minggu depan. Berhubung ada banyak bermacam hambatan kalo udah niatan bikin plan jauh-jauh hari sebelumnya (yang biasanya akhirnya Cuma jadi sekadar wacana saja), akhirnya kami memutuskan mempercepat realisasi piknik menjadi hari Minggu dua hari sesudah diskusi kilat di grup. Dengan bekal ala kadarnya, iuran bensin untuk transport, uang makan, dan uang untuk beli tiket masuk ke objek wisata, sepakatlah kami untuk berangkat piknik hari Minggu jam 6 pagi kurang sedikit dari Jogja. Yeaay!!
1.       Breakfast time in Soto Ndhelik
Berhubung  perjalanan kami sepertinya akan menghabiskan banyak tenaga, acara pertama hari itu adalah…mengisi perut, hehehe. Berangkat dari Jogja pagi-pagi banget dalam keadaan sepertiga ngantuk, sepertiga sadar nggak sadar, sepertiga pengen jalan-jalan, bikin kami nggak sempet sarapan. Apalagi..you know how you guys live in boarding house #curhatsedikit
Kami tiba di Solo sekitar pukul 8.15 dan cuus langsung sarapan di soto ndhelik, yang kata temen saya recommended karena cukup enak dan terkenal. Menu yang disediakan di antaranya soto mangkuk kecil seharga Rp. 3.500 dan soto mangkuk besar seharga Rp. 6.000. Bisa nambah lauk sate atau gorengan hangat yang sudah disediakan. Rasanya? Cukup enak :9
Seporsi soto daging mangkuk besar. daging loh! saya pikir soto ayam.
2.       Kebun Teh Ndoro Donker
Destinasi selanjutnya adalah menuju kebun teh di daerah Kemuning. Letak pastinya saya nggak tahu, dataran tinggi deket-deket sama daerah Karanganyar gitu. Kebun teh Ndoro Donker ini adalah tempat minum teh yang cozy yang menawarkan pemandangan dan udara kebun teh yang fresh. Kami berdelapan memesan 3 teko teh dengan jenis yang berbeda, kemuning green tea, camommile tea, dan forest tea. Satu teko bisa untuk 3-4 cangkir. Jenis teh yang dipesen random aja sih sebenernya. Teh yang kami pesan, satu tekonya seharga Rp. 20.000. Cukup murah untuk jenis-jenis teh yang istimewa dan diracik secara khususUntuk jenis the lainnya diharagai Rp. 45.000 per tekonya. Untuk rasanya, kemuning green tea yaa mirip-mirip sama green tea yang biasa kita belilaah. Cammomile tea, sedikit berbeda sama the biasanya..tapi yaa nggak jauhlah beda rasanya. Haha. Nah forest tea ini nih yang sedikit nyentrik. Warna tehnya aja udah kayak sirup marjan rasa frambozen. Kalau soal rasanya? Beeh jangan ditanya. Rasanya kayak jamu, hahaha. Tapi yaah lumayanlah buat yang pengen nyicipin rasa teh yang berbeda dari biasanya. Selain minum teh, kita bisa makan cemilan juga di sini. Berhubung kami semua masih lapar, kami juga pesan ubi goreng dan mendoan dengan harga per porsi masing-masing sebesar Rp. 10.000. Per porsinya cukuplah untuk 3-4 orang. Yang paling oke di sini adalah…viewnya! Jadi berfoto-fotolah kalian sepuas hati..and don’t forget to catch your inspirations here!
kebun tehnya bikin suasana tempat minum teh makin freeesh  




green tea, camommile tea, dan forest tea
3.       Grojogan Sewu, Tawangmangu
Selesai dari piknik di kebun teh Ndoro Donker, kami melanjutkan perjalanan ke objek wisata air terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari kebun the. Pukul setengah 12 siang kami tiba di Tawangmangu dengan disambut mendung, sedikit gerimis,  parkiran yang sudah mengular dan monyet-monyet yang asyik bermain di atap mobil -_- Tiket  masuk yang harus dibeli untuk masuk ke dalam objek wisata sebesar Rp. 8.000, kami langsung masuk ke dalam objek wisata. Sayangnya, karena salah jalan kami harus mengganti plan yang sebelumnya mau jalan kaki naik tangga dulu untuk menuju air terjun, baru pulangnya turun tangga, akhirnya menjadi jalan kaki turun tangga dulu untuk menuju air terjun. Yang berarti nanti pada saat pulang, di saat badan sudah cukup lelah kami harus ngos-ngosan naik tangga L Setelah perjalanan menuju air terjun yang sedikit was-was, harus lihat kiri-kanan untuk memantau para-monyet-yang-sok-iyee itu sampailah kami di objek utama, Grojogan Sewu. Karena udah azan zuhur kami menunaikan ibadah sholat dulu di musholla yang sudah disediakan. Setelah selesai, saatnyaaa..mengabadikan kenang-kenangan lagi dengan background alam yang oke punya. Hahaha. Saat yang paling mengesankan adalah ketika kami harus terengah-engah menaiki entah-berapa-anak-tangga untuk pulang, dan ketika sampai di tempat barulah kami tahu sudah 1.250 anak tangga yang berhasil dinaiki ;)

haloo! ini mukanya masih pada fresh sebelum harus naik-naik entah-berapa-anak-tangga

air terjunnya bikin basah, hujan lokal




wahai teman-teman baca apa yg ada di plangnya. Salam sehat!!
4.       Lunch time in Sop Iga Bu Ugi
Setelah amat sangat cukup lelah menaiki anak tangga dari Grojogan Sewu, dan alarm perutpun sudah berbunyi, meluncurlah kami menuju tempat makan siang. Maklum, sudah pukul 2 saat itu, saatnya recharge energy ;p Kami makan siang di Warung Makan Sop Iga, Bu Ugi. Tempatnya masih di sekitar Tawangmangu, daaan…cukup ramai. Sempat agak kesusahan cari tempat yang cukup untuk kami berdelapan, akhirnya kami kebagian tempat juga..di pojokan dengan dua meja terpisah -_- Tapi..yang penting makan. Hahaha. Satu porsi sop iga seharga Rp. 25.000 cukup memanjakan lidah dan mengenyangkan perut kami. Pokoknya tema hari itu makan enak selalu :9

5.       Taman Balekambang
Usai mengisi perut, dengan diiringi langit mendung kami meluncur menuju destinasi selanjutnya, yaitu Taman Balekambang yang letaknya masih di dalam kawasan Tawangmangu juga. Setelah membaca brosur keterangan mengenai objek wisata di dalamnya terlebih dahulu (because actually we don’t know how place this is) , akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket masuk seharga Rp. 6.000. Setelah masuk, kami sepakat tempat ini lebih cocok untuk tempat piknik anak-anak, bukan untuk orang-orang tua dewasa seperti kami. Hahaha. Hiburan yang ditawarkan di dalamnya ada kereta-keretaan, ATV, ayunan, jungkat-jungkit dan hiburan-hiburan sejenis lainnya. Baru sebentar menikmati waktu di sana, tiba-tiba..bresssss. Turunlah tumpahan air dari atap langit alias hujannya  deres banget K Sempet kejebak hujan cukup lama, akhirnya kami memutuskan nerobos ujan juga sampai parkiran.
hello, personel kuliah lengkap dengan dua orang absen. eh berarti nggak lengkap ya? Hahaha
6.       Dinner in Kafe Tiga Tjeret
Perjalanan di Tawangmangu selesai dan dilanjutkan perjalan pulang ke Jogja. Pukul setengah 6 kami mampir di masjid dulu untuk menunaikan sholat maghrib. Lalu perjalanan berlanjut ke tempat makan malam. Thank God, I have three times a day to eat delicious meal. Kata temen saya yang special tour guide, makan malam kami menunya adalah angkringan. So, guess what kind of angkringan is it? Yak! Kafe angkringan, tepatnya adalah kafe tiga tjeret yang letaknya dekat dengan kraton Surakarta. Menunya sih memang angkringan, tapi dikemas dalam bentuk sajian seperti di kafe-kafe. Menu makanannya khas angkringan seperti nasi bungkus angkringan tempe, teri, granat, daging, dan lain-lain, dengan lauk beraneka macam sate dan gorengan dengan range harga sekeitar Rp. 3.000-Rp. 6000 (kalo nggak salah ;p) Untuk menu minumannya yang khas adalah wedang tiga tjeret, yang merupakan racikan air jeruk, beras kencur, dan aneka rempah lainnya, saya nggak apal. Rasa minumannya, segar dan menghangatkan berhubung sepanjang hari itu hujan melulu. Haha. Yang beda dari kafe ini selain menyediakan menu angkringan adalah aneka penghias interior kafe yang sebagian besar diambil dari barang bekas yang direcycle. Seperti meja untuk makan yang memakai bekas meja mesin jahit dan kap lampu yang dibuat dari susunan akua gelas.
ini penampakan minuman wedang tiga tjeret refill-yg-lebih-banyak-ampas-rempah2nya-daripada-airnya-sebenernya
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, muka udah kucel, badan udah pegel. So it’s time to go home. Besok ada kuliah mameeen. Hahaha. Sepanjang perjalanan, dari berangkat sampai pulang kalian rame sekaliii, sampai-sampai saya nggak bisa menyalurkan hobi nempel molor. See you again for the next trip guys, semoga kita semua dilancarkan kuliahnya, ujiannya, tesisnya, cita-citanya, dan jodohnya *eh.

P.S : Supeeer thanks to you all. You guys totally made my day!!

Senin, 24 Maret 2014

Sebelum Lupa




Postingan ini dibuat pada hari Jumat, pukul 12.40, sepulang makan mie ayam yang enak di Taman Siswa sama seorang teman, setelah kuliah Pemodelan Sistem dengan bab Integer Programming yang bikin puyeng sama angka-angkanya, sama grid pointnya, sama lamdanya, sama zetanya, dll. Fiuuh! Oke, abaikan saja.
Mungkin postingan ini bagusnya dikasih judul “Sebelum Lupa” kali ya. Soalnya saya buru-buru buka laptop di kos, sebelum akhirnya lupa sama serangkaian abjad acakadut yang sudah terbayang-bayang di kepala.

Kalau ada yang nanya hal apa yang membuatmu paling bersyukur di dunia jawabannya adalah...semuanyaa. Hehe. Allah sudah berbaik hati ngasih kita anggota tubuh yang lengkap, pikiran yang sehat, keluarga yang bahagia, dan lain sebagainya. Fabiayyi ala irabbikuma tukadzziban. Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan.
Salah satu hal dari sekian banyak hal yang paling saya syukuri, di antaranya adalah lingkungan tempat saya bertumbuh. Mulai dari lingkungan keluarga tempat saya mulai dibesarkan sampai ke lingkungan pertemanan yang secara nggak langsung banyak berpengaruh juga membentuk kepribadian saya. Saya amat sangat bersyukur dengan anugrah Allah yang satu ini.

Saya percaya pribadi kedua orangtua yang baik pasti akan menurun kepada anaknya. Kalo anaknya kurang baik yaa mungkin ada yang salah sama kedua orangtuanya. Hehe. Sekarang ini segala hal di dunia jadi serba “berbahaya”, artinya segala sesuatu jadi serba nggak pasti, bener-nggak benernya, baik-buruknya. Nah loh? Udah bukan lagi “membiasakan yang benar” tapi yang ada malah “membenarkan yang biasa”
Menurut saya, yang paling bisa ‘menolong’ kita dari hal-hal yang salah tadi ya dari dalam kita sendiri. Kalo benteng pertahanan dari dalam udah kokoh, insyaAllah nggak perlu khawatir sama berbagai ‘gempuran’ dari luar, yang mau, nggak mau ya memang harus dihadapi. Jadi, kalo menurut saya kunci dari semuanya adalah pondasi awal yang dibentuk orangtua kepada si anak. Oke, nampaknya ini terlalu abstrak.
 Jadi gini, sebenernya saya agak heran juga sama orangtua saya, yang menurut saya terkadang bisa jadi amat sangat overprotected terhadap anak-anaknya, tiba-tiba bisa dengan sangat senang hati memberikan ijin kepada saya dan adik untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Yes, di Jogja yang terkenal dengan sebutan kota pelajar tapi sekarang juga jadi terkenal dengan berita-berita yang kurang mengenakkan karena pergaulannya yang katanya ‘kurang baik’
Okelah, di sini saya melanjutkan kuliah master dengan usia yang bisa dibilang sudah ‘cukup dewasa’ Haha. Terlebih pada akhirnya di kota ini saya tinggal berdua bersama adik.
Tapi buat adik saya yang masih S1? Yang remaja baru aja lulus SMA? Yang masih polos dan lugu begitu? Diijinkan tinggal sendiri di sini? Haha. Nggak banyak orangtua temen-temen saya yang mengizinkan anaknya melanjutkan pendidikan di Jogja dengan alasan ‘kabar yang nggak enak tentang Jogja’
Jawabannya mungkin adalah kedua orangtua saya sudah percaya dan merasa pondasi yang dibangun pada diri saya dan adik sudah cukup kuat sebagai tameng untuk mengatasi segala aura negatif tadi, hehe. Toh di manapun itu, kalo pondasinya udah nggak beres, bakal gampang roboh juga.
Ini nih yang buat saya bersyukur. Saya dan adik-adik saya nggak pernah merasa dibatasi kalo udah soal pendidikan, meskipun kami semua perempuan. Hahaha.
Saya inget waktu jaman SMP-SMA dulu, kalau saya nunjukin nilai ulangan Fisika atau Matematika yang dapet 40 ke Ibu, Ibu cuma ketawa-ketawa doang. Saya nggak pernah dimarahin atau diomelin soal nilai guys! Padahal di luar sana banyak sekali anak-anak yang kena marah gara-gara nilainya jeblok ;p Waktu saya nanya kenapa kok Ibu nggak ngomel-ngomel, jawabannya adalah “Buat apa marah-marah? Kamu kan udah besar, udah tahu apa yang jadi kewajiban. Belajar itu buat diri kamu sendiri, kalau pinter yang untung kan kamu, kalau nilainya jelek yang rugi juga kamu”
Jleeb! dan memang benar, nyatanya tanpa disuruh, dimarahin atau diomelin, saya tetep belajar. See? Dari situ saya sadar, motivasi yang paling besar dan utama itu datangnya dari dalam diri sendiri.
Waktu mau masuk kuliah, saya juga nggak dipaksa untuk mengikuti jejak Ibu atau Bapak. Walaupun sebenernya ada sedikit saran-saran, ‘kalau masuk di sini lebih baik..’ hahaha. Tapi tetap keputusan akhir dikembalikan ke saya, mereka percaya penuh dengan pilihan saya karena  nantinya saya yang akan menjalani. Toh, selama ini orangtua pasti mengajarkan hal yang baik, jadi jalan yang saya pilih pun pasti nggak akan ‘aneh-aneh’
Lulus dari S1 pun saya kembali dihadapkan pada pilihan tentang jalan selanjutnya yang mau saya tempuh. Dan lagi-lagi..kata terserah yang saya dapatkan (tentunya dengan nasihat-nasihat tambahan tentang kemungkinan yang bisa terjadi dengan keputusan yang saya ambil nantinya), mau langsung kerja atau lanjut kuliah lagi. Kenapa? Yaah karena percaya itu. Percaya pada pondasi kebaikan yang sudah dibangun di dalam diri anak-anaknya. Jadi sebenernya secara nggak langsung apa yang ada dalam diri saya, disadari atau nggak, pasti nggak jauh beda sama orangtua saya. Sepele sih sebenernya. Orang-orang juga pasti udah tahu, anak sama orangtua biasanya nggak jauh beda. Hehe
Sekarang di rumah jadi sepi, cuma Bapak, Ibu, sama adik saya yang paling kecil. Padahal dulu waktu saya sama adik-adik saya masih kecil, masih suka piknik bareng, jalan-jalan bareng. Sekarang boro-boro deh..nyesuain waktu aja susah. Sibuk sendiri-sendiri. Hufft. Tiba-tiba saya jadi kepikiran di dalam salah satu buku yang pernah saya baca, ‘awalnya serumah berdua, akhirnya juga akan kembali serumah berdua, ketika anak-anak mulai membangun kehidupannya sendiri’ Uurgggh..cediiiih :(
Hiks. Udah ah..saya jadi sensitif nih kalau ngebahas soal keluarga. Let me go home, please. Hehe
Tulisan ini dari awal sampai akhir mengalir seadanya. Padahal awalnya seharusnya nggak cuma bahas soal keluarga..tapi kok jadinya udah panjang gini yah. Yasudahlah, dilanjutkan next posting saja kalau nggak lupa (dan nggak males).

Sebelum lupa atau sengaja melupa, kembalilah ingat bersyukur tentang hujan nikmat yang diberikan Tuhan.
Yok semangat menuntut ilmu lagi, karena yang tidak begitu termasuk yang merugi.

Yogyakarta, 21 Maret 2014

Kamis, 13 Maret 2014

Symptom, Root Cause, dan Alternative Solution


  •  Symptom adalah gejala yang terlihat di permukaan, dapat dimulai dari adanya klaim akibat perbedaan antara harapan dan realita,
  • Root Cause adalah analisis secara lebih mendalam dari symptom, tools yang dapat digunakan yaitu fishbone diagram untuk mencari akar penyebab permasalahan yang sesungguhnya. 
  •   Alternatif Solution adalah suatu penyelesaian masalah dengan melihat berdasar dari root cause yang terjadi.
Contoh kasus : Si A datang ke dokter dengan symptom merasakan demam. Setelah dilakukan analisa lebih mendalam, ternyata penyebabnya atau root causenya adalah radang tenggorokan yang sedang dideritanya. Maka sebagai alternatif solutionnya dokter akan memberikan obat yang mampu mengobati radang tenggorokannya.

P.S : maaf jika masih ada salah-salah pengertian, namanya juga masih belajar ;p

Rabu, 12 Maret 2014

Welcome Yogyakarta

Source : http://www.bubblews.com/assets/images/news/1041260608_1388428911.jpg

Sedikit intermezzo, ternyata setelah saya memutuskan ikut dan menamatkan project #30HariMenulisSuratCinta, nggak menjamin juga saya jadi lebih rajin nulis lagi, duuuh payaaah beneer nih. Setelah hari ke-30 semangat menulis saya jadi loyo lagi ._. Tapi yang penting berhasil juga 30 hari diselesaikan dengan tanpa ada absen sama sekali di sini.  Hehehehe XD

Hari ini saya posting blog dari kamar kos (lagi), tapi kamar kos yang berbeda dari kosan yang setahun lalu. Setahun lalu saya ada di kota lain dengan status sebagai karyawan, sedangkan tahun ini saya juga ada di kota lain (lagi) dengan status sebagai mahasiswa (lagi). Mulai dari bulan kemarin saya resmi “keluar” dari rumah karena harus sekolah lagi. Akhirnya saya melanjutkan sekolah saya lagi setelah sempat vakum setahun karena memilih kerja terlebih dahulu. Soalnya penasaran sih. Hahaha.
Jadi mahasiswa lagi itu artinya sudah bersiap-siap lagi untuk rajin baca-baca materi dosen, buku literatur, jurnal penelitian, blog orang, novel..eh.. Maksudnya biar ada inspirasi lain gitu, biar di otak nggak melulu soal teori-teori research tapi  juga berusaha mengaitkan hal-hal berbau materi kuliah tadi yang identik dengan ‘susah dan rumit’ dengan hal-hal lainnya yang menyenangkan. Jadi semua bisa menjadi terasa lebih mudah dan bisa dinikmati dengan sukacita. Eh ngomong apaan sih sayaaaa :|
Ngomong-ngomong soal kuliah, kuliah saya yang sekarang bedaaa jauh rasanya dari kuliah yang dulu. Di kuliah S1 saya dulu, saya berasa cuma sekadar kuliah untuk menunaikan apa yang jadi kewajiban #SepertiAnakTanpaMotivasi
Ngg..nggak gitu sih sebenernya,  maksudnya kuliah saya dulu itu rasanya masih seperti di awan-awan, menggantung, yaah gitu deh. Saya masih nggak tahu tujuan ke depan yang bener-bener pengen saya capai apa, yang saya pengen waktu itu ya masih sebatas lulus kuliah dengan hasil yang baik, tanpa benar-benar mendalami hakikat mencari ilmu yang sebenernya *yaelaaah bahasanyaaa
Beda dengan kuliah S2 saya sekarang, yang jadi motivasi bukan cuma lulus terus dapet nilai yang bagus. Tapi saya bener-bener pengen paham, nggak asal ngerti aja sama materi-materi yang seharusnya memang dikuasai. Tapi tapi tapi..jadinya saya semakin menyadari bahwa ilmu saya masih bener-bener cethek alias dangkal. Rasa-rasanya jadi mengecil, mengerdil, terus menciut kalau denger banyak orang hebat di luar sana. Pfffft.
Saya tahu sih, seharusnya yang seperti itu jadi pendorong diri, bukan mematikan nyali. Tapi yaaah namanya juga manusia. Hahaha.
Kata Om Thomas Alva Edison, “Genius is one percent inspiration, ninety nine percent perspiration.” Bismillah, there’s  a will, there’s a way.

Btw, soal judul di atas ‘Welcome Yogyakarta’, itu karena saya mau ngucapin selamat datang kepada Yogyakarta  (kota tempat saya menuntut ilmu lagi) di dalam bab kehidupan saya yang baru. Selamat ya, anda terpilih untuk mengambil peran dalam drama kehidupan saya yang skenarionya sudah disusun sempurna oleh sang Maha Kuasa :)
Udah ah, saya mau lanjut mikir proposal buat tugas metopen nih. Byeeee!

Kamis, 02 Januari 2014

PAPs dan AcEPT



PAPs dan ACEPT test merupakan salah satu persyaratan di dalam pendaftaran program Pascasarjana UGM. Calon pendaftar diharuskan untuk melampirkan legalisir sertifikat hasil dari kedua tes tadi ke dalam berkas persyaratan lainnya. Jadi, biar nggak bolak-balik Semarang-Jogja saya mengikuti kedua tes tersebut secara berurutan pada 11-12 Desember 2013 lalu. Berikut ringkasannya.
1.    PAPs
Merupakan singkatan dari Potensi Akademik Pascasarjana, dari namanya aja kita bisa langsung tahu kalo PAPs ini sama kayak Tes Potensi Akademik yang mirip-mirip psikotes gitu. Sub tesnya terdiri dari Kemampuan Verbal, Kuantitatif, dan Penalaran. Untuk nilai minimal yang disyaratkan untuk pendaftaran S2 yaitu sebesar 450. Berhubung saya udah cukup khatam dan berpengalaman mengerjakan psikotes dalam rekruitmen kerja (walaupun soal-soalnya nggak sama persis 100%), jadi yaa saya pikir agak nyantai lah yaaa. Hahaha. Tapi akhirnya saya tetep browsinglah ya contoh soal-soal PAPs ini. Hasilnya saya nggak banyak nemu link yang nge-share soal-soal PAPs ini, yang saya dapatkan dari website resminya justru contoh soal TPA untuk ujian masuk perguruan tinggi (dan ternyata nggak 100% sama juga soal-soalnya kayak PAPs), tapi lumayanlah buat belajar. Ini link downloadnya ya :

     http://www.4shared.com/office/v3ggYnzR/latihan-tpa-snmptn-2011.html
     http://www.4shared.com/office/W0xlSF6j/latihan-tpa-snmptn-2012-kode-0.html
     http://www.tespotensiakademik.com/Tes-Potensi-Akademik-TPA-Download-Gratis.pdf
     http://ebookbrowsee.net/ebook-contoh-soal-tes-potensi-akademik-tpa-snmptn-bappenas-s2-s3-gratis-online-ver1-pdf-d488448824
     http://soaltpax.com/

Sebenernya, kalo calon pendaftar udah pernah mengikuti tes TPA Bapenas, calon pendaftar tidak diharuskan untuk mengikuti tes ini dan dapat melampirkan sertifikat TPA Bapenas tadi. Karena konsep soal tesnya sama. Sayangnya, saya hampir lupa kalo berarti di internet saya bisa browsing soal PAPs yang minimalis itu dengan keyword soal TPA Bapenas -_-
 Saya baru sadar setelah sehari sebelum tes PAPs (yang berarti pada saat jadwal tes ACEPT), saya ngobrol sama mbak-mbak yang duduk di sebelah saya ketika menunggu waktu untuk masuk ruangan. Ketika di tengah-tengah obrolan...
Saya : “Belajar buat PAPs dari mana mbak? Saya browsing dari internet kok contoh soalnya dikit ya..”
Mbak sebelah saya : “Ini aku beli buku TPA Bapenas. Sejenis sama PAPs, di Gramed ada banyak kok”
S : (aaaak, nggak modal banget saya, Cuma mengandalkan koneksi internet, udah gitu lupa pulak kalo bisa disearch pake TPA Bapenas) “Ohhh. Baru tes pertama kali juga ya mbak?”
M.S.S : “Ini tes yang kedua, yang pertama kemarin skorku masih kurang dikit”
S : (daaaan saya mulai kepikiran, haduh ini tes susah nih berarti) “Susah banget ya mbak tesnya?”
M.S.S : “Yaah gitu..lumayan sih, yang paling susah sih deret angkanya”
Okesip, malam sebelum tes PAPs ini, yang sebelumnya saya berencana leha-leha karna menurut saya belajar terlalu mepet itu nggak baik, akhirnya jadi browsing-browsing dan belajar soal-soal lagi. Lalu bagaimana dengan buku TPA Bapenas di Gramed? Saya nggak beli bukunya, rugilah yaaw kalo kepake cuma semalem doang, heheee (optimis dong kalo nggak bakal ngulang tes ini ;p)
Akhirnya dengan berbekal belajar ngebut keras semalem, soal-soal insyaallah bisa dikerjakan dengan baik. Kalo menurut saya nih yaa, yang susah itu bagian sinonim-antonim dan teman-teman sejenisnya. Tapi so far, so goodlah.
2.    AcEPT
Merupakan singkatan dari Academic English Proficiency Test, kayak tes TOEFL gitu deh. Bedanya kalo di AcEPT ini bagian-bagiannya adalah Listening, Vocabulary, Grammar and Structure, Reading, dan Composing Skill, sedangkan di TOEFL nggak ada Composing Skill . Contoh soal yang saya dapatkan dari internet juga nggak banyak, jadi saya banyak belajar dari buku TOEFL punya saya dan TOEFL-nya Baron punya Bapak yang udah jadul (soalnya TOEFL-nya Baron sekarang udah mahal banget nget nget), hahaha. Ini link download contoh soal AcEPT yang saya dapet :



Perbedaan dari TOEFL dan AcEPT yang lain adalah pada total skor akhir untuk sistem penilaiannya. Untuk AcEPT ini calon pendaftar S2 harus memiliki skor minimal AcEPT sebesar 209 atau setara dengan skor TOEFL 450.
Daaan pada saat hari H, seperti biasa sebelum masuk ke kelas saya ngobrol dulu dengan sesama peserta tes.
Saya : “Belajar AcEPT dari mana mbak?”
Mbak sebelah saya : “Ini kemarin waktu aku daftar ke sini ada yang nawarin buku AcEPT sama ada CD buat listeningnya juga”
Fyi, buku AcEPT ini nggak dijual bebas di toko buku. Dan waktu saya nanya mbak ini berapa harganya, sekitar berapa ratus ribu gitu saya lupa. Cukup mahal sih buat buku yang nggak terlalu tebal.
S : “Susah nggak mbak soal-soalnya?”
M.S.S : “Yaa lumayan sih, mungkin karna saya udah lama nggak belajar kali ya, hehee” (sambil bolak-balik buku AcEPTnya. Jadi mbak-mbak ini udah lama bertahun-tahun gitu kerjanya, dan akhirnya rela resign demi melanjutkan sekolah lagi)
Singkat cerita saya lanjutin ngobrol sama sesama peserta tes yang lain, yang duduknya juga di sebelah saya.
M.S.S.1 : “Baru pertama kali ikut tes mbak?”
S : “Iya, kalo mbaknya?”
M.S.S.1 : “Aku udah ikut yang kedua kali ini”
S : “Soal-soalnya gimana mbak? Susah?”
M.S.S.1 : “Ya gitu..emang banyak yang ngulang sih. di lembar jawabnya juga ada pertanyaan ‘sudah berapa kali ikut tes’. Waktu aku pertama kali tes, bapak-bapak di depanku juga nanya ‘baru pertama kali ikut tes ya mbak? Saya udah berkali-kali bla3x’ “
Bahkan akhirnya saya disarankan untuk daftar tes AcEPT yang berikutnya lagi, buat jaga-jaga kalo nggak lolos tes yang ini. Oh meeeeen makin jiper aja sayaaa. Tapi yaudahlah yaa, pasrah, toh udah belajar dan berdoa juga.
Jeng jeeeng akhirnya tiba juga saat tesnya. Listeningnya yang saya pikir susah ternyata lumayanlah, lebih ringkas, lebih mudah dimengerti, dan lebih susah TOEFL menurut saya ;p. Vocabnya juga nggak yang ‘aneh-aneh banget’ kayak yang di TOEFL, walaupun bacaannya kebanyakan ambil dari ensiklopedi dan jurnal-jurnal gitu. Tapi oh tapi yang paling susah ternyata adalah....waktunya. Sumpah ini waktu yang dikasih cepeeet bangets! Tiap bagian udah ada alokasi waktunya sendiri, dan itu cepet banget T.T Boro-boro mau ngoreksi jawaban kita lagi, buat baca soalnya aja harus cepet banget, apalagi yang bagian reading.Ditambah lagi saya suka nggak teliti gitu, jadi tambah nggak yakin aja, siap-siap buat tes lagi deh :|
Sekitar seminggu sesudah tes, hasilnya sudah keluar..and finally thank God! Saya nggak perlu ngulang lagi. Horeee! Selamat belajaaar untuk pelajaran-pelajaran selanjutnya :)