Get me outta here!

Senin, 01 Juni 2015

Many things happened, everything has changed.



It has been almost one and a half years since I took my master program here, since I lived as student (again), since I quit from my full time job, and since I started to rethink what must I do for the better myself. Sebenernya saya nggak tau mau nulis apa sih..cuma tiba-tiba kepikiran the time flies really fast. Semuanya berjalan cepet banget, apalagi kalo inget umur, haaah.
And this blog has grown up with me sincerely.These stories of felicities, sadness, confusion, and so on, I wrote here with my random thoughts about anything. Mulai dari umur saya yang belum kepala dua, sampai sekarang yang udah kepala dua lebih. Mulai dari jaman alay sampai sekarang yang (semoga) udah nggak alay, mulai dari jaman galau sampai sekarang  yang (semoga) udah nggak galau. Hahahaha
Jadi..hemm..apalagi ya.. bingung juga ya bikin tulisan yang nggak jelas gini. Hahaha
Jadi kuliah saya udah masuk semester 3, semesternya udah hampir habis malah. Sebentar lagi UAS dan kalau sesuai rencana dan berjalan lancar, semester 4 tinggal nyelesain thesis aja *ini keliatan gampang banget nulisnya, tapi ekskusinya..hufft* Terus setelah lulus, saya harus apply-apply kerjaan lagi, mengulang lagi fase-fase habis lulus S1 dulu. Bedanya sekarang saya udah mulai tau lebih spesifik mau dibawa ke mana hidup saya nanti. Jadi dulu nggak tau? not totally. Dulu masih gampang terombang-ambing ikut arus sih, hehe. Lagipula pembelajaran kan memang butuh proses, dan proses butuh waktu,and I get that point then.
Kalo lagi nggak ada kerjaan atau lagi banyak kerjaan tapi suntuk, saya suka iseng baca-baca apa yang saya posting di sini dari jaman entah kapan sampai sekarang. Terus jadi senyum-senyum sendiri, jadi mikir ini kejadian kapan, jadi flashback, jadi berasa..urrrgggh begitulah. Puas rasanya inget apa aja yang udah pernah saya lakuin sampai sejauh ini. Dari tulisan yang sedikit  banyak burst me into emotional feeling, sekadar iseng, atau yang literally i was sinking down to the bowl of happiness. Saya pernah yah sebegitunya, hehe.
Blog pertama saya ini seakan-akan jadi saksi hidup saya dari waktu ke waktu, dari postingan masih SMA (sorry, this posts have been deleted. posting khas abg ini malu-maluin banget -_-), kuliah, kerja, sampai sekarang kuliah lagi. Hmm..kalo diliat-liat ada perbedaan tulisan yang saya buat di setiap fase tadi walaupun karakter tulisannya masih sama.
Sampai sekarang saya masih suka nulis...tapi nggak rajin. Tapi dari dulu emang nggak rajin sih..dan nggak jelas, hehee~
Biar gimanapun, biar saya nggak rutin nulis di sini, biar sampai berbulan-bulan lamanya baru nulis *ini payah banget sebenernya* Tapi blog ini harus tetep ada isinya, harus tetep jadi saksi hidup saya untuk waktu-waktu berikutnya. Hahahaha..laah piyee yaaa kui. Semoga setelah ini nggak males buat nge-diary di sini. Diary di sini yang nggak private-private banget maksudnyaaa. Jadi saya bercita-cita buat merangkum semua perjalanan saya setelah ini... have graduated, getting a job, working, wedding preparation, the big day, having a little baby, and so on *ya ampuun ini aku mikirnya terlalu jauh ke depan gak ya? eh tapi gapapa ding, visioner itu perlu* mungkin aku kebanyakan blogwalking ke blognya emak-emak..jadi begini --“

PS: saya pelupa maka saya menulis. saya membaca lalu memori yang sempat hilang terpanggil datang. this really reminds me, sudah sejauh itu jalan dari Tuhan untuk memberi saya banyak pelajaran. i have to start writing, cause there will be no repetition of those moments in the future.

Kamis, 09 April 2015

Saya ke"hujan"an


“Kamu lagi nggak ada kerjaan ya?”, tanya saya kepada diri saya, sore itu di perpus Teknik. “Banyak. Saking banyaknya nggak tau mau mulai dari mana” jawab saya. “Come on, hari ini udah ada satu penguji yang tanda tangan di revisian kamu, walaupun harusnya total ada 4 tandatangan. Jadi saatnya kasih reward buat diri kamu sendiri, terserah mau ngapain” lanjut saya lagi. “Oke. Kalau gitu boleh tulis-tulis sepuasnya. Yang absurd pun juga okee”  jawab saya.

Siang sampai sore itu sebenernya saya lagi ngerjain matriks jarak yang nauzubillah banyaknya. Leher sampai punggung pegel-pegel semua. Somebody, please tell me..gimana cara cari matriks jarak tanpa harus mantengin google earth satu-satu. Urggh!! :(
Berhubung udah nggak kuat lagi liatin google earth, akhirnya malah ketik-ketik nggak jelas. It has been so long time yes, since I didn’t put something here *tiupin sarang laba-laba di blog*
Jadi, saya mau cerita nih. Sekitar Agustus tahun lalu, tumblrer (apalah itu sebutan yang nulis di tumblr, kalo blog kan namanya blogger) favorit eijke woro-woro di tumblr kalau mau bikin buku. Tapi self publishing gitu..jadi kita harus pre-order dulu kalau mau beli, dan pastinya bukunya nggak bisa kita dapatkan di toko-toko buku. Anak-anak yang eksis di dunia pertumblr-an pasti tau deh. Yap dia adalah KurniawanGunadi. Saya tahu doi (ahelaaah doi, hahaha) udah dari sekitar empat tahunan kali yaa, sejak awal saya bikin tumblr. Jadi ya saya lumayan ngikutin nih tulisannya, dari yang awal (kayaknya) masih nggak sebanyak sekarang yang reblog dan love postingannya, sampai sekarang yang baru berapa menit diposting aja udah ratusan yang reblog. Secara artis tumblr gitu, hahaha, sebelas duabelas sama Kuntawiaji dkk.  Dari semua posting Kurniawan Gunadi, saya merasa, “wah yang ini saya banget... yang ini juga saya banget.. yang ini juga ya.. ini setuju banget... wah iya betuuul, dan seterusnyaa~~” Pokoknya hampir semua buah pemikirannya yang dituangkan ke dalam tulisan-tulisan di tumblrnya bikin saya pengen berseru, “ini beneeer, gueeeh bangeet!!”
Sampai-sampai virus Kurniawan Gunadi ini saya tularkan ke temen-temen kuliah juga. Kalian harus merasakan ketika apa-apa yang ada dalam diri kita bisa tergambar jelas dengan lugas, lebih terasa maknanya, lengkap dengan solusi tapi tidak menggurui, walaupun kadang sepaket  dengan analogi yang bikin kita harus berpikir lebih keras lagi, penasaran, lalu menerka-nerka sendiri. Banyak sisi dari berbagai dimensi. Begitulah hidup :')
Dan ketika pre-order dibuka, saya nggak mau ketinggalan untuk ikut serta. Hujan Matahari tiba dengan selamat di kos pada Agustus 2014. Saya yang tadinya mau baca materi apa ya gitu lupa..akhirnya malah menyelesaikan buku ini dalam beberapa jam saja. Hahaha. Kumpulan puisi dan prosa dalam Hujan Matahari sukses bikin saya senyum-senyum sendiri, bikin saya nggak berhenti membuka halaman demi halaman. Nggak jarang saya balik lagi ke halaman sebelumnya untuk memastikan saya harus bener-bener paham setiap bagian. Segitunya yaah eijke *ini ngalahin baca jurnal banget ya*
Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian, Gerimis, Hujan, dan Reda. Sebenernya saya nggak terlalu ngerti sih, perbedaan tiap bagian itu apa. Pokoknya saya sukaaa ajaa. Hehe. Bisa dibilang buku ini paket komplit kehidupan, tentang agama, keluarga, cita-cita, pertemanan, daaan uhuuk...pasangan. Dari baca tulisan Kurniawan Gunadi, saya belajar banyak hal, banyak sekaliii..saya sampai bingung menuliskannya. Hehe
Anyway, I do love this book. Much. Top ten to ten kalo kata saya maah. Banyak kalimat dalam buku yang saya stabilo-in kuning. Ada salah satu tulisan yang dari lama saya tempel di dinding kos malaaah..tulisan yang kalau saya baca sekarang-sekarang ini bikin mewek. Mungkin dulu nggak semewek ini, cuma  merasa tertampar dan tersindir. Dan sekarang menjadi merasa lebih tertampar dan tersindir lagi. Tulisan itu jadi reminder buat saya. Tetap bersyukur, meski hidup tengah tersungkur.
And, here are my favorite highlighting quotes:
"Seperti ketika aku mencintai orang di masa depan yang bahkan belum pernah aku temui. Cinta yang diwujudkan dalam doa-doa dan perbaikan diri"
"Aku bukan pilihan, aku tujuan"
"Kita dan hati kita diberikan batas pemisah oleh Tuhan, dan Tuhan yang berkuasa penuh membolak-balikkan perasaan itu dalam sekejap"
"Tuhan selalu memiliki alasan yang tepat mengapa melakukannya pada hatimu"
"Mungkin benar memang butuh seumur hidup untuk meyakinkan mereka bahwa anak perempuannya akan baik-baik berada di bawah penjagaanku"
"Kekayaan itu tidak hakiki, anakku, tapi kebahagiaan itulah yang hakiki"
"Kita tidak bisa menentukan kapan kita mati. Tapi kita bisa memilih bagaimana kita mati"
"Aku bersyukur hidup di keluarga Samudra. Saat daratan membuat orang-orang dekat kita pergi dari rumah, samudra justru menahan mereka semua untuk berada dalam satu kapal"
"Perasaanmu memerlukan pijakan, agar ia bisa berdiri tegak mesti badai memporak-porandakan hatimu"
"Tidak akan ada yang bisa merebut impian kita kecuali diri kita sendiri yang membunuhnya"
"Percayalah. Dia mungkin sedang berencana menggantinya dengan hal yang jauh lebih baik. Dia melihat usaha dan doamu, kan?"
"Dan, kita tidak perlu datang untuk orang-orang yang benci. Tidak usah pedulikan. Sebab, kita datang untuk orang-orang yang benar-benar mengharapkan kita"
"Hidup adalah masalah waktu. Bagaimana kita menjadi sebaik-baik diri kita dalam waktu yang kita miliki"
"Namun, kita banyak mempertimbangkan ketika ingin mempercayakan hidup kita kepadaNya. Banyak kekhawatiran, banyak asumsi, banyak spekulasi, dan banyak syarat yang kita buat"
"Jadikanlah impianmu sebagai pemicu pertemuan, bukan keinginanmu untuk mencari teman perjalanan dari awal"
"Ketika ada seseorang yang memiliki tujuan yang sama dengan kita, pada satu titik kita pasti akan bertemu dengannya di jalan yang sama" --> you all, for whom galau2 gimana gitu. It’s better to hold this one guys
"Jika kamu tidak berharga, Tuhan tentu tidak akan menciptakanmu di dunia ini, kamu diciptakan karena kamu berharga dan Tuhan ingin melakukan sesuatu terhadap dunia melalui tanganmu"
"Mereka yang tidak berani berkomitmen adalah mereka yang sedang berencana meninggalkanmu sewaktu-waktu"
"Bila aku menujumu, ingatkan aku untuk berpaling kepada Tuhan lewat matamu"
"Aku tinggal di bumi, tapi carilah aku di langit" --> aaaakk, ini singkat dan jleb
"Dia hanya datang menggodamu dengan mendung dan gerimisnya kemudian setelah kamu sebagai tanah gersang berharap turun hujan, ternyata dia justru turun di tempat lain" --> daaan PHP itu nyata adanya gaees
And many moooreee

Wiiih banyak juga yaa..semoga cetak ulang bukunya, supaya semakin banyak orang yang menikmati Hujan Matahari. Selamat hujan-hujanan hati yang gersang :p
bukunya sampai leceeek :(
 
PS: saya juga lagi nunggu “Teman Imaji”-nya Mutia Prawitasari, self publishing juga kayaknya. Can’t wait for enjoying that book soon :))

Mission accomplished!


Jadi ceritanya, saya udah lama banget...entah sejak kapan itu..menchallenge diri sendiri buat nyobain rasanya nonton sendiri. Bukan nonton tv loh. Nonton film di laptop bioskop. Sendirian. How do you feel, waktu orang-orang yang duduk di sampingmu, kanan, kiri, depan, belakang, nonton film dengan bergerombol atau bawa pasangan. Sepanjang film asik makan cemilan bareng atau diskusi bareng kalo nggak ngerti isi filmnya. Nah kalo sendirian? Masa iya, tiba-tiba nanya sebelah “mbak itu, kok si itu bisa mati gimana ya? Kok gitu ya? Kok gini ya? Kok bisa ya? dan sebagainya dan sebagainyaaa~~” Malu ih, nggak kenal kok nanya-nanya -_- Apalagi kata orang-orang saya tipikal berisik kalo lagi nonton film, yang dikit-dikit nanya, atau dikit-dikit kasih komentar. Ya maaap bawaan jiwa kritikus. Hahaha
Terdorong oleh rasa kesepian penasaran yang tinggi kayak gimana rasanya nonton sendirian, alhasil sekitar dua minggu yang lalu saya nekat menjejakkan kaki ke JCM alias Jogja City Mall yang XXInya baru-baru ini dibuka *berdoa semoga ada diskonan XXI, padahal ternyata harga podo waee* Sebenernya selain pengen menyelesaikan challenge yang udah bertahun-tahun lalu lamanya, didorong juga sama efek seminar proposal yang fresh from the oven juga sih.. Hawanya masih nggak tahu harus gimana habis semprop, masih drop setelah pertanyaan bertubi-tubi, masih ngefly-ngefly gitu, jadi alangkah baiknya sejenak kita lupakan tesis dan teman-temannya.
Jadi akhirnya diputuskan hari itu saya akan nonton INSURGENT, setelah sebelumnya konsultasi ke adik saya yang udah duluan nonton. Daaan itu dadakan pemirsaaah. Tetiba nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba kebelet nonton. Malem sebelum hari H saya mendadak wasapp adek saya buat nanya enaknya nonton film apa ya besok.. Katanya INSURGENT bagus, padahal saya nggak ngikutin trilogi DIVERGENT juga. Hahaha. Akhirnya berbekal googling resensi film, yaaah sedikit-sedikit ngertilah ceritanya. Harus ngerti. *karena saya harus inget satu hal, kalo besok pas nonton saya nggak bisa nanya-nanya seenak jidat. Mau nanya ke siaapaaah -_-
Keesokan harinya, ternyata kuliah pagi saya cuma diisi setengah jam doang. Jadi saya punya cukup banyak waktu buat leha-leha dulu di kos. Padahal, rencana awal habis kuliah mau langsung cus ke JCM *ya kali mau bawa ransel gede-gede gitu di mal* Setelah saya siap-siap dari kos, tanpa membawa ransel tentunya, saya langsung meluncur ke JCM. Sungguh saya merasa direstui dalam misi kali ini. Tsaah. Berangkat dari kosan sekitar setengah 1, padahal filmnya baru mulai jam 2. Tapi waktunya udah paslah kayaknya, sekalian saya keliling-keliling juga buat nyari sesuatu. Sesuatu? Apa coba? Nggak jelas kan? Iyalah, namanya juga sesuatu. HAHAHAHA. *oke ini garing.
Sesampainya di sana, saya pikir daripada nanti antri kelamaan mendingan langsung beli tiket dulu deh. And actually I haven’t seen the cinema during my visit to JCM. Mungkin terakhir kali saya ke sana, itu XXI belum dibangun juga kali ya.  Jadi muter-muter dulu deh itu..nyariin XXI yang entah ditaro di mana. Daaaan ternyata JCM itu segede gambreng luasnya, gempor ini kaki! Oke, ini saya yang katrok, biasanya cuma liat-liat di lantai 1 dan 2. Hampir-hampir saya nanya satpam, eh ternyata ketemu juga XXI di lantai 4 atau berapa ya, lupa. Pokoknya di atas gitu, dan agak nyempil menurut saya. Berhubung di JCM masih banyak ruko-ruko yang kosong, jadi agak-agak nggak keliatan gitu.
Sampai di XXI, di luar prediksi saya..entah saya yang kerajinan dateng atau memang lagi nggak ada film bagus menurut orang-orang. Nggak ada antrian sama sekali di loket -_- Singkat cerita, satu buah tiket udah berada di tangan. Walaupun agak-agak gimana gitu waktu ditanya mbaknya “Berapa tiket mba?”, “satu mba, kok mba pake nanya sih. Nggak liat saya dateng sendirian. Nonton sendiri bukan berarti kesepian loh mba, cuma pengen mencari ketenangan aja. Habis nonton rame-rame berisik sih.. .....tapi boong :p “ *curcol nggak penting*
Karena durasi waktu yang tersedia masih panjang, muter-muterlah saya cari sesuatu. Dari lantai 4, ke lantai 3, ke lantai 2, ke lantai 1, dari sisi barat, ke utara, ke timur, ke selatan, balik lantai 2, lantai 3, lantai 4, sisi barat, utara, timur, selatan, dan seterusnya, dan seterusnya... Oke, ini jadinya kaki gempor banget dah. Sebelum masuk teater saya jajan cemilan dulu yaitu breadtalk. Ampuun, cemilannya aja roti yah. Hahaha.
Jam 2 teng, saya masuk ke dalam teater. Ternyata isinya emang nggak penuh-penuh amat, pantesan nggak ada antrian. Setelah mendarat di kursi empuk, seperti biasa observasi sekitar dulu. Sebelah saya sekumpulan abg cewek sama gengnya, alhamdulillah nggak terlalu berisik. Hehe. And the story goes on. Alur cerita film, alhamdulillah ngerti. Walaupun sedikit-sedikit harus buka hape, karena lupa apa itu Candor, Erudite, Amity, Dauntless, Abnegation. Daaan Four-nya cakeeep ya Allah *ini mainstream* Tapi Tris juga cantik sih. Yang paling agak gimana gitu, di salah satu adegan nama “Four” diterjemahkan jadi “Empat” di subtitle. Nggg, masnya cakep-cakep kok namanya Empat. Keluar dari JCM baru tau ternyata habis hujan, tapi pas pulang alhamdulillah udah reda. Kayaknya kalimat awal perlu diulang. Sungguh saya merasa direstui dalam misi kali ini
Btw, I’m happy for finishing this complete mission. Challenge accepted! Mission accomplished.
Berhubung saya udah ubek2 isi dompet bukti tiketnya nggak ketemu, pake gambar ini aja ya gantinya.

Sabtu, 01 November 2014

Bapak.

Bapak satu-satunya lelaki di keluarga. Yang benerin genteng, benerin pompa air, ngecat pagar, walaupun kadang kami anak-anak perempuannya juga diminta turun tangan.
Sifat Bapak yang keras kepala menurun ke saya. Bapak yang over protected, sempet nggak ngizinin anak perempuannya untuk mengendarai motor sendiri waktu SMA, karena jarak rumah ke SMA cukup jauh dengan medan jalan yang cukup ramai dan cukup bahaya menurutnya. Saya yang keras kepala keukeuh mau bawa motor sendiri, dengan seribu satu alasan udah males naik bus. Saya nekat bawa motor, walaupun tanpa SIM. Sekali dua kali, entah meski awalnya ngomel dalam hati, Bapak luluh juga mengizinkan anak perempuannya mengendarai motor sendiri. Bahkan dibantunya untuk mendapatkan surat izin mengemudi.
Keras kepala kami juga sama kompaknya ketika saya dinyatakan nggak lolos pada seleksi UM UGM tahun 2008 silam. Ibu bilang, memang bukan rezekinya di situ. Toh saya juga sudah diterima di universitas negeri lain. tapi saya sama bapak nggak goyah pendirian untuk tetap menjajal SNMPTN. Bapak yang nganter saya daftar SNMPTN jauh-jauh sampai Jogja, berhubung kemungkinan besar saya bakal kena blacklist kalo daftar di Semarang. Bapak juga yang nganter saya buat tes di Jogja dua hari berturut-turut. Setelah pengumuman tes, saya dinyatakan nggak lolos. Saya kecewa. Bapak juga.
Bapak itu galak. Beberapa teman pernah bilang begitu. Saya mengakuinya. Teman-teman lelaki saya yang datang ke rumah akan diinterogasinya habis-habisan. Saya tahu, semua karena Bapak nggak mau saya bergaul sembarangan.
Bapak nggak pernah marah dengan ngomel-ngomel secara langsung. Bapak cukup menunjukkan marahnya dengan diam dan saya akan segera tahu ada kemarahan di matanya. Seringnya bapak akan laporan ke ibu kalau mau menegur saya. Seperti ketika Ibu bilang, Bapak nggak suka saya deket sama seorang temen lelaki waktu SMA. Entah. Saya juga nggak tahu kenapa Bapak nggak bilang langsung ke saya.
Bapak itu kolot. Masih nggak percaya sama ATM, dan yang paling bikin kesel suka nggak percaya sama anaknya sendiri. Padahal saya nggak mungkin macem-macem. Saya jadi sering membandingkan aturan Bapak dengan orangtua teman-teman lainnya, yang lebih longgar, nggak strict, dan lebih bisa menyesuaikan keadaan dengan zaman sekarang.
Bapak nggak suka anak-anaknya sering main keluar rumah. Makanya banyak yang bilang saya anak kompleks, anak rumahan dan lain sebagainya. Jam main saya dan saudara-saudara saya sangat terbatas, bahkan sampai di usia sekarang. Jaman SMA, maghrib belum sampai di rumah, handphone saya udah bunyi terus ditelponin. Padahal udah izin juga buat ngerjain tugas. Nonton pensi di SMA sendiri pun, paling lama jam 10 udah dijemput, padahal artis utama belum keluar -_-
Dasar saya keras kepala, tetep aja saya masih suka pulang nggak sesuai jadwal. Tapi semakin ke sini, entah awalnya karena biasa terpaksa mengikuti aturan atau bagaimana, saya memang nggak suka keluar malam.
Bapak yang paling berat melepas saya untuk kerja di luar kota. Bapak yang paling mendukung saya untuk melanjutkan sekolah lagi. Beda dengan Ibu yang demokratis, Bapak lebih menginginkan saya untuk following his own path, kasarnya otoriter. Bapak lebih suka saya mengajar sepertinya. Karena saya wanita, karena bapak sudah merasakan kerja di swasta. Lagi-lagi saya keras kepala, saya memilih merasakan kerasnya bekerja di perusahaan swasta. Tapi nyatanya saya kalah, seiring berjalannya waktu saya mulai menyadari maksud Bapak.
Di antara semua saudara, saya yang paling nggak dekat dengan Bapak. Mungkin karena di antara mereka saya yang paling bandel. Kian bertambah usia, semakin jarang komunikasi saya dengan Bapak. Nggak lagi ada jalan-jalan bareng, nggak lagi ada cerita yang diawali dengan kalimat 'dulu itu', nggak lagi ada cerita tentang perjuangan sekolah Bapak dulu. Saya nggak tahu kenapa. Seringnya sekarang saya justru berdebat dengan Bapak.
Saya memang sering melanggar aturan Bapak, saya sering menggerutu dengan pemikiran Bapak yang menurut saya nggak masuk akal dan kuno, saya suka nggak nurut apa kata Bapak. Tapi saya sayang Bapak. Saya bangga sama perjuangan Bapak dulu yang dari bawah banget.
Saya sedih melihat Bapak sakit. Saya sedih melihat Bapak kepayahan melakukan apa-apa. Saya.. ah saya nggak kuat nulis banyak-banyak tentang Bapak.
Lekas sembuh Bapak. Kami rindu.


Senin, 11 Agustus 2014

Y(our) Precious Childhood Moment



Each of you, definitely has your own precious childhood moment, yang pastinya bisa bikin senyum-senyum sendiri kalo diinget-inget. Hasil bongkar-bongkar barang jaman baheula yang masih tersisa beberapa waktu lalu, membuat saya teringat  "metamorfosis diri" yang saya alami dari kecil, remaja, hingga menjalani 23 tahun ini. Mungkin bisa dikasih judul, menyusuri jejak masa lalu kali ya. Hahaha. Berhubung termasuk anak kelahiran awal 90an, jadi mulai dari kebiasaan, hobi, dan barang-barang yang dipunya beda jauh sama anak-anak jaman sekarang (yang dari batita udah dibawain tablet sama emak bapaknya -_-)
And here some stuffs that has much meaning for colouring my awesome moment.
1. Koleksi perangko
semoga beberapa tahun lagi kalau dijual dapet mahal ya guys! :p
 Yang bikin pengen ketawa waktu liat album perangko ini, pas baca identitas diri di halaman depan. SLTP. What the..jaman kapan itu sebutan SMP masih Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Hahaha. Koleksi perangko ini dimulai pada awal masuk SMP. Dan sebenernya ngumpulin perangkonya nggak start dari nol juga sih, karena tinggal nerusin perangko-perangko yang dulu udah dikumpulin tante, om, dan ibu, yang entah udah dapet berapa album. Hehe. Jadi kerjaan waktu SMP dulu itu bawa-bawa album perangko ke sekolah, tuker-tukeran perangko, mintain perangkonya temen yang suka surat-suratan sama saudara-saudaranya di luar negeri, sama ngambilin perangko dari surat-surat yang dateng ke rumah. Pokoknya hunting perangko selalu. Hidup perangko! I love philately. I am a philatelist (in that moment). Kalau sekarang sih...saya bahkan nggak tahu perangko masih dicetak atau nggak :(

2. Koleksi kertas surat
kertas suratkuu unyu-unyu sekalii
 Dari SD saya udah suka ngumpulin kertas surat. Alasannya karena lucu aja punya macem-macem kertas bergambar warna-warni. Kalau ke toko alat tulis barang yang wajib dibeli ya kertas tulis ini. Nggak cukup di situ aja, kertas-kertas surat ini dimanfaatin juga dong. Saya jadi suka surat-suratan, hehe. Kirim surat ke sepupu, ke BOBO atau ke artis-artis cilik yang lagi heiiiitttss pada saat itu. Efek dari nonton petualangan sherina, film perdana yang saya lihat di bioskop, saya jadi ngefans abiieezz sama doski (pada saat itu). Alay? Alay pada jamannya itu bukan alay kan ya namanya? Saking sukanya sampai beberapa kali pula kirim surat ke doi -_-

3. Majalah BOBO dan teman-temannya
Sebagian koleksi BOBO yang tersisa, lainnya udah jatuh ke tangan saudara atau keponakan.
 Belum lengkap masa kecilmu kalau belum kenalan sama BOBO. Majalah anak-anak yang berjaya di masanya. Nggak tahu deh kalau sekarang. Saya udah jadi pembaca setia BOBO sejak harganya masih sekitar Rp. 1.500. Sempet dikasih juga, majalah BOBO lawas dari anaknya temen orangtua, harganya masih sekitar Rp. 300. Duuh tahun berapa deh itu belinya. Bayangkan kalau BOBO itu sama kayak kita-kita semua, sudah setua apa coba si BOBO. Terima kasih BOBO. Sudah mengajariku menulis dan membaca, juga menghiburku dengan cerita-cerita lucumu #ilovebobo #temanbermaindanbelajar #temanbobo #savebobo

4. Tabloid Fantasi dan sejenisnya
baca ini duluu biar nggak ketinggalan informasi yg up to date
 Kalau waktu SD bacaannya BOBO, menginjak SMP bacaannya jadi tabloid. Yang sering saya baca saat itu judulnya tabloid Fantasi. Kadang-kadang juga baca tabloid Gaul, biar gaul gitu. Masa SMP ini kayak masa peralihan ya. Udah nggak anak-anak, tapi kalau mau disebut remaja juga nanggung. Baca tabloid gini sih cuma karena suka baca cerpen-cerpen atau berita-berita artis yang lagi ngetren. Diih..gosiip banget ya gueeee. Sekarang udah tobat ah. Hahaha.

5. Majalah GADIS, KAWANKU, dan lainnya.
GADIS, bacaannya para gadis remaja :)

KAWANKU, pasti jadi kawan kita semua *mau promosi tapi failed banget*
 And finally...tadaaaa!!! Waktu SMA bacaannya naik kelas jadi baca majalah GADIS dan KAWANKU. Remaja cewek bangeeet kan bacaannya :p Selain dua majalah tadi, Olga, Aneka Yess, atau Go Girl juga jadi favorit. Kalau dulu di kelas sih biasanya ada yang suka bawa majalah-majalah cewek gini, terus pas pelajaran suka diputerin gitu ke anak-anak sekelas. Jangan dicontoh yah adek-adek. Pada saat pelajaran hendaknya kalian belajar yang rajin, bukan baca majalah remaja yang dirajinin. Berhubung bacaannya anak SMA, tips-tips mulai dari pergaulan, ramalan bintang, kesehatan, pertemanan, kecantikan, sampai cinta monyet juga tersedia di sini. Komplit. Pokoknya majalah-majalah ini kalau dibaca sekarang bikin geli sendiri. Pernah yah saya se"remaja" itu? *cubit lengan sendiri*

Sudah lebih di usia kepala dua, sekarang jatahnya sih baca Femina atau Kartini gitu ya. Tapi berhubung kantong cekak, bacanya numpang di public area aja deh, waktu nunggu servis motor atau dokter gigi contohnya. Hahaha. Lagipula kemudahan ber"online" kapanpun, di manapun juga membuat kita nggak harus susah-susah dateng ke loper majalah buat  beli majalah atau tabloid kesukaan. That's why (may be) some magazine publishers have troubles to increase their sales. Dengan kata lain, penjualannya pasti turun karena tergerus penggunaan digital media. Yaah mau gimana lagi, waktu terus berjalan, zaman juga berubah

Everyone has its own memories, save yours. And someday, don't forget to catch your own back. It will heal you from your missing in your past moment. Blissful love! kisses:)