Get me outta here!

Jumat, 15 April 2016

Review Gedung Resepsi Pernikahan di Semarang

Halo!
Saya mau sharing hasil survei ke beberapa tempat yang dapat dijadikan sebagai alternatif tempat resepsi pernikahan di Semarang. Berhubung cuma survei ke tempat yang deket-deket aja, beberapa venue yang direview cuma venue yang berlokasi di Semarang atas.

  1. Gedung Karina
Lokasi :  Jl. Jati Raya No.51, Padangsari, Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah

Katanya gedung ini dulu bekas bioskop, jadi interiornya masih ada bekas lorong-lorong kayak di bioskop gitu. Letaknya agak masuk sih, nggak di pinggir jalan raya besar..dan di sekitarnya banyak kompleks perumahan.
Saya datang ke lokasi sekitar pukul 10, tapi ternyata gedung masih dalam keadaan tertutup rapat bahkan gerbangnya masih dikunciin -___- Akhirnya ibu memutuskan telpon contact personnya aja, nomornya udah tertera di papan nama gedung. Ternyata bapak yang jaga gedung baru standby sore dong. Pffft. Yaudah akhirnya nanya-nanya by phone aja.

Harga sewa : Rp. 5.000.000 untuk siang dan malam tarif sama
Fasilitas : AC, kursi sebanyak 40 buah, parkir dalam lingkungan gedung (nggak nanya banyak soalnya cuma by phone)

nemu foto seadanya dari internet
Karena gedungnya nggak terlalu besar dan lokasinya yang agak masuk, saya pikir sewanya paling sekitar 2-3juta saja, tapi ternyata salah. Hahaha. Daaan kelupaan nanya kapasitas gedung. Tapi sayangnya parkirnya sempit..kalo kurang lahan parkir tamu harus parkir di pinggir jalan, dan biasanya bakal ada tukang parkir dadakan. Jadi tamu-tamunya harus bayar parkir segala.

  1. Balai Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa Tengah (Gedung Pertemuan Sasana Widya Praja)
Lokasi : JL. Setiabudi, No. 201 A, Semarang

Ini gedung kayaknya jadi favorit untuk tempat resepsi di Semarang atas. Nggak cuma buat mereka yang rumahnya di atas aja, bahkan katanya yang rumahnya Ngaliyan sampai Genuk juga cari gedung di sini.
Seringnya gedung ini full booked kalo kita nggak pesen jauh-jauh hari. Kata bapak yang jaga, bulan Agustus tahun depan pun udah ada yang booking -_____- Untuk amannya, mungkin sekitar setahun sebelum hari H harus udah mulai survei-survei venue kali ya. Kelebihannya di sini kita bisa lihat jadwal gedung yang udah dibooking secara online lewat infosewa.diklatjateng.info. Jadi sebelum ke sini paling nggak udah ada gambaran jadwal gedung kosong kapan aja. Kelebihan lainnya adalah kita nggak perlu pake dp untuk booking gedung. Hmm..tapi ya jadinya memungkinkan orang jadi asal booking atau cancel jadwal tapi nggak ngabarin (curhat bapaknya yang jaga).

Harga sewa : Rp. 6.500.000 siang, Rp. 7.000.000 malam
Fasilitas : kapasitas 800 orang, full AC (central dan portable), listrik 30rb watt, genset, kursi lipat 100 buah, sound system standard, VIP room untuk ruang ganti, parkir luas, toilet, keamanan

Gedungnya cukup luas, panggungnya juga besar, interior dan eksteriornya bagus, parkirnya juga lumayan luas. Ruang ganti yang disediakan juga cukup luas, sudah dilengkapi toilet juga. Lokasinya nggak pinggir jalan besar persis sih, agak masuk dikit dari jalan besar. Tapi di jalan masuknya udah ada tulisan Balai Diklat Srondol. Yang agak beda dari gedung-gedung lain mungkin di letak panggungnya ya..jadi panggungnya itu letaknya di sebelah kanan pintu utama. Kalo yang biasanya kan dari pintu utama kita tinggal lurus aja buat ke panggungnya. Jadi denahnya gini.
kesannya masuknya kayak dari samping
Di dalam gedung juga disediakan LCD projector, tapi kena charge 200rb untuk setiap titik pemakaian. Ada seperangkat gamelan juga di pojokan, kayaknya kalo mau pake kena charge juga. Jadi dengan harga sewa segitu dibandingkan sama lainnya sejauh yang saya tahu,  yang ini lebih worthed sih.

tampak samping

panggung yg di pojokannya ada gamelan

tampak dalam (1)

tampak dalam (2)

tampak dalam (3)

VIP room untuk transit

bagian teras

  1. Pondok  Serrata Semarang
Lokasi : Jalan Setia Budi No. 108, Semarang

Pondok serrata ini hotel dan resto yang lokasinya ada di pinggir jalan raya utama dan sering dipake buat acara pertemuan, seminar atau resepsi pernikahan. Hall yang dipakai untuk acara resepsi saya pikir cuma berkapasitas kecil, ternyata kata mbak marketingnya kapasitasnya sekitar 300-1200 orang, jadi untuk sekitar 150-600 undangan. Kalo undangan kurang dari 150 maka akan dikenakan charge. Untuk acara resepsi, selain pakai hall utama, nanti bisa sampai pakai bagian outdoornya yang dekat kolam renang. Dan setelah dilihat-lihat hall serrata kelihatan kecil mungkin karena ceiling hallnya yang rendah, terus banyak tiang-tiang gitu di dalam ruangan, ditambah lagi pas saya survei ada banyak meja kursi di situ jadi ruangannya kelihatan sempit.
Kelebihannya di sini adalah free sewa tempat dan kayak udah ada WOnya dari Serrata, karena dari sana yang mengontrol jalannya acara. Parkirnya juga lumayan kayaknya, karena ada di bagian depan dan belakang. Sayangnya, karena free tempat kita diharuskan buat ambil catering dari sana dengan harga buffet yang lumayan mahal menurut saya, harga buffetnya minimal Rp. 50.000/pax. Padahal banyak catering yang lebih murah dan dengan rasa lumayan. Hahaha. Selain itu panggungnya terlalu kecil menurut saya.

Biaya sewa : free: tapi harus ambil catering dari Serrata (buffet min. Rp. 50rb/pax, pondokan started from Rp. 10rb), additional charge hiburan, setting ruang, kemanan Rp. 3.500.000
Fasilitas : gedung dan ac, free 1 kamar deluxe double selama satu malam, peralatan seperti meja, kursi, taplak, pita, listrik untuk video shooting (tidak termasuk video shooting), test food utk 6 orang.

Kalo untuk acara yang nggak terlalu banyak tamu dan intimate gitu, cocok sih menurut saya. Tapi kalo tamu agak banyak dan budget minimal yaaaah..Hahaha
pilarnya nutupinnya lumayan -_-

panggungnya lumayan kecil

tampak dalam

tampak dalam (2)

bagian samping hall dekat kolam renang

Minggu, 03 April 2016

Getting older..become more complicated choices then

"Selamat ya mbaa"
Line tiba-tiba dari sepupu saya yang mengabarkan jika saya dinyatakan diterima sebagai tenaga kontrak di sebuah PTN di Jawa Tengah. Sesuatu yang bahkan nggak pernah saya rencanakan sebelumnya. Kalo dulu ibu nanya kenapa nggak pengen ngajar di negeri, saya cuma jawab "nggak ah di swasta aja, lebih enak kayaknya, hehe" sumpah cetek banget. Pikir saya pada saat itu negeri pasti persaingannya berat, cuma orang-orang pilihan yang mampu, dan sepertinya saya bukan orang yang terpilih itu.
Beberapa minggu lalu.
X : "kamu serius mau daftar ke situ?"
Y : "ya, insyaAllah. kan belum tentu ketrima juga, itung-itung  buat latihan proses rekruitmen kalo aku mau daftar ke tempat lain"
X : "tapi itu jauh loh dari Semarang, kalo nanti kamu ketrima aku gimana?"
Y : "hmm..." (dan sayapun bingung harus jawab gimana, hahaha)
-------------
Saya masih bengong mengamati pengumuman hasil penerimaan yang dikirim sepupu saya. Berpikir keras dan udah kepikiran dari sebelum-sebelumnya sebenernya. Surely it doesn't include in my prior dreamboard. Saya memang bercita-cita ingin menjadi star pengajar hingga akhirnya memutuskan resign dari kerja untuk kemudian melanjutkan sekolah lagi. Rencana saya pada saat itu, setelah lulus kuliah pengennya kerja dekat rumah, ehehehehe. Semarang atau dulu saya pengen banget bisa hidup di Jogja, like what I write in 2012. Sesuatu yang saya pikir dulu impossible.
Then time flies..who knows it looks like not impossible anymore. Saya memang belum pasti 100% bisa hidup bekerja di sana seperti yang saya cita-citakan dulu, tapi peluang yang ada besar. Cukup besar. Harusnya saya senang mengingat saya adalah tipikal yang kalo punya keinginan "entah gimana akan selalu saya usahakan sampai titik penghabisan"
....
Tapi semangat saya untuk mewujudkan cita-cita itu sudah tidak menggebu-gebu seperti dulu.
...
Kembali ke soal tenaga kontrak.
Iya sih PTN, berpeluang untuk bisa jadi PNS, walaupun nggak selalu kualitas swasta di bawah negeri ya. Tapi pertimbangannya agak berat juga jadi tenaga kontrak, karena saya merasa masih nggak aman sebenernya.
Pertimbangan lebih berat lainnya adalah lokasinya yang cukup jauh dari rumah, walaupun masih sama-sama di jawa tengah. Saya tahu, harusnya bersyukur karena nggak harus sampai beda pulau. Tapi..ya..5-6 jam perjalanan pulang ke rumah  dengan ongkos lumayan buat tenaga kontrak..yaaaah..hahahaha.
Banyak hal yang berubah dalam beberapa tahun ini, termasuk kondisi keluarga. Bekerja dengan menetap di kota yang cukup jauh dari rumah sepertinya cukup berat mengingat kondisi keluarga saya yang sekarang. Karena saya akan sulit pulang sewaktu-waktu untuk menengok rumah..tapi di sisi lain saya seperti..I've to get my job soon..I couldn't doing nothing..panggilan hati  sebagai anak pertama. Saya nggak mungkin nggak melakukan apa-apa dengan keadaan sekarang, ada hal-hal yang bikin saya 'sengotot' ini untuk segera bekerja. Mungkin agak terdengar berlebihan. Tapi yaa..kondisi sekarang ini membuat saya merasa tertampar kalau ingat dulu saya gampang sekali mengeluh untuk hal-hal sepele, untuk hal-hal yang nggak seberat dibandingkan dengan masalah orang-orang lain di luar sana. Kadang-kadang kepikiran kenapa sekarang harus begini, kenapa Allah nggak mengembalikan keadaan keluarga saya menjadi 'baik-baik' seperti dulu, kenapa...ah God knows the best..then I should be grateful for who i am.
----------
Y : "kerja di Jogja itu udah jadi cita-citaku dari lama, udah sampai ditulis di blog malah"
X : "yaa.."
Y : "soalnya masih deket dari rumah juga, jadi aku masih bisa sering pulang. Dan sekarang peluangnya terbuka lebar. Terus..gatau kenapa emang pengen di sana dari dulu. Lagian di Semarang buat tespun aku kayak nggak dikasih kesempatan"
X : "rasa cita-citanya masih sama?"
Y : saya diam.. "Engga"
....
Semangat saya untuk mewujudkan cita-cita itu sudah tidak menggebu-gebu seperti dulu. Rasanya sudah tidak sama.
...
Jujur, semangat saya sedikit demi sedikit menguap. Semangat saya masih ada walaupun sudah nggak sebesar dulu. Apa yang terjadi beberapa waktu ini membuat saya harus sedikit mengubah haluan rencana-rencana besar saya. Bagi saya ini besaaaar walaupun mungkin bagi orang lain ini cuma remah-remah  Karena saya terbiasa membuat perencanaan-perencanaan dalam hidup dan berusaha sekuat tenaga untuk itu.

Alasan pertama, keluarga.

Alasan kedua, orang baru yang tiba-tiba datang dengan santainya dalam kehidupan saya, yang pada akhirnya menjadi bagian dalam rencana masa depan saya, yang membuat saya harus mempertimbangkan kembali langkah-langkah saya, yang kemudian membuat cita-cita saya dulu sudah tidak begitu menggebu-gebu.
Saya cukup beruntung karena saya nggak benar-benar harus merelakan beberapa hal yang saya inginkan. Alhamdulillah partner masih bisa diajak kompromi. Memang ada beberapa rencana yang perlu disesuaikan, tapi nggak lantas berubah total dari awal. Yang saya tahu, beberapa lainnya harus mengubah total cita-cita mereka. Meletakkan ego pribadi demi kepentingan bersama. Couldn't describe in the words..saya salut..karena saya bahkan nggak yakin bisa seperti itu. Hahaha

Pada  akhirnya, akan ada orang baru yang datang, kemudian membuat kamu rela mengalah untuk menomorsekiankan apa yang pada awalnya menjadi tujuan atau bahkan kamu harus membuat beberapa penyesuaian demi sama-sama merasa nyaman
Sekian waktu berlalu, dan rasanya sudah nggak seperti dulu.


3 April 2016, catatan demi saya bisa mengingat apa yang sedang saya alami sekarang pada beberapa tahun ke depan.

Jumat, 11 Desember 2015

Milestone kesekian



We never know what will happen in a second. Like I am. A few weeks ago was one of my big day, the day that i have to defend my master thesis.

Akhirnyaaaa, setelah hampir 2 tahun kembali duduk di bangku kuliah, tiba juga waktunya sidang akhir pendadaran yang seolah jadi penanda gerbang kelulusan. Setelah hampir setahun saya bergelut dengan segala hal yang berkaitan dengan penelitian tugas akhir, 23 November kemarin tiba juga waktu untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya kerjakan untuk penelitian di depan dosen-dosen penguji.
Daaaaan..singkat cerita, nggak sampai 1,5 jam di dalam ruang sidang, alhamdulillah lulus dengan revisian. Beberapa pertanyaan saya nggak bisa jawab, beberapa pertanyaan dijawab pake mikir lama, beberapa pertanyaan dijawab muter-muter dulu, beberapa pertanyaan dijawabnya harus diarahkan dosen dulu *akuhparahbanget* Hahaha..but it doesn’t matter anyway. Saya udah berusaha dan berdoa sebelumnya, hasil akhirnya serahkan sama yang di atas. hehehe
Apa yang saya lakukan selama hampir setahun untuk penelitian terbayar sudah. Mulai dari survei keliling Jogja sampai Klaten sambil bawa-bawa peta sendirian, ditawarin MLM gara-gara buka peta di tengah jalan, keluar masuk perusahaan-perusahaan, dinas-dinas, kantor gubernur, pustral sambil bawa-bawa proposal, dan lain sebagainya.


muka-muka fresh from the oven habis ujian

it has been 6 years (and still counting~) since i learn for industrial engineering

bukan dari teknik mesinnya, cuma numpang foto aja

Lalu..saya jadi flashback yang dulu-dulu. Februari 2014 pertama kalinya datang ke Jogja sebagai mahasiswa. Setelah pake acara galau-galau dulu soal mau lanjut sekolah lagi.
Terus..sekarang bahas yang seriusnya. Total SKS yang harus diselesaikan selama 4 semester sebanyak 44 SKS.Detail mata kuliah yang saya ambil di antaranya :

  • Semester 1 : Asas Teknik Industri, Metodologi Penelitian, Komputasi dan Pemrograman, Pemodelan Sistem; masing-masing 3 SKS
  • Semester 2 : Optimasi, Statistika Lanjut, Otomasi Sistem Manufaktur, Manajemen Proyek Lanjut, Teori Keputusan Lanjut, Data Mining; masing-masing 3 SKS 
  • Semester 3 : Teknik Rantai Pasok, Metaheuristik; masing-masing 3 SKS
  • Semester 4 : Tesis; 8 SKS

Saya...speechless mau nulis apa lagi. Saya cuma mau nulis aja, biar momen ujian akhir ini, yang jadi salah satu milestone di hidup saya nggak jadi lupa gitu aja. Biar saya inget, saya pernah sejauh ini melangkah. Huft, menye-menye.

Apalagi kalau ditarik mundur ke belakang lagi, 2008 yang lalu waktu saya masih awal jadi mahasiswa baru S1, masih alay-alaynya nulis blog, masih galau-galaunya gara-gara nggak diterima di universitas idaman. Singkat cerita, saya bisa menerima dan bertekad menjadi sebaik-baiknya yang saya bisa di manapun saya berada untuk belajar. Akhir 2013,  entah bagaimana setelah memutuskan keluar dari kerjaan pada saat itu, Allah swt ternyata kasih saya kesempatan untuk kuliah di kampus yang dulu pernah menolak saya mentah-mentah. Hahahaha.
Tuhan suka bercanda ya? The best God joke ever. Malu sendiri rasanya dulu sering bertanya-tanya kenapa doa saya nggak dikabulkan, kenapa kerja keras saya terasa sia-sia. Ternyata doa saya bukannya nggak dikabulkan, tapi ditunda karena memang belum waktunya... Dan nyatanya saya justru mendapat lebih dari apa yang saya minta sebelumnya.
We never know what might be happened tomorrow..but God knows the best. Huft, ini lebih menye-menye.

Setelah ini saya akan kembali memulai satu fase baru dari awal *bentangkan dreamboard lebar-lebar* Deg-degan sih, agak takut kalo kenapa-kenapa..but they convince me that this is gonna be allright. Sudah cukup saya berada di zona nyaman sebagai mahasiswa di Jogja. Hahaha

Btw, malam ini harusnya saya nyicil packing barang-barang yang harus dibawa pulang ke Semarang..tapi males. Tinggal menghitung hari saya hengkang dari Jogja, kota yang udah jadi rumah kedua buat saya, yang dari awal saya datang, saya nggak pernah merasa asing sama kota ini, saya merasa diterima sepenuh hati *oke ini lebay*
This 2 years full of things related to you..I couldn’t say anything, yet I really felt a sincere kindness.  Still being a good partner, still being a humble friend, for everyone that came over to see you.
Sebab kata Joko Pinurbo, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Sebab itu di setiap sudutnya ada memorabilia yang menunggu, ada kenang yang terulang menjelang petang, dan ada syukur yang dirayakan saat semesta mengizinkanmu kembali datang.

Yogyakarta, 11 Desember 2015.
Postingan ngalor ngidul tiba-tiba tanpa editing karena di luar hujan.

Sabtu, 21 November 2015

Those moments





Kamu dengan tas di punggungmu berjalan menghampiri saya dengan sedikit terengah-engah, mengagetkan saya tiba-tiba di tengah keasikan bengong sendirian. “Boleh duduk sini?” tanyamu. Saya yang masih dalam keadaan terkejut nggak percaya, cuma mengangguk saja. Kamu duduk di sebelah saya, lalu meletakkan tas punggungmu di bawah. Saya mengamatimu diam-diam. Pagi-pagi udah ngos-ngosan begitu, habis ngapain ya? lari? sepertinya buru-buru sekali, batin saya.
Jeda beberapa menit kemudian bus berjalan, saya diam, kamu juga. Saya melempar pandangan ke luar jendela seperti biasa. Entah apa yang ada di pikiranmu saat itu. Kalo yang ada di pikiran saya sih, kok bisa ya jadi pulang bareng, jadi bisa se-bis, jadi bisa sebangku? Padahal nggak lagi janjian juga. Beberapa hari lalu saya memang sempat bilang, “aku pulang Jogja lagi besok selasa, mau bla bla bla..”, lalu kamu menimpalinya dengan “aku juga pulang Jogja hari selasa, soalnya mau bla bla bla”. Itu beberapa hari lalu. Beberapa hari lalu kami sepakat pulang hari Selasa, tapi nggak janjian juga jam berapa. Beberapa hari lalu sebelum akhirnya ada awkward moment antara saya dan kamu, setelah kalimat penolakan yang saya utarakan beberapa hari lalu juga.

 “Aku belum selesai sama diriku sendiri” kata saya, yang sekaligus jadi tameng, saya nggak yakin kamu beneran suka sama saya, kamu mau jadiin saya pelarian ya? hah? maaf ya, saya nggak akan tertipu. Saya tahu kamu baik, tapi saya juga tahu berpindah ke lain hati nggak pernah semudah itu. Entahlah, menurut saya kesannya buru-buru. Lalu tiba-tiba kami bertemu dalam perjalanan yang sama kembali. Di hari Senin. Ya, mendadak saya harus kembali ke Jogja lebih cepat satu hari karena keperluan  tiba-tiba. Lalu saya bertemu denganmu dalam bus yang sama, di bangku yang bersebelahan pula.
“Katanya pulang hari Selasa, kok jadi Senin?” tanya saya buka suara. Kamu tersenyum, “Ada perlu tiba-tiba,” katanya. “Oh,” kata saya menimpali sambil berpikir keras kenapa kebetulan bisa terjadi.

Beberapa waktu kemudian setelah keadaan di antara kami membaik, dia bercerita, “Sebenernya waktu kita tiba-tiba bisa bareng pulang ke Jogja tanpa janjian pas itu..awalnya aku nggak bener-bener ada keperluan tiba-tiba. Walaupun nggak tahu kenapa, pas di tengah jalan dapet kabar ternyata aku memang harus pulang hari itu, jadi beneran ada perlu tiba-tiba,” katamu setengah tertawa. “Jadi sebenernya, malam sebelumnya aku mimpi kamu nggak jadi pulang hari Selasa, tapi hari Senin jam 7 pagi. Akhirnya buru-buru bangun dan ngejar bus jam 7 pagi sambil lari-lari,” katamu serius. Saya diam saja, antara percaya nggak percaya.
========================================================================
Saya nggak tahu kenapa, tapi seringnya saya mengalami hal-hal yang berasa kebetulan banget sama kamu. Saya tahu, nggak ada yang namanya kebetulan..jalannya begini ya karena memang sudah diatur sama yang di atas. Bahkan jauh sebelum kamu menyadari perasaanmu, “kebetulan” antara saya dan kamu sudah beberapa kali terjadi. Ketika akhir tahun lalu Bapak sering bolak-balik masuk rumah sakit, entah kenapa selalu ada momen kamu menghubungi saya dan menanyakan keadaan Bapak di waktu Bapak memang sedang opname. Padahal pada saat itu kami nggak dekat, nggak dekat banget malah. Nggak pernah ada basa-basi, menghubungi kalau memang ada keperluan penting saja. Tapi tidak pada saat itu. Kamu selalu menyempatkan datang menjenguk Bapak. Saya nggak curiga. Kamu juga (mungkin) belum ada rasa apa-apa.
========================================================================
“Pake handphoneku dulu aja, nggak aku pake. Paket internetnya diisi provider lain, sinyalmu di kos kan jelek banget. Biar gampang dihubungin. Hehehe,” katamu suatu hari. “Enggak mau,” kata saya ketus. Handphone saya masih belum dual sim, dan sinyal providernya ngehe banget di kos. Bikin saya susah dihubungin. Padahal pake yang sinyalnya lancar aja saya slow response banget, pfffft. Saya masih dingin ke kamu pada saat itu, beberapa wasapp masih diread saja, beberapa dibalas dengan emote jempol saja, beberapa di-endchat, beberapa dibalas berjam-jam kemudian *kibasrambut* Beberapa waktu kemudian handphone saya mati mendadak, purna sudah tugas si handphone sebagai penghubung saya dengan informasi-informasi dunia luar *huftbete*akukenabatunya* Akhirnya saya terima tawaran kamu untuk memakai handphonemu sementara, berhubung saya nggak mau ketinggalan info-info penting. Dan eurekaaa..dari situ saya merasa menjadi beberapa langkah lebih dekat dengan kamu. Kenapa? saya juga nggak tahu.
========================================================================
“aku tanya ke ibu dulu ya,” kata saya ketika kamu bercerita panjang lebar tentang perasaanmu setelah sekian kali. “iya, ridho Allah swt, ridho orangtua,” balasmu. Dan...saya lupa, saya nggak benar-benar menyempatkan waktu untuk bertanya serius ke Ibu. Sampai akhirnya Ibu sendiri yang menanyakannya ke saya, membahas banyak hal yang sudah sering saya bahas denganmu tapi berakhir dengan saya yang keras kepala. Dear captain, the universe totally stand up for you. Saya jadi tahu kalau saya salah, kalau kepala saya sekeras batu, kalau kamu butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi saya.
Sampai perlahan-lahan saya berani menumbuhkan keyakinan, kalau segala kebetulan-kebetulan ini adalah sebenar-benar rencana Tuhan. Termasuk saat suatu hari kamu minta izin ke orangtua saya untuk memperkenalkan saya ke keluargamu. Saya nggak berani menatap mata Bapak saat itu. Saya tahu perasaan Bapak saat itu pasti campur aduk. Seperti diingatkan kembali bahwa putri pertamanya sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan hidupnya. Tapi Bapak, sebagai laki-laki yang paling bertanggungjawab atas putrinya, masih dalam kondisi sakit dan susah payah untuk melakukan apa-apa.
That day really we got the moment, much bliss and joy. My sincere gratitude to You, my Lord. Entah bagaimana saya merasa dimudahkan, kamu mengenal keluarga saya dan sebaliknya. Hari itu Ibu saya ulangtahun, dan membawa kamu ke depan Ibu untuk jadi teman ngobrol, teman diskusi, teman curhat, dan lain sebagainya (yang mungkin saya nggak bisa), bisa jadi adalah kado yang berkesan untuk beliau. Hehehe.
========================================================================
Banyak “kebetulan-kebetulan” sepele lainnya yang saya alami. Termasuk saat saya lagi pengen aja kasih breadtalk buat kamu di H-1 ujian pendadaranmu. Ternyata momennya pas banget untuk meredam rasa lapar sementara, waktu kamu jadi sedikit emosional karena makan malam tertunda akibat harus benerin kacamata tiba-tiba. Atau pas banget momennya buat sarapan hari H karena kamu nggak sempet sarapan nasi akibat banyak  keperluan-keperluan mendadak. Waktu saya kasih sweater rajut juga gitu, ternyata pas juga sama kamu yang katanya juga lagi mau cari sweater rajut.
Mungkin yang saya rangkum ini kebetulan momen yang lagi pas-pas aja..mungkin banyak yang nggak pas juga, tapi nggak saya gubris sema sekali. Hehehe.
I have no words to say, but I am truly thankful for your courage, kindness, goodness, and all that you do. Bukan cuma buat saya, tapi juga buat Ibu, Bapak, dan dua adik perempuan saya. You have touched my life deeply.

Yogyakarta, H-2 ujian pendadaran.
Deg-degan mau ujian tapi bosan